
Jiana berjalan dengan kesal sambil menuju ke ruangannya. Meskipun ia tidak tahu hubungan Raka dengan wanita tadi, tetapi dilihat dari reaksi mereka pasti mereka sangat dekat dulunya.
"Siapa dia? Kenapa Raka tidak pernah cerita tentang ini padaku?" batin Jiana penasaran.
Akhirnya sampai juga Jiana di ruangannya. Ia terlihat suram. Jiana hanya diam tanpa melakukan apapun. Ia termenung dalam pikirannya. Suaminya berpelukan dengan wanita lain di depannya. Itu membuatnya kesal dan marah.
"Apaan sih dia, aku baru ngobrol sama pria lain saja dia sudah marah. Tapi dia sendiri justru berpelukan dengan wanita lain? Dan itu di depan mataku sendiri! Menyebalkan!!" gumam Jiana semakin kesal. Ia meremas berkas yang ada di mejanya tanpa sadar.
"Ji, bukankah itu laporan yang baru saja kamu kerjakan? Apakah ada yang salah?" tanya Sarah saat melihat Jiana meremas berkas tersebut. Jiana terkejut dan langsung melihat apa yang ia remas tadi.
"Yah, berkasnya..." ucap Jiana pelan. Karena kekesalannya, tanpa sadar ia merusak berkasnya sendiri. Sarah menatap Jiana bingung dari meja kerjanya. Sepulang dari makan siang Jiana terlihat aneh tidak seperti biasanya.
Sarah menghampiri Jiana. Ia berdiri di belakang kursi Jiana. Ia menepuk bahu Jiana dengan pelan.
"Ada apa? Marahan lagi sama suamimu?" tanya Sarah. Jiana hanya mendengus kesal. Ia tidak ingin membahas masalah itu saat ini. Sarah yang tahu jika Jiana tidak mau cerita sekarang hanya tersenyum lalu kembali ke meja kerjanya.
Tak lama setelah itu, Raka datang menghampiri Jiana dan langsung menarik Jiana untuk mengikutinya. Jiana memberontak namun ia sadar jika mereka sedang berada di kantor.
"Lepasin aku!" bisik Jiana.
"Kalau kamu tidak mau semua memperhatikan kita, menurutlah sayang," balas Raka. Mau tidak mau Jiana ikut dengan Raka. Raka membawa Jiana ke ruangannya.
__ADS_1
Sampai di dalam ruangan, Jiana duduk di sofa dan masih mengacuhkan Raka. Raka menghampiri Jiana. Ia menatap Jiana dengan lekat.
"Kenapa kamu tadi tiba-tiba pergi? Bahkan kita belum selesai makan siang," ujar Raka memecah keheningan. Jiana masih terdiam dalam posisinya.
"Lihatlah dia! Istri mana yang akan tahan jika suaminya berpelukan dengan wanita lain," gumam Jiana.
"Kamu marah?" tanya Raka sekali lagi. Karena Jiana tidak menjawab pertanyaan Raka tadi.
"Kamu pikir? Kenapa aku tiba-tiba pergi tadi? Jangan sok berlagak tidak terjadi apapun Raka! Kamu berpelukan dengan wanita tadi dan bahkan kamu mengacuhkanku! Siapa yang akan tahan dengan situasi itu?" ucap Jiana marah. Ia memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Raka sedikitpun.
"Hahahahaha..." Raka tertawa keras. Jiana hanya meliriknya sekilas.
"Sudahlah jangan marah lagi. Tidak ada wanita yang bisa menggantikanmu dihatiku, percayalah," ucap Raka sambil merangkul Jiana. Ia berbisik di dekat telinga Jiana.
"Benarkah? Kamu bisa menjamin kalau kamu tidak ada hubungan apapun dengannya selain sahabat?" tanya Jiana memastikan. Raka mengangguk dengan yakin. Perlahan kekesalan Jiana mulai pudar. Ia juga tidak ingin berlama-lama marahan dengan Raka.
