
Siangnya, Raka dan Jiana bersiap untuk kembali ke Jakarta. Liburannya kali ini gagal total karena kondisi Jiana yang kurang sehat. Sebelum mereka kembali, Raka sudah memberitahukan kabar ini pada dokter pribadinya, dokter Faye. Raka juga sempat berkonsultasi dengan dokter Faye sedikit. Dan, jawaban yang diberikan sama seperti saran dari dokter Melly.
Dibantu oleh pak Rio, mereka mulai bersiap untuk pulang. Raka mengurus administrasi, sedangkan Jiana masih duduk di kursi roda di dalam ruangannya. Pak Rio membawakan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil.
Setelah mengurus administrasi rumah sakit, Raka kembali untuk menghampiri istrinya sekaligus berpamitan dengan dokter Melly. Ia berjalan menuju ruangan di mana Jiana dirawat.
Sesampainya di sana, Raka langsung memeluk istrinya dari belakang yang tengah duduk di kursi roda. Ia mendaratkan satu ciuman lembut di pipi mulus istrinya itu. Mereka tersenyum tipis.
"Sudah siap?" tanya Raka. Jiana mengangguk pelan. Raka mendorong kursi roda yang di tempati istrinya itu keluar ruangan. Di luar sudah ada dokter Melly yang menyambut mereka.
"Hati-hati di jalan ya pak, bu. Semoga lekas sembuh bu Jiana," ucap dokter Melly dengan ramah.
"Terima kasih dok, sudah bersedia merawat istri saya. Kalau begitu kami pamit dulu," ucap Raka.
"Sama-sama pak. Oh iya, jangan lupa diminum obatnya ya bu, dan rutin untuk mengecek kandungannya ke dokter." Pesan dokter Melly.
"Terima kasih dokter," jawab Jiana. Raka kembali mendorong kursi roda itu hingga ke tempat mobil. Lalu ia mengangkat tubuh istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Pak Rio mengembalikan kursi roda tersebut. Kemudian ia mulai mengemudikan mobilnya menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan, Jiana tertidur di dalam dekapan suaminya. Dua hari ini ia tidak bisa istirahat dengan jenak. Entah mengapa berada di dalam dekapan suaminya membuatnya nyaman.
Raka mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. Tangan satunya tak luput dari ponselnya. Ia menyuruh Farrel untuk menyiapkan segalanya saat mereka tiba di Jakarta. Dan sampai detik ini, keluarga mereka belum ada yang tahu tentang kabar ini. Setelah selesai dengan urusannya, Raka memasukkan ponselnya lalu kembali fokus pada istrinya.
__ADS_1
Setelag menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya kini mereka tiba di salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta. Raka memang langsung menuju ke rumah sakit. Ia tidak bisa membahayakan nyawa istrinya.
***
Saat ini Jiana sudah berbaring di atas ranjangnya. Ia tertidur dengan pulas, mengingat sudah dua hari ini ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Raka dan dokter Faye berkonsultasi tentang kondisi Jiana dan membahas cara apa yang aman untuk istrinya.
"Dok, jika kami menggugurkan kandungannya apakah masih ada harapan untuk kami memiliki seorang anak?" tanya Raka. Ia ingin memastikan terlebih dahulu hal terburuk yang akan terjadi nanti. Bagaimanapun ia akan menghadapinya juga.
"Bisa, tetapi mungkin sedikit sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa hamil ya," jawab dokter Faye dengan santai. Ia sambil mengamati hasil pemeriksaan Jiana sebelumnya dan hari ini.
"Asal setelah pengguguran kandungannya segera melakukan terapi rutin. Raka, aku tahu semua ini berat buat kalian. Tetapi, inilah yang terbaik untuk istrimu," ucap dokter Faye. Raka menghembuskan napas panjang.
"Setiap kali aku mau memberitahunya, aku tidak sanggup melakukannya. Melihatnya begitu bahagia dengan kehamilannya saat ini membuatku tidak tega," jawab Raka sambil menatap dokter Faye dengan sendu. Dokter Faye hanya mengangguk tipis sambil menampilkan senyumnya tipis sekali. Kemudian ia lanjut untuk mengamati perkembangan kondisi Jiana.
