Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 77


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Waktu terus berjalan seperti biasanya. Hari-hari yang mereka lalui tak jauh beda seperti biasa. Kini, Jiana sudah kembali beraktivitas dan membantu bi Lastri mengurus rumah. Kondisi Jiana juga semakin membaik. Segalanya berjalan dengan lancar. Mereka juga sepakat tidak akan terlalu memusingkan tentang buah hati. Karena mereka yakin, Tuhan akan mempersiapkan kebahagiaan untuk mereka di kemudian hari.


Tepat hari ini adalah hari pernikahan Sarah, sahabat Jiana. Raka menyempatkan waktunya untuk menemani istrinya menghadiri pernikahan sahabatnya.


"Mas, kok belum siap-siap? Nanti kita telat loh," ucap Jiana saat masuk ke kamarnya dan mendapati suaminya yang masih duduk di sofa dengan santai sambil memainkan ponselnya. Melihat kedatangan istrinya, Raka hanya tersenyum lebar.


"Acaranya nanti sore kan? Ini masih pukul 11.00 siang sayang," ucap Raka.


Jiana menghela napasnya sejenak. Ia menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.


"Acaranya pukul 14.00 mas. Aku tidak mau telat. Lagipula aku juga mau bertemu dengan Sarah sebelum acara resepsi kan?" ucap Jiana. Ia memanyunkan bibirnya. Raka terkekeh kecil dan mengacak rambut istrinya pelan.


"Kita berangkat pukul 13.00 masih sempat sayang. Aku mau tidur dulu," ucap Raka dan mengecup kening Jiana sekilas. Ia beranjak menuju ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Sebenarnya ia hanya ingin menggoda istrinya saja. Ia juga tak berniat tidur siang. Raka tertawa kecil saat mendengar decakan Jiana. Ia ingin sekali melihat ekspresi lucu itu. Namun, ia terlanjur memejamkan matanya.


Jiana menghampiri suaminya. Ia duduk di tepi ranjang dan terus berusaha membangunkan suaminya. Ia tak akan menyerah untuk mengganggu suaminya. Karena ia ingin bertemu dengan Sarah sebelum acara resepsi nanti. Ia tak tahu kapan akan bertemu kembali dengan sahabatnya setelah pernikahan itu nanti.


"Mas, ayo bangun..." ucap Jiana. Namun Raka hanya diam.

__ADS_1


"Ya sudah, aku berangkat sendiri saja!" ucap Jiana lalu ia berdiri dan ingin beranjak dari sana. Seketika Raka menarik tangan Jiana sehingga Jiana terjatuh di ranjang. Raka memeluknya dengan erat.


"Mau ke mana?" tanya Raka. Jiana hanya memanyunkan bibirnya. Raka tertawa kecil dan berulang kali mengecup bibir Jiana dengan lembut.


***


Seperti yang dikatakan oleh Raka, mereka berangkat pukul 13.00. Jiana hanya pasrah karena bagaimanapun juga ia tidak bisa berangkat sendirian. Saat ini mereka sudah sampai di kediaman keluarga Sarah yang ada di kota Bekasi. Jiana langsung bergegas menemui sahabatnya itu sebelum acara resepsi dimulai. Acara tersebut berlangsung dengan sederhana yang diadakan di kediaman keluarga Sarah.


"Sarah, ada teman kamu yang mau bertemu," ucap bu Nanda, ibu dari Sarah.


Sarah langsung menengok ke arah Jiana. Ia begitu bahagia melihat kedatangan sahabatnya itu.


"Kalau begitu, ibu tinggal dulu ya nak," pamit bu Nanda. Jiana dan Sarah mengangguk secara bersamaan.


"Selamat ya Sar, maaf tidak bisa hadir dalam ijab kabul kamu tadi pagi," ujar Jiana. Sarah membawa Jiana untuk duduk di tepi ranjang. Saat ini, hanya ada mereka berdua di dalam kamar. Sarah pun juga baru selesai merias diri untuk acaranya nanti.


"Kamu datang saja aku senang banget Ji. Oh iya, di mana suamimu?" ujar Sarah. Ia menatap ke arah pintu kamarnya namun tak ada Raka di sana.


"Dia di luar," jawab Jiana. Mereka saling bercerita banyak hal. Mulai dari awal pertemuan Sarah dengan suaminya hingga hal-hal lainnya.

__ADS_1


***


Pukul 14.05, acara resepsi pun digelar. Tak begitu banyak tamu undangan yang hadir. Karena mereka hanya menginginkan acara pernikahan yang sederhana. Sarah nampak cantik dengan balutan kebaya warna coklat muda. Ia terlihat begitu anggun.


Acara demi acara telah terlaksana. Tanpa terasa, acara pun selesai dengan begitu lancar. Saat ini semua tamu undangan sedang menikmati jamuan yang telah disediakan, termasuk Raka dan Jiana. Mereka duduk di salah satu tempat duduk yang telah disediakan.


"Sayang, kamu tidak berminat menggelar acara resepsi seperti ini?" tanya Raka tiba-tiba. Jiana berdiam sejenak. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Kenapa?" tanya Raka yang penasaran dengan alasan Jiana. Jiana tersenyum tipis.


"Aku hanya tidak ingin saja," jawab Jiana santai. Ia kembali menikmati makanannya. Raka memandangi istrinya dengan lekat.


"Apa kamu tidak ingin orang lain tahu tentang hubungan kita?" tanya Raka. Jiana mengernyitkan dahinya. Memang dulu dirinya ingin menutupi pernikahannya dari orang lain. Namun, lambat laun ia tidak memikirkan hal itu lagi dan bahkan ia siap jika orang lain mengetahui tentang pernikahannya.


"Bukan seperti itu mas," balas Jiana. Raka tersenyum lebar lalu mencubit hidung istrinya dengan gemas.


"Ya sudah, kita lanjutkan makan. Habis ini kita pulang," ujar Raka. Jiana mengangguk pelan.


Setelah acara benar-benar selesai, Raka dan Jiana pamit untuk pulang. Pukul 17.15 Jiana dan Raka kembali ke rumahnya. Cukup melelahkan juga untuk mereka. Apalagi jarak yang mereka tempuh juga cukup jauh.

__ADS_1


__ADS_2