
Setelah berbincang, bu Irin mempersilakan Jiana untuk makan. Mereka berdua makan siang bersama setelah memastikan anak-anak sudah mendapatkan jatah makan siang. Rata-rata yang bu Irin asuh adalah mereka yang masih berumur di bawah sepuluh tahun. Beberapa dari mereka ada yang sudah bersekolah.
Hari semakin sore. Mentari perlahan menutup diri. Senja pun mulai tiba. Karena ada beberapa hal yang harus Raka urus, sehingga ia sedikit terlambat untuk menjemput istrinya. Namun Jiana memakluminya. Ia juga masih betah tinggal di sana.
Suara mobil memasuki halaman. Pertanda bahwa Raka telah tiba. Kali ini ia diantar oleh Farrel. Setelah turun dari mobil, ia segera mencari keberadaan istrinya.
"Farrel, bagikan makanan ini untuk mereka. Pastikan mereka mendapatkan tanpa kurang satu pun," perintah Raka. Ia sengaja menyiapkan bingkisan dan makanan ringan untuk mereka.
"Baik tuan," ucap Farrel. Ia mulai mengeluarkan bingkisan tersebut dan membagikannya kepada anak-anak itu.
"Terima kasih pak, sudah mau repot untuk menyenangkan mereka," ucap bu Irin.
"Tidak kok bu, saya senang jika mereka suka dengan hadiah kecil ini," balas Raka.
Setelah itu, Raka dan Jiana pamit untuk pulang. Mereka juga berpamitan kepada anak-anak.
"Tante jangan pulang," ucap salah satu dari mereka yang Jiana ketahui bernama Maura. Jiana menatap Maura dan mendekatinya. Putri kecil itu nampak murung dan tak ingin Jiana pergi dari sana.
"Tante harus pulang sayang. Tante janji, besok akan ke sini lagi menemani Maura ya," ucap Jiana dengan lembut. Maura menggeleng pelan. Ia menggenggam pergelangan tangan Jiana dengan erat.
"Kenapa?" tanya Jiana. Ia mengusap rambut Maura dengan lembut. Sesaat, Maura mulai menangis dan Jiana langsung menggendongnya. Anak perempuan yang masih berusia empat tahun itu nampak tidak rela jika Jiana pulang.
"Mas," ujar Jiana sambil menatap suaminya. Raka mendekati Jiana dan mengusap rambut Maura dengan lembut.
__ADS_1
"Bu, boleh kita bawa pulang untuk malam ini saja? Sepertinya Maura tidak ingin pisah dengan Jiana," ujar Raka. Bu Irin mengangguk dan memberikan izin untuk membawa Maura.
"Baiklah, Maura ikut tante pulang mau?" tanya Jiana antusias.
"Emang boleh tante?" tanya Maura pelan.
"Boleh dong sayang. Tante seneng banget kalau Maura mau ikut tante pulang," balas Jiana. Maura mengangguk cepat dan langsung tersenyum senang. Akhirnya, Raka dan Jiana membawa Maura pulang ke rumah.
***
Pukul 21.00 mereka baru sampai di rumah. Karena mereka membawa Maura pergi ke mall dan sekalian jalan-jalan. Hingga akhirnya Maura terlelap karena terlalu lelah.
"Sayang, biar aku yang bawa Maura ke kamar," ucap Raka.
"Baiklah," balas Raka. Lalu ia mencium pipi Jiana sekilas.
Jiana menuju ke kamarnya dengan menggendong Maura, sedangkan Raka ke ruang kerjanya. Sesampainya di kamar, Jiana membaringkan Maura dengan pelan lalu menyelimutinya. Jiana mengusap kening Maura lalu tersenyum tipis.
Raka berjalan pelan mendekati Jiana. Ia duduk di samping istrinya lalu mendekapnya. Mereka saling pandang lalu tersenyum.
"Mas, bagaimana kalau kita mengadopsi Maura saja?" tanya Jiana. Raka menyandarkan dagunya ke bahu istrinya. Ia memeluk Jiana dengan erat.
"Kamu yakin?" tanya Raka memastikan. Jiana mengangguk dengan yakin.
__ADS_1
"Oke, besok biar mas yang urus semuanya," ucap Raka mengiyakan.
"Serius mas? Boleh?" tanya Jiana tak percaya. Raka tersenyum. Lalu ia mengecup bibir Jiana sekilas. Raka bisa melihat guratan bahagia pada rona wajah istrinya.
"Asalkan itu bisa membuat istriku bahagia, aku akan melakukannya. Meskipun kamu memintaku untuk mengambil rembulan sekalian, aku pasti akan pergi dan mengambilnya untukmu," ujar Raka sambil membelai rambut Jiana dan memandangi wajahnya. Jiana tertawa lebar mendengar rayuan suaminya itu.
"Jangan lebay deh, haha. Tapi, terima kasih ya mas... Kamu selalu memberikan kebahagiaan untukku. Mama tidak salah menikahkanku denganmu dulu. Seandainya aku menolak dan menikah dengan orang lain, aku tidak yakin jika..."
"Sssttt..." Telunjuk Raka tepat berada di depan bibir Jiana.
"Karena aku mencintai istriku, jadi aku akan berusaha membahagiakanmu," ucap Raka. Ia mengecup kening Jiana dengan lembut. Jiana hanya tersenyum tipis.
"Sayang," panggil Raka setelah menyudahi kecupannya.
"Ya?" jawab Jiana.
"Yang... Sayang," ujar Raka sambil menatap Jiana dengan manja. Lalu ia menyandarkan dagunya pada bahu Jiana. Raka mengecup leher Jiana berupang kali.
"Eh, mas... Ada Maura di sini," ucap Jiana dengan pelan. Namun, Raka tidak mempedulikannya. Ia mengeratkan pelukannya dan bibirnya sudah menjelajahi area leher istrinya.
Beberapa saat kemudian, Raka menyudahi aktivitasnya. Ia menatap istrinya dan tersenyum tipis.
"Sudahlah, kamu pasti lelah kan? Ayo kita tidur," ucap Raka. Jiana mengangguk dan mereka mulai berbaring di atas ranjang dengan posisi Maura berada di antara mereka.
__ADS_1