Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 91


__ADS_3

Tiga hari kemudian..


Hari ini Jiana sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama berada di rumah sakit, Raka tak pernah meninggalkannya meskipun pekerjaan kantornya sedang menunggunya.


"Hati-hati sayang," ucap Raka sambil membantu Jiana keluar dari mobil. Jiana tersenyum tipis.


"Iya mas," jawab Jiana. Mereka memasuki rumah dan disambut oleh bi Lastri. Sedangkan Maura masih berada di rumah orang tua Jiana.


"Istirahatlah dulu. Kamu mau makan apa? Biar aku buatkan. Atau mau dibelikan sesuatu?" tanya Raka. Saat ini mereka sudah berada di kamar. Jiana menggeleng pelan. Tiga hari ini nafsu makannya menurun drastis. Ia bahkan tak ada selera makan sama sekali. Ditambah lagi, sering mual dan muntah yang hampir setiap pagi ia lalui.


"Dari tadi kamu belum makan sayang. Kasihan bayi kita," tutur Raka dengan lembut. Ia membelai rambut istrinya dan tatapannya begitu teduh.


"Baiklah, aku mau makan bubur ayam tapi harus kamu yang memasaknya sendiri," ujar Jiana. Terlihat senang diraut wajah Raka. Ia segera berganti baju dan memulai memasak untuk istrinya. Meskipun dengan bantuan bi Lastri, namun Raka cukup mahir untuk memasak bubur ayam itu.


Beberapa saat kemudian, Raka kembali ke kamar sambil membawa makanan yang Jiana inginkan.


"Sayang, makanlah dulu," ucap Raka antusias. Namun Jiana tidak ada di tempat tidurnya. Ia segera menuju ke kamar mandi dan benar saja, Jiana sedang berada di sana. Ia terlihat lemas dan pucat. Raka segera mendekati istrinya. Ia menggendong istrinya untuk kembali ke ranjang.

__ADS_1


"Apa perlu aku telepon dokter Faye?" tanya Raka. Jiana menggeleng pelan.


"Tidak perlu. Ini umum terjadi sayang. Mana? Aku ingin makan bubur sekarang," ucap Jiana. Raka segera mengambil mangkuk berisi bubur itu. Ia menyuapi istrinya hingga makanan itu habis.


***


Siangnya, Raka bergegas menuju rumah orang tua Jiana untuk menjemput putrinya. Meskipun gadis kecil itu tak rewel sama sekali, tetap saja Raka tidak ingin merepotkan mertuanya.


"Assalamu'alaikum Ma," ucap Raka saat memasuki rumah mertuanya.


Raka berjongkok dan segera memeluk Maura. Ia mencium pipi dan kening Maura. Gadis kecil itu nampak begitu senang dengan kedatangan papanya. Mama dan papa Jiana hanya tersenyum menyaksikan mereka berdua.


"Maura tidak nakal kan?" tanya Raka. Ia menggendong Maura dan duduk di ruang tengah bersama mertuanya. Maura menggeleng dengan cepat.


"Tidak kok. Maura tidak nakal," jawab Maura.


"Biarkan dia di sini untuk beberapa hari lagi Raka. Jiana kan perlu banyak beristirahat," ujar Alex.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Pa. Raka tidak ingin merepotkan kalian," jawab Raka lalu tersenyum tipis.


"Haih, ya sudah... Kalau butuh bantuan jangan lupa hubungi kami ya," seru mama Desi. Raka mengangguk.


Tak lama ia berada di sana. Setelah mengobrol dan menghilangkan penatnya untuk sejenak, ia bergegas untuk pulang.


***


Suara mobil terdengar di halaman rumah mereka. Raka langsung turun dan menggendong Maura masuk ke dalam.


"Mas, kenapa tidak bilang kalau mau jemput Maura?" tanya Jiana saat melihat mereka datang. Saat ini ia sedang membantu bi Lastri menyajikan makanan.


"Aku tidak tega membangunkanmu sayang," jawab Raka. Ia mengecup kening istrinya sekilas.


"Bunda, Maura lapar," ucap Maura. Raka mendudukkan Maura di kursi dan mengambilkannya makanan.


"Sayang, biar aku saja. Kamu duduklah dan makanlah," ucap Raka. Jiana hanya tersenyum dan ikut duduk di samping Maura.

__ADS_1


__ADS_2