
♡Raka♡
Kini Diandra semakin bertumbuh dengan cepat. Tak terasa, usia Diandra sudah menginjak tujuh bulan. Aku tak menyangka akhirnya aku dan Jiana bisa memiliki bayi selucu itu. Begitu banyak hal yang terjadi selama pernikahanku dengan Jiana. Namun, itu tak membuatku dan Jiana terpisah.
Aku sadar, mungkin aku bukanlah pria sejati. Tetapi, di sini aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik bagi istri serta kedua putri kesayanganku. Maura, yang tanpa terduga hadir dalam hidup kami. Mengubah segalanya.
Jiana, istriku tersayang. Aku bangga memiliki dirimu meski caraku dulu sedikit salah. Aku menikahimu bahkan kamu belum mengenal lebih dalam tentang diriku. Maaf, jika aku terlalu tergesa waktu itu. Tapi sungguh, hanya dirimu yang menjadi tujuan dalam hidupku.
Terima kasih sayang. Telah mewarnai hidupku. Menjadikan hidupku lebih bermakna dengan hadirnya kalian, para bidadariku. Terima kasih...
Kebetulan sekali hari ini adalah hari minggu. Seperti biasa, waktunya untuk bersama dengan keluarga kecilku. Aku juga ikut membantu istriku mengerjakan pekerjaan rumah. Meski ada bi Lastri, tetapi saat ini bi Lastri fokus untuk mengurus Maura. Jadi, apa salahnya aku membantu istriku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Aku kagum dengannya. Ia bisa melakukan apapun, sedangkan aku?
"Mas, kok melamun sih? Sudah selesai siram bunganya?" Ucap istriku yang membuyarkan lamunanku pagi itu. Aku langsung menatapnya sejenak. Aku tersenyum padanya dan ia membalasnya. Istriku itu selalu cantik, bahkan sekarang lebih cantik lagi. Membuatku ingin... Aahh, apasih Raka yang kamu pikirkan..
"Sudah sayang... Ini baru selesai," balasku. Aku menyimpan selang air di tempatnya dan segera cuci tangan. Kuhampiri istri dan bayi mungilku itu yang sedang berjemur. Aku duduk di samping istriku. Menatap Diandra yang berada dalam pangkuannya. Mencubit gemas pipi yang semakin menggembul itu. Lucu... Rasanya aku ingin memiliki satu lagi yang seperti ini.
"Mas, sarapannya sudah siap. Mas sarapan dulu aja sama Maura," ujar istriku. Aku mengambil alih bayi kami.
__ADS_1
"Kamu makanlah dulu sayang. Biar aku yang menjaganya dulu," ucapku lalu ku kecup keningnya dengan lembut.
"Baiklah," ucapnya patuh. Jiana masuk ke dalam rumah. Dan aku kembali fokus dengan bayi mungilku ini. Tak lama setelah itu, Jiana kembali lagi dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya. Aku menatapnya bingung. Sedangkan ia hanya tersenyum tipis. Jiana duduk kembali di sampingku.
"Kita makan bersama ya mas, aku suapi kamu," ujarnya lalu tertawa kecil. Aku juga ikut tertawa melihatnya begitu gembira. Jiana menyuapiku lebih dulu lalu dirinya.
Tak lama kami berada di bawah terik matahari. Setelah selesai sarapan di halaman depan bersama Jiana, aku membawa Diandra masuk ke dalam rumah. Aku membaringkannya ke ranjang bayinya. Aku goyangkan box bayi itu dengan pelan. Karena kulihat putri kecilku itu akan menangis. Syukurlah, Diandra kembali tertidur.
"Maura sudah mandi?" tanyaku padanya. Yang saat itu juga berada di ruang tengah sambil menonton televisi. Maura menggeleng pelan. Ternyata putriku yang satu ini lagi malas mandi pagi.
"Kenapa? Dedek aja sudah mandi. Kok kakak belum?" tanyaku lagi.
"Memangnya kenapa nggak mau dimandiin sama bi Lastri?" tanyaku lagi karena penasaran. Aku merengkuh tubuh mungil Maura.
"Pokoknya sama bundaaa..." teriaknya lagi dan kini lebih kencang. Aku tertawa kecil lalu mengacak rambutnya dengan gemas.
"Sayang, ayo mandi sama bunda," ucap Jiana saat berjalan menghampiri kami. Maura langsung tergelak dan meminta gendong. Jiana tersenyum lalu menggendong Maura menuju kamarnya.
__ADS_1
"Mas, nitip Diandra," teriak Jiana. Aku hanya menghela napasku dan mengambil ponselku. Bermain dengan ponselku sambil menjaga Diandra.
*
*
*
Pukul 21.00 Jiana selesai menyusui Diandra dan perlahan menidurkannya di box bayi. Jiana menyelimuti putrinya lalu mencium keningnya dengan lembut.
"Selamat tidur sayang," gumam Jiana. Ia beralih menuju kamar Maura untuk menemuinya yang juga baru saja tertidur. Jiana mengusap kening Maura lalu mengecupnya. Ia menyelimuti Maura. Lalu Jiana membiarkan Maura istirahat.
Sedangkan Raka, sudah satu jam berada di ruang kerjanya. Entah apa yang sedang dikerjakan oleh Raka di sana. Namun, Jiana tak ingin mengganggu suaminya. Pasti itu adalah pekerjaan yang penting, pikirnya.
Merasa lelah karena seharian beraktivitas, Jiana membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Lalu, perlahan memejamkan matanya.
Di ruang kerjanya, Raka baru saja menyelesaikan dokumen yang belum sempat ia selesaikan kemarin. Ia merenggangkan tubuhnya karena merasa pegal setelah satu jam duduk di kursinya sambil menatap layar laptopnya. Dokumen itu begitu penting. Raka sendiri yang harus memeriksanya sendiri.
__ADS_1
Setelah mematikan laptopnya, Raka kembali ke kamarnya. Ternyata istrinya sudah terlelap. Raka berjalan menghampirinya dan duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum sambil memandangi wajah istrinya. Raka segera berbaring di samping Jiana dan memeluk istrinya. Tak lupa kecupan manis sebelum tidur mendarat di kening Jiana.
"Selamat istirahat sayang..." bisik Raka dan menyelimuti mereka berdua.