
Hari ini, Jiana sudah diperbolehkan untuk pulang. Dengan catatan ia harus banyak-banyak istirahat di rumah. Tidak melakukan aktivitas yang berat agar dirinya bisa pulih dengan cepat. Meskipun itu hanya operasi kecil saja, tetap saja ia harus banyak istirahat.
Jiana sudah berada di kamarnya. Ia berbaring di kasur dan Raka yang duduk di sampingnya. Raka bersyukur, istrinya saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Suasana hatinya juga lebih mudah terkendali daripada sebelumnya.
"Mas, kamu tidak ke kantor lagi? Pekerjaanmu bagaimana?" tanya Jiana.
"Ada Farrel yang membantuku. Kamu tenang saja," jawab Raka dengan lembut.
Bi Lastri datang dengan membawakan semangkuk bubur dan segelas susu. Ia menaruhnya di atas nakas lalu pamit untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya. Raka membantu istrinya untuk duduk dan bersandar.
"Kamu makan ya, biar aku suapi," ucap Raka sambil mengambil mangkuk tersebut.
"Itu lagi?" tanya Jiana yang dengan malas melihat menu sarapannya hari ini.
"Kenapa? Sementara ini dulu. Tubuh kamu kan masih belum sehat. Nanti siang biar bi Lastri buatkan sup untuk kamu," ujar Raka. Ia menyendokkan bubur tersebut dan mulai menyuapi istrinya. Jiana hanya menurut dan memakannya tanpa bertanya lagi. Sebenarnya ia sudah bosan dengan menu itu. Semenjak ia sakit, sudah beberapa kali ia makan makanan itu. Bubur, sup, dan menu makanan sehat lainnya. Sebenarnya ia kurang suka dengan makanan lembek seperti bubur itu. Namun karena tak ingin mengecewakan suaminya, ia memakan apapun yang Raka siapkan untuknya.
Setelah beberapa menit, ia sudah menghabiskan bubur dan susunya. Lalu ia meminum obat untuk membantu pemulihan dirinya. Raka ikut duduk dan bersandar di ranjang. Jiana bersandar pada dada bidang suaminya. Raka mengambil ponselnya dan memeriksa beberapa pekerjaan yang beberapa hari ia tinggalkan.
"Kalau penting kamu urus dulu pekerjaanmu mas. Aku sudah tidak apa-apa kok," ucap Jiana. Raka hanya tersenyum dan mengecup kening Jiana sekilas. Ia tidak menjawab apapun dan langsung fokus kembali pada layar ponselnya. Jiana terus memandangi wajah suaminya yang fokus dengan layar ponselnya.
Setelah beberapa saat, Raka meletakkan ponselnya ke atas nakas kembali. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan menyandarkan dagunya pada puncak kepala istrinya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Jiana.
"Tidak ada. Hanya sedikit masalah di kantor," jawab Raka. Ia menghela napasnya sejenak. Jiana tahu, semua ini karena dirinya. Jiana mengusap pelan lengan suaminya.
"Gak apa-apa mas kalau kamu mau ke kantor sekarang, di rumah juga ada bi Lastri yang menemaniku," ucap Jiana. Raka terdiam sejenak. Jika bukan masalah yang penting, ia tetap ingin menemani istrinya hingga sembuh. Namun, ia juga tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaannya.
"Kamu yakin tidak ingin aku temani di rumah?" tanya Raka. Jiana tertawa kecil mendengar pertanyaan suaminya itu. Ia bukan anak kecil lagi yang takut di rumah sendirian.
"Bukan tidak ingin mas, tapi pekerjaanmu bagaimana?" ucap Jiana.
"Ya sudah, aku ke kantor sebentar ya. Tapi ingat, tidak boleh melakukan aktivitas apapun ya selama mas di kantor nanti," ucap Raka. Jiana mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
Raka beranjak dari tempat tidurnya. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Jiana masih bersandar pada ranjangnya dan mengambil buku yang ada di atas nakas tersebut. Tak lama kemudian, Raka keluar dengan hanya memakai handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Ia membuka almari dan memilih baju kerja yang akan ia kenakan hari ini. Setelah selesai, ia menghampiri istrinya dan mengecup keningnya.
"Iya mas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan yang teratur," balas Jiana. Raka mengangguk dan tersenyum tipis. Ia langsung bergegas menuju kantornya.
Setelah kepergian suaminya, karena merasa bosan, Jiana turun menuju ke ruang tengah untuk menonton TV. Tak lama kemudian, Desi berkunjung ke rumahnya. Ia membawa beberapa makanan kesukaan putrinya itu.
"Nyonya, silakan masuk," ucap bi Lastri yang menyambut Desi di depan pintu. Desi langsung masuk sambil membawa makanan yang sudah ia siapkan.
"Jiana," ucap Desi saat ia melihat Jiana duduk di ruang tengah. Jiana langsung menoleh dan terkejut dengan kedatangan mamanya.
__ADS_1
"Mama?" balas Jiana. Desi langsung menghampiri putrinya dan memeluknya.
"Bagaimana kondisi kamu saat ini sayang?" tanya Desi.
"Sudah lebih baik Ma. Mama ke sini kenapa tidak bilang Jian dulu?" tanya Jiana.
"Mama tidak ingin merepotkan kamu sayang. Oh iya, di mana suami kamu?" ucap Desi.
"Dia ke kantor Ma, di kantornya lagi ada sedikit masalah," balas Jiana. Desi mengangguk paham. Mereka saling mengobrol dan bercerita seperti biasanya. Banyak hal yang Jiana keluhkan pada mamanya. Beban yang selama ini terasa berat dalam pikirannya, kini terasa lebih baik setelah bercerita kepada mamanya dan ia juga mendapat beberapa nasehat dari mamanya.
***
Di kantor, Raka tidak bisa fokus dalam pekerjaannya. Ia selalu kepikiran istrinya. Meskipun Jiana berkali-kali mengatakan bahwa ia baik-baik saja, Raka tetap saja mengkhawatirkannya. Tiba-tiba saja ia teringat pada Sarah, sahabat istrinya itu yang saat ini bekerja di perusahaannya. Ia memanggil Farrel untuk meminta Sarah agar ke ruangannya. Tak lama setelah itu, Sarah kini sudah berada di ruangannya.
"Ada apa bapak mencari saya?" tanya Sarah dengan gugup.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin memberimu cuti beberapa hari saja," ucap Raka santai.
"Kenapa pak? Apa kinerja saya tidak baik?" tanya Sarah panik.
"Bukan. Saya ingin kamu temani Jiana beberapa hari saja," ucap Raka. Sarah hanya mengangguk dengan sopan. Sudah lama juga ia belum bertemu dengan Jiana. Semenjak mendengar kabar itu, ia juga belum menjenguk sahabatnya.
__ADS_1
"Terima kasih pak, tetapi tidak perlu memberikan saya cuti. Nanti sepulang bekerja saya akan ke sana untuk bertemu dengan Jiana," ucap Sarah.
"Tidak apa-apa. Anggap saja itu bonus buat kamu," ucap Raka. Sarah mengangguk lalu pamit untuk kembali ke tempat kerjanya.