Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 93


__ADS_3

Sorenya, seperti biasanya. Setelah menyiapkan makan malam, Jiana bergegas untuk membersihkan diri sebelum suaminya pulang nanti. Tetapi, saat dirinya keluar kamar mandi, ia sedikit terkejut karena suaminya sudah berada di kamar sambil melepas jasnya.


"Mas, sudah pulang?" tanya Jiana. Ia mendekat ke arah suaminya. Raka meraih tubuh Jiana dan mencium keningnya dengan lembut. Lalu beralih mencium bagian perut Jiana.


"Baru sampai. Maaf ya, aku agak sibuk jadi pulangnya telat," ujar Raka. Jiana tersenyum.


"Tidak apa-apa mas," balas Jiana.


Ia menunggu suaminya selesai mandi sambil ia merias diri. Jiana tersenyum kala suaminya keluar kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit bagian pusar hingga lututnya. Jiana selalu tersipu meskipun setiap hari melihatnya.


Raka mendekap istrinya dari belakang. Ia menciumi leher Jiana berulang kali.


"Jangan menatapku seperti itu. Apa kamu tidak tahu jika aku harus menahan dulu, hmm," bisik Raka.


"Aku tidak sedang menggodamu sayang," elak Jiana.


"Benarkah?" tanya Raka tak percaya. Ia membalikkan tubuh istrinya dan langsung melahap bibir Jiana dengan rakus.


.

__ADS_1


Kini Raka sudah selesai berganti baju. Hampir setengah jam mereka berada di kamar karena ciuman panas itu. Untungnya Raka masih bisa menahan untuk tidak menyentuh istrinya. Jika tidak, mungkin ia akan menyakiti istri dan calon buah hatinya.


Dengan hati-hati, Jiana menuruni tangga. Raka yang berada di sampingnya memeluk pinggang istrinya agar lebih aman.


Sreet...


Hampir saja Jiana terpeleset jika Raka tidak segera memeganginya. Raka langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Jangan menakutiku sayang. Berhati-hatilah," ucap Raka lalu mengecup pelipis istrinya. Dapat Jiana rasakan jika dada suaminya berdebar sangat kencang.


"Maaf mas," ucap Jiana karena kurang berhati-hati.


Sekian menit berlalu. Kini dokter Faye sudah berada di kamar mereka untuk memeriksa Jiana. Untungnya bukanlah hal yang serius. Jiana hanha kelelahan dan mengakibatkan kontraksi ringan pada kandungannya.


"Tidak ada masalah. Hanya saja tolong kurangi dulu aktivitasnya ya. Ini masih trimester pertama dan segala kemungkinan bisa saja terjadi," tutur dokter Faye.


"Kamu dengar kan sayang?" tanya Raka dengan lembut. Jiana hanya mengangguk pelan. Setelah itu dokter Faye pamit undur diri.


Raka menghela napasnya pelan. Tanpa sengaja tatapannya terpaku pada beberapa tas belanja yang berada di sofa. Ia menatap Jiana seolah menuntut sebuah penjelasan.

__ADS_1


"Kamu habis dari mall? Belanja begitu banyak?" tanya Raka menyelidik.


"I-iya mas," jawab Jiana dengan gugup.


"Kamu tahu kan sedang hamil? Jika terjadi sesuatu denganmu bagaimana sayang? Mas sama sekali tidak melarangmu belanja. Tapi, jika kamu tidak menjaga kondisi kamu itu akan membayakan kamu sendiri," ujar Raka kesal.


"Maaf mas,"


"Bahkan kamu tidak memberitahu mas dulu lho," ucap Raka.


"Tadi aku hanya ingin makan es krim di sana. Tapi, aku keasikan hingga lupa waktu," jawab Jiana sambil menunduk.


"Kan bisa minta tolong sama Mang Udin sayang. Kamu lihat kan, akibat kamu kelelahan?" ucap Raka. Ia hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada anak dan istrinya.


"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Jiana ucapkan. Bahkan ia sampai meneteskan air matanya. Ia juga menyesal karena tak bisa menjaga diri dengan baik. Hampir saja terjadi sesuatu dengan kandungannya.


Raka merasa bersalah telah memarahi istrinya. Suasana hati ibu hamil memang sulit ia prediksi. Raka memeluk Jiana dan membelai rambut istrinya.


"Maaf sayang, bukannya aku marah sama kamu. Tapi, lain kali beritahu mas dulu ya," ujar Raka. Ia mengecup kening istrinya dengan lembut. Jiana mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2