Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 81


__ADS_3

Pagi harinya, Raka sudah siap untuk pergi ke kantor. Sedangkan Jiana masih terlelap dalam tidurnya. Raka sedang bercermin sambil membenahi dasinya. Sesekali ia melirik istrinya yang nampak kelelahan akibat ulahnya. Raka tersenyum tipis dan kembali fokus pada cerminnya.


"Mas, sudah mau berangkat ya?" tanya Jiana sambil mengubah posisinya untuk bersandar. Raka mengangguk tipis sambil tatapannya masih terfokus pada cermin.


"Kalau masih capek, istirahat saja sayang," ujar Raka. Ia menuju ke ranjang dan duduk di sana. Jiana hanya tersenyum tipis.


"Aku siapkan sarapan sebentar ya mas," ucap Jiana. Ia ingin beranjak dari ranjangnya. Namun, Raka menahan Jiana dengan memegang tangannya.


"Tidak perlu, bi Lastri sudah menyiapkannya," balas Raka.


"Aku berangkat dulu ya. Nanti biar aku suruh bi Lastri mengantar sarapan kamu ke sini," ujar Raka. Ia mencium kening Jiana dengan lembut.


Jiana hanya menatap suaminya yang keluar kamar sambil membawa tas kerjanya. Pagi ini ia benar-benar lelah dan ingin istirahat sebentar. Untungnya, suaminya begitu pengertian padanya.


"Bi, nanti tolong bawakan sarapan ke kamar Jiana ya," ucap Raka setelah selesai sarapan. Bi Lastri menjawabnya dengan anggukan. Kemudian, Raka pamit untuk bekerja.


***


Di kantor, Niha sedang menunggu kedatangan Raka. Hari ini perusahaan tempat ia bekerja ada pertemuan dengan Raka. Niha sengaja menunggu Raka di kantornya berharap ia bisa bertemu secara pribadi dengannya. Saat ini ia berada di lobi sambil menatap ke arah pintu masuk.


"Farrel, untuk meeting hari ini sudah disiapkan?" tanya Raka sambil berjalan menuju ruangannya.


"Semua sudah siap tuan, kita hanya tinggal menunggu mereka datang ke kantor kita," jawab Farrel. Raka mengangguk paham.

__ADS_1


Melihat kedatangan Raka, Niha langsung bergegas menghampirinya. Dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya, berharap laki-laki itu mau bertemu dengannya.


"Raka," ujar Niha.


"Kamu sepagi ini ke kantorku ada urusan apa? Bukannya kamu juga harus kerja?" tanya Raka sambil mengernyitkan dahinya.


"Mmm... Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Niha. Raka terdiam sejenak sebelum mengangguk untuk mengiyakannya. Dan akhirnya mereka bertiga melangkah menuju ruangan Raka.


Sesampainya di ruangan, Niha hanya terdiam sambil melirik ke arah Farrel. Berharap jika Farrel meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Raka hanya acuh dan justru fokus dengan laptop yang ada di depannya. Cukup lama mereka sama-sama terdiam.


"Jika tidak ada yang penting, kamu bisa keluar! Aku masih harus bekerja," ucap Raka sambil menatap Niha.


"Maaf, bisakah asistenmu ini keluar sebentar?" ucap Niha.


Niha berjalan menghampiri Raka. Ia berdiri di samping Raka sambil menatapnya. Sedangkan Farrel berdiri tak jauh dari mereka.


"Bagaimana kabar Jiana?" tanya Niha.


"Baik," jawab Raka tanpa menatap Niha. Lalu Niha tersenyum tipis.


"Aku dengar dia habis keguguran. Pasti kalian sangat sedih ya," ucap Niha dengan hati-hati. Raka menghela napasnya sejenak. Kehadiran Niha membuatnya tak nyaman.


"Niha, kamu tahu kan sebentar lagi akan ada meeting penting. Jadi, aku mohon sama kamu jangan menggangguku dulu. Aku rasa kamu paham tentang ini," ucap Raka sedikit kesal.

__ADS_1


"Raka, kamu itu sadar gak sih kalau aku sedang berusaha mendekatimu? Kenapa kamu jadi seperti ini? Dulu kita sahabat kan?" ucap Niha yang tidak terima dengan perlakuan Raka kepadanya. Raka memejamkan matanya sejenak agar dirinya tak terbawa dalam suasana.


"Nona maafkan saya, Anda harus pergi sekarang," ujar Farrel karena ia tahu Raka sudah tidak nyaman dengan keberadaan wanita itu. Raka hanya terdiam dan bersikap dingin padanya.


Tanpa pikir panjang, Niha berjalan menuju pintu. Namun sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan itu, ia kembali menatap Raka.


"Aku akan kembali dan berusaha mendapatkan cintamu Raka," gumam Niha. Lalu ia keluar tanpa berkata apapun lagi.


Raka kembali melanjutkan pekerjaannya dan menyiapkan untuk meeting nanti.


***


Di tempat lain, Jiana sedang menikmati sarapannya. Namun kali ini ia makan di dalam kamar. Selesai makan, ia menuju ke dapur sambil membawa piring kotornya.


"Biar bibi saja, nyonya silakan istirahat," ucap bi Lastri sambil mengambil alih nampan yang dibawa Jiana. Jiana hanya tersenyum tipis lalu menyerahkan nampan tersebut.


"Apakah mama mengganggumu sayang?" ucap mama Mira secara tiba-tiba yang mengagetkan Jiana. Jiana berbalik dan menatap mama mertuanya yang sudah berdiri di belakangnya.


"Mama," ucap Jiana. Ia berhambur memeluk mama mertuanya itu yang disambut hangat olehnya.


"Maaf Ma, Jiana jarang ke rumah mama," ucap Jiana.


"Mama paham kok sayang. Oh iya, ini mama bawakan kurma muda buat kamu. Kata teman mama sih ini bagus untuk wanita yang sedang program hamil," ucap mama Mira sambil menyerahkan kantung yang berisi kurma muda.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya Ma," ucap Jiana. Ia meletakkan kurma muda tersebut ke meja lalu mempersilakan mama Mira menuju ruang tengah. Mereka mengobrol santai dan saling bertukar cerita.


__ADS_2