Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 32


__ADS_3

Pukul 20.30 mereka baru sampai di rumah. Jiana langsung membuka pintu utama dan masuk begitu saja tanpa menunggu Raka yang masih memarkirkan motornya di garasi. Jiana langsung menuju meja makan untuk menaruh makanan yang sempat ia bawa dari rumah mamanya. Jiana mengambil piring dan menaruh makanan itu dipiring.


Raka menghampiri Jiana dan tiba-tiba memeluknya dari belakang yang membuat Jiana terkejut.


"Dingin sayang," ujar Raka dengan manja.


"Ya sana mandi terus tidur pakai selimut yang tebal!" jawab Jiana ketus.


"Nggak mau," ucap Raka sambil mengeratkan pelukannya.


"Terus maunya apa? Salah sendiri kan dibilang naik mobil saja malah naik motor," jawab Jiana sedikit kesal.


"Aku mau kamu," ujar Raka dan langsung membalikkan tubuh Jiana. Raka mencium bibir Jiana dengan rakus.


Jiana yang awalnya menolak lambat laun mengikuti permainan Raka. Raka tersenyum tipis saat Jiana begitu agresif. Ia suka Jiana yang seperti ini.


"Ahh sakit," ujar Jiana dan ia langsung terduduk sambil memegangi perutnya.


"Ada apa sayang?" tanya Raka panik.

__ADS_1


"Perutku sakit Raka. Sepertinya aku.." belum selesai Jiana menuntaskan kalimatnya, ia sudah pingsan.


"Sayang, kenapa?" tanya Raka panik. Karena tadi Jiana baik-baik saja kenapa jadi seperti ini.


Tanpa pikir panjang, Raka menggendong Jiana menuju kamarnya. Ia membaringkan Jiana di kasur dan berusaha membangunkan Jiana.


"Sayang.. Bangun dong," ucap Raka sambil menepuk pelan pipi Jiana. Perlahan Jiana membuka matanya.


"Apanya yang sakit? Aku panggilkan dokter ya?" tanya Raka.


"Tidak perlu, aku hanya sakit perut saja. Ini sudah biasa," jawab Jiana dan ia duduk. Jiana ingin beranjak dari sana namun ditahan oleh Raka.


"Ini hanya sakit karena datang bulan Raka," jawab Jiana dan membuat Raka terkejut.


"Apa?"


"Kenapa?"


"Sejak kapan?"

__ADS_1


"Tadi sore waktu di rumah mama," jawab Jiana dengan santai. Ia menuju almari untuk mengambil pembalut dan baju ganti. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.


Raka duduk di tepi ranjang. Ia lega ternyata hanya sakit karena datang bulan saja. Tapi, bukankah itu buruk untuknya. Setidaknya selama satu minggu ke depan ia harus puasa dulu.


"Ah sial!" ucap Raka sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


"Raka tolong aku," ujar Jiana dari kamar mandi. Raka langsung bergegas ke kamar mandi dan membukanya begitu saja. Karena kebetulan tidak dikunci.


Jiana terlihat lemas. Memang seperti itu saat datang bulan. Perutnya yang sakit luar biasa dan terkadang hingga sampai pingsan seperti tadi. Bahkan dirinya juga merasa pusing dan lemas.


Raka membantu Jiana menuju kasur. Ia begitu khawatir melihat keadaan Jiana. Berkali-kali Raka ingin menelepon dokter tapi Jiana bersikeras tidak ingin diperiksa oleh dokter. Menurutnya itu memalukan.


"Istirahatlah kalau begitu. Mau kubuatkan sesuatu yang hangat?" tawar Raka. Jiana menggeleng pelan. Ia terus memegangi perutnya.


Raka mendekatkan dirinya dan merengkuh Jiana dalam pelukannya. Sambil tangannya mengusap pelan perutnya yang sakit. Jiana merasa nyaman dan ia mengeratkan pelukannya.


"Kalau merasa nyaman tidurlah," ucap Raka. Jiana hanya mengangguk.


Raka dengan lembut mengusap perut Jiana. Sampai Jiana benar-benar terlelap tidur. Ia terus melakukan itu. Sesekali mengecup puncak kepala Jiana.

__ADS_1


"Baiklah, masih ada banyak waktu untuk kamu tumbuh di dalam sini sayang. Mungkin belum waktunya saja. Papa akan sangat bahagia jika kamu segera ada dalam perut mama," gumam Raka. Ia membaringkan