"Jadi, kamu sudah siap untuk melepas calon anakmu? Kalau begitu, aku akan atur jadwal untuknya melakukan operasi kecil," ucap dokter Faye. Ia menyiapkan surat untuk persetujuan yang akan ditandatangani oleh Raka.
Raka mengambil kertas yang berisi persetujuan itu. Ia membacanya terlebih dahulu sebelum menandatanganinya.
"Sebenarnya kondisi istrimu belum terlalu parah. Untungnya usia kandungannya masih satu bulan. Aku bisa saja menyuntikkan obat biar seolah-olah ia keguguran alami. Mungkin mau coba cara ini?" ujar dokter Faye. Raka berpikir sejenak. Ia mempertimbangkan keputusannya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Berikan aku waktu sedikit lagi boleh?" pinta Raka memelas. Dokter Faye menghela napasnya sejenak.
"Bukan tidak boleh, tapi jangan terlalu lama. Aku akan memberikanmu waktu sampai besok. Sebaiknya beritahu istrimu saja tentang masalah ini," ucap dokter Faye. Raka tersenyum tipis dan mengangguk paham. Kemudian ia pamit untuk menemui istrinya.
Sebelum itu, ia mengabari ibu dan mertuanya jika Jiana masuk rumah sakit dan kini tengah dirawat di sana. Namun, Raka belum menceritakan perihal kehamilan istrinya. Mereka begitu terkejut dengan kabar ini. Apalagi, terakhir kali mereka tahu jika Raka dan Jiana sedang liburan. Mendengar kabar tersebut, orang tua Jiana langsung bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi Jiana.
Raka menyandarkan dirinya pada dinding. Ia menatap ke atas sambil menghela napasnya. Setelah itu, ia kembali ke dalam ruangan untuk menemui istrinya. Ia melihat istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya. Raka mendekati istrinya dan mengecup keningnya dengan lembut. Ia duduk di kursi samping ranjang yang ditempati istrinya.
Beberapa menit berlalu. Desi dan Alex sudah sampai di rumah sakit. Setelah mendengar kabar tersebut, mereka begitu panik dan khawatir. Jiana adalah putri mereka satu-satunya. Wajar jika mereka begitu panik dan ketakutan.
"Sebenarnya sakit apa dia? Kenapa Jiana terlihat begitu lemah?" tanya Desi dengan panik.
"Ma, Pa, kita bicara di sana saja. Raka akan menceritakan kondisi Jiana saat ini," ucap Raka sambil menunjuk ke arah sofa. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung menuju ke sofa dan duduk di sana.
"Ma, Pa, sebenarnya Jiana sedang hamil," tutur Raka dengan sendu dan tersenyum getir. Desi dan Alex saling memandang. Pasalnya, ini adalah berita baik. Tetapi, ekspresi dari menantunya membuatnya bertanya-tanya.
"Namun, kehamilan Jiana kali ini justru membuat nyawanya dalam bahaya. Jiana mengalami ektopik Ma, Raka bingung harus bagaimana. Jika tidak segera digugurkan akan membahayakan istri Raka sendiri," ucap Raka sambil menunduk. Ia bahkan tak kuasa menatap kedua mertuanya.
Desi dan Alex sangat terkejut. Mereka ikut sedih atas cobaan yang menimpa anak dan menantunya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Jiana mendengar segala yang mereka bicarakan. Sebenarnya, ia sudah bangun sejak kedua orang tuanya datang. Namun, ia urungkan karena ia ingin mendengar apa yang mereka bicarakan. Tak disangka, justru itu adalah kenyataan yang pahit. Kenyataan yang tidak ingin ia dengar. Tanpa membuka matanya, Jiana mencengkram seprei kasurnya dan meneteskan air matanya. Sudah berhari-hari namun baru kali ini ia tahu yang sebenarnya. Hatinya hancur, apalagi suaminya menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Jiana menggigit bibir bagian bawahnya agar tidak bersuara. Tangisnya pecah kala mendengar kenyataan tersebut.