
"Ji, kamu kenapa sih? Ada masalah sama suami kamu?" tanya Sarah yang menatap Jiana dengan aneh. Jiana hanya menggeleng pelan.
"Cerita sama aku Ji, jangan seperti ini," ucap Sarah dan menepuk pelan bahu Jiana.
"Aku bingung mau cerita dari mana," ujar Jiana. Ia mengaduk minuman yang ada di depannya. Sarah mengernyitkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Jiana.
Jiana menghela napasnya sejenak. Ia menatap Sarah dengan lekat.
"Satu minggu yang lalu, Raka ngajak aku jalan setelah aku pulang ngampus. Tapi waktu aku tungguin di kampus dia tidak datang-datang. Aku juga sudah menelponnya. Aku sudah menunggu di sana berjam-jam tapi pada akhirnya dia ingkar janji kan," ucap Jiana kesal.
"Ya mungkin pak Raka lagi sibuk. Kamu tahu sendiri kan dia itu direktur di perusahaannya," ucap Sarah.
"Ya setidaknya dia itu balas pesanku gitu. Tapi nyatanya apa? Nggak ada satupun yang dia balas. Justru setelah aku memutuskan untuk pulang, dia baru mencariku. Semenjak saat itu aku.. Aku marahan sama dia," ujar Jiana. Ia menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi kamu nggak boleh sampai cuekin suami kamu seperti ini Ji. Apa pak Raka tidak menjelaskan sesuatu kepadamu? Pasti ada alasannya kenapa pak Raka sampai lupa dengan janjinya Jiana," ujar Sarah. Bagaimanapun tak seharusnya Jiana semarah ini.
"Bodo amat! Aku sudah terlanjur kesal padanya. Biarin saja.." ucap Jiana jutek. Ia kembali mengaduk minumannya dan menyesapnya.
Mereka saat ini berada di kafe favorit mereka berdua. Tempat paling nyaman untuk menghabiskan waktu bersama sepulang kuliah dengan Sarah. Mereka sudah sering ke kafe itu. Tetapi semenjak Jiana menikah, mereka jarang datang ke kafe ini. Sarah juga memakluminya. Karena masih ada hal yang harus Jiana urus setelah menjadi seorang istri. Ia tidak bisa sebebas dulu sebelum menikah.
Cukup lama mereka berada di sana. Akhirnya Jiana memilih untuk pulang lebih dulu. Sebenarnya marahan dengan suaminya membuatnya merasa bersalah juga. Tetapi ia benar-benar kesal, merasa dibohongi oleh suaminya sendiri.
"Dari mana?" tanya Raka yang sudah berdiri di dekat meja makan. Menatap Jiana dengan tajam. Jiana menoleh dan menyengir ke arah suaminya. Ia urungkan untuk menaiki tangga. Jiana berjalan pelan menuju tempat Raka.
"Dari kampus, terus ketemu sama Sarah. Kenapa?" jawab Jiana santai. Ia berjalan menuju almari es. Membukanya dan mengambil minuman dingin. Jiana duduk di kursi dan mulai meminumnya.
Raka mengikuti Jiana. Ia menarik tangan Jiana dan langsung mendorongnya hingga bersandar di almari es. Raka mengunci pergerakan Jiana dan tangan satunya mencengkram dagu Jiana. Raka ******* bibir Jiana sedikit kasar.
__ADS_1
"Kenapa tidak membalas pesanku tadi? Mama tadi ke sini. Mama menanyakan kamu," ucap Raka dan masih menatap Jiana dengan lekat.
"Aku nggak buka ponsel tadi," jawab Jiana. Ia memalingkan wajahnya.
"Sampai kapan kamu akan menghindariku Jiana?" tanya Raka dengan lembut. Namun Jiana hanya diam. Sebenarnya hari ini ia ingin menyudahinya. Ia juga tidak bisa terus-terusan diam-diaman seperti ini.
"Entahlah," jawab Jiana asal.
Raka menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar. Matanya masih setia menatap Jiana.
"Sepertinya aku harus menghukummu sayang," bisik Raka. Ia menyeringai ke arah Jiana. Jiana sontak mendongak dan tatapan mereka beradu. Raka menggendong istrinya hingga menuju kamar mereka.
"Eh, apa yang kamu lakukan? Turunin aku Raka," ujar Jiana dan memukul-mukul dada suaminya. Namun Raka tidak menghiraukannya.
__ADS_1