
"Raka, tadi aku ketemu sama Niha waktu di supermarket," ucap Jiana. Raka seketika menghentikan makannya. Ia menatap Jiana dengan tajam.
"Apa dia bikin ulah padamu sayang?" tanya Raka. Jiana menggeleng pelan. Ia langsung merasa sedih dan menundukkan kepalanya. Jiana meremas ujung bajunya.
"Apa yang dia katakan benar kok, aku bukan istri yang sempurna untuk kamu. Raka, apa kamu selamanya akan tetap setia sama aku walaupun kamu tahu aku sulit untuk memiliki keturunan?" tanya Jiana. Ia tersenyum getir. Jiana sebenarnya tidak ingin membahas masalah ini lagi. Tetapi perkataan Niha terlintas di pikirannya dan membuatnya gelisah. Raka meletakkan sendoknya dengan kasar. Ia sudah tak berselera lagi untuk makan. Raka menghela napasnya dengan kasar dan menghadapkan Jiana padanya.
"Kamu tidak percaya pada suamimu? Sayang, bukankah kita sudah membahas masalah ini sebelumnya?" ucap Raka dengan kesal. Entah kenapa pembicaraan ini membuatnya marah. Raka tidak ingin membuat istrinya bersedih. Dan dia benar-benar menerima bagaimanapun keadaan istrinya itu. Selamanya cintanya tidak akan pernah berubah sedikitpun.
Jiana menatap Raka dengan sedih. Ia hanya ingin memastikan sekali lagi jika Raka benar-benar mencintai dirinya dan menerimanya. Raka berdiri dan berjalan mendekat ke arah jendela. Ia berkali-kali menghela napasnya dengan kasar. Ia berbalik dan menatap Jiana.
"Kalau aku mencari istri hanya untuk memperbanyak keturunan, aku sudah meninggalkanmu sejak lama Jiana. Apa kamu masih meragukanku? Meragukan ketulusan cinta dan sayangku padamu? Aku mohon jangan pernah lagi kau pertanyakan hal konyol itu padaku," ucap Raka.
"Maaf, segala kemungkinan pasti bisa saja terjadi kan? Aku hanya ingin mempersiapkan diriku sendiri kalau seandainya kamu..."
"Seandainya apa? Aku mencari wanita lain atau mempunyai selingkuhan di sana? Ternyata kamu masih belum cukup mengenalku sayang. Dengan begitu mudahnya kamu berasumsi seperti itu?" ucap Raka. Lalu ia menyandarkan tubuhnya di jendela.
Suasana hening. Jiana menunduk lagi sambil meremas ujung bajunya. Raka memejamkan matanya dan berusaha meredam amarahnya.
"Raka, maafkan aku," ucap Jiana lirih.
Raka kembali menghampiri Jiana. Ia duduk berjongkok di depan Jiana sambil memegang tangan Jiana. Ia menatap Jiana dengan lembut. Raka tersenyum tipis. Tiba-tiba Raka mencubit hidung Jiana cukup kuat. Jiana langsung memegangi hidungnya dan menepis tangan Raka.
"Kebiasaan!" ucap Jiana kesal. Raka tertawa kecil. Ia beralih mencubit kedua pipi Jiana.
"Salah sendiri! Ingat ya istriku tersayang, suamimu ini tidak akan pernah mencari wanita lain. Jadi, jika kamu beranggapan seperti itu lagi, aku akan menghukummu saat itu juga! Mengerti?" ucap Raka sambil mencubit-cubit pipi Jiana.
"Iya-iya, maaf," balas Jiana.
Raka melepas cubitannya dan memegang bahu Jiana. Mereka saling menatap dalam diam. Raka beralih duduk di samping Jiana. Jiana langsung memeluk Raka. Ia memejamkan matanya sambil terus mengeratkan pelukannya. Raka mengusap rambut Jiana dengan lembut lalu mengecupnya.
__ADS_1
Klek
Farrel masuk begitu saja. Membuat Jiana terkejut dan langsung melonggarkan pelukannya. Ia ingin melepas pelukan tersebut namun Raka menahannya. Raka menatap Farrel dengan kesal.
"Maaf tuan, Anda sebentar lagi ada meeting. Saya sudah menyiapkan berkasnya," ucap Farrel dengan gugup.
"Ya, kamu tunggu saja di luar. Aku akan menyusul nanti," ucap Raka. Farrel mengangguk dan pamit undur diri.