Tanpa terasa, kini sudah waktunya pulang kerja. Setelah perdebatan tadi, Jiana tidak kembali ke ruang kerjanya melainkan tinggal di ruangan Raka. Beberapa minggu lagi ia akan resign dari pekerjaannya dan fokus pada skripsinya.
Raka dan Jiana berjalan beriringan menuju lobi. Sebelum sampai di depan kantor, Sandra menghentikan langkah mereka. Jiana menatap Sandra dengan tatapan penuh curiga. Ia harus siap siaga jika Sandra berbuat sesuatu padanya nanti.
"Jiana maafkan saya. Saya sudah bersikap kurang sopan terhadapmu. Maaf karena saya dengan tidak tahu malunya mencoba merebut pak Raka darimu," ucap Sandra dengan tulus. Meskipun ia sangat mencintai Raka namun kenyataannya membuatnya harus melepas Raka. Ia telah sadar dengan perbuatannya.
__ADS_1
Jiana menatap Raka sejenak. Raka mengisyaratkan dengan menganggukkan kepalanya. Jiana tersenyum tipis. Ia menyentuh lengan Sandra dan mereka saling menatap satu sama lain.
"Jangan ulangi lagi ya, jika sampai itu terjadi aku akan membunuhmu!" ucap Jiana serius. Membuat tubuh Sandra gemetar karena takut. Jiana tertawa kecil. Ia hanya menggertak Sandra namun reaksi Sandra justru ketakutan.
"Kalau begitu kami pamit dulu, daah Sandra," ucap Jiana. Ia dan Raka pamit untuk pulang. Sandra menatap mereka sampai menghilang dari pandangannya.
"Aku akan resign dari pekerjaanku. Jika tidak, aku takut cintaku pada pak Raka akan semakin besar dan membutakanku," batin Sandra. Ia sudah siap untuk melepas segala rasa yang ia miliki untuk Raka.
Raka melajukan mobilnya menuju rumah. Ia melirik Jiana sekilas. Istrinya terlihat lebih senang daripada biasanya. Mungkin Sandra sangat berpengaruh besar pada suasana hatinya.
Tak lama setelah itu, mereka sampai di rumah. Jiana dan Raka segera masuk ke dalam rumah. Saat mereka sampai di ruang tamu, mereka dikejutkan dengan kedatangan Niha yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu. Raka dan Jiana saling menatap.
"Eh, kalian sudah pulang. Maaf, tidak mengabari kalian terlebih dahulu. Aku ke sini hanya ingin berkunjung dan menjalin silaturahmi," ucap Niha sambil berdiri. Ia menampilkan senyum cerahnya. Raka mencium kening Jiana sekilas. Ia mengabaikan Niha dan pamit untuk ke kamar terlebih dahulu. Jiana menatap Niha dengan sinis. Ia mempersilakan Niha untuk duduk.
"Ada perlu apa ya? Mau bertemu dengan suami saya?" tanya Jiana tanpa basa-basi. Niha tersenyum sekilas.
"Aku dan Raka teman baik, wajarkan kalau aku ingin bertemu dengannya? Karena kami sudah lama tidak bertemu," balas Niha dengan lembut dan anggun. Jiana memutar bola matanya dengan malas. Tanpa diucapkan, niat Niha sudah bisa ditebak olehnya. Niha ingin kembali mendekati Raka setelah ia balik ke Indonesia.
"Maaf, tapi suami saya lagi butuh istirahat. Kalau tidak ada hal lain lagi, silakan pergi," ucap Jiana. Ia berdiri dan meninggalkan Niha di ruang tamu. Jiana menuju dapur dan meminta bi Lastri agar tidak membukakan pintu untuk Niha lain kali. Setelah itu Jiana menyusul Raka di kamarnya.
Merasa diabaikan, Niha pergi begitu saja dari rumah Raka. Kali ini ia gagal untuk bertemu dengan Raka, namun tidak untuk lain kali. Kembalinya ia ke Indonesia hanya karena Raka. Niha sudah memendam perasaannya sejak mereka masih kuliah dulu. Kali ini ia ingin mengungkapkan perasaannya namun siapa sangka Raka bahkan sudah menikah tanpa mengabarinya.
__ADS_1