"Sayang, kalau kamu sibuk tidak apa-apa. Jangan menunda pekerjaan," ujar Jiana sambil melepas pelukannya. Ia beralih mengemas bekal yang ia bawa tadi. Raka membelai rambut Jiana dan mengecupnya sekilas.
"Ya sudah, kamu hati-hati pulangnya. Cepat kabari setelah sampai di rumah ya. Jangan capek-capek," ucap Raka dengan lembut. Jiana mengangguk dan tersenyum. Ia pamit untuk pulang.
Jiana langsung pulang setelah mengantarkan makan siang ke kantor Raka. Sesampainya di rumah, ia sudah melihat mamanya berada di rumah. Jiana tersenyum tipis dan sedikit berlari menghampiri mamanya yang sedang berada di ruang tengah.
"Mama," ucap Jiana. Ia duduk di samping mamanya.
"Dari kantor Raka Ma," jawab Jiana. Desi mengangguk paham.
Jiana membawa rantang yang kotor itu ke dapur lalu mencucinya. Setelah itu ia mendidihkan air untuk menyeduh susunya. Ia kembali lagi ke ruang tengah dan berkumpul bersama mamanya. Mereka mengobrol berbagai topik pembicaraan.
Sore hari, Alex baru pulang dari kantor. Desi dan Jiana menyiapkan makan malam di dapur. Selesai mandi, Alex menghampiri mereka dan duduk di kursi makan.
"Loh, Raka mana? Belum pulang?" tanya Alex. Karena biasanya saat ia pulang Raka sudah berada di ruang tengah sambil menonton acara tv.
"Belum Pa, mungkin ada sedikit kendala di kantor," balas Jiana. Desi membuatkan secangkir kopi untuk suaminya.
Tak lama setelah itu, Raka pulang. Jiana segera menyambutnya dan pergi ke kamar bersama suaminya. Jiana membantu melepas jas dan dasi suaminya. Lalu menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Raka memeluk Jiana dari belakang. Ia mencium aroma wangi rambut istrinya tersebut.
"Raka, lepasin dulu," ucap Jiana. Raka menggelengkan kepalanya. Ia menyembunyikan wajahnya di tengkuk Jiana.
__ADS_1
Jiana membiarkan Raka dalam posisi itu sejenak. Mungkin suaminya saat ini sedang lelah dan butuh sandaran untuk menghilangkan penatnya.
"Kamu sudah mandi?" tanya Raka.
"Sudahlah, kenapa?" tanya Jiana.
"Mandi lagi yuk, aku ingin manja-manja sama kamu," ucap Raka. Jiana berpikir sejenak. Ia berbalik dan menghadap Raka. Raka tersenyum nakal dan langsung menggendong Jiana menuju kamar mandi.
Selesai mandi, mereka turun menuju meja makan karena sudah ditunggu oleh Desi dan Alex. Mereka makan malam bersama. Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sebentar. Mereka mengobrol santai membicarakan berbagai hal.
"Raka, bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Alex pada Raka.
"Lancar Pa," balas Raka. Alex mengangguk paham.
"Raka, ambilkan susuku, tolong," ujar Jiana. Ia menunjuk gelas yang berisi susu yang terletak di hadapan Raka. Raka mengambilkan dan menyerahkan pada Jiana. Jiana tersenyum lebar dan segera meneguknya.
"Kak, manggil suaminya kok gitu? Nggak sopan ah," ucap Desi. Jiana mengernyitkan dahinya.
"Kenapa Ma? Biasanya juga seperti itu," ujar Jiana. Desi menghela napasnya sejenak.
"Mulai hari ini diganti. Mama tidak mau tahu," ucap Desi. Jiana meletakkan gelas yang ia pegang tadi. Ia membayangkan bagaimana ia memanggil Raka dengan sebutan 'mas' atau 'suamiku'. Jiana tertawa kecil karena merasa asing dengan panggilan itu.
"Ma, Jiana malu ah. Biasanya juga manggilnga seperti itu. Raka juga tidak keberatan, ya kan?" ucap Jiana. Ia melirik Raka sekilas.
"Kenapa tidak dicoba saja sayang? Perlahan-lahan saja, nanti juga terbiasa," ujar Raka.
"Nah itu," sambung Desi.
"Iya deh, nanti Jiana akan biasakan," ucap Jiana pasrah. Ia menggaruk kepalanya sendiri.
__ADS_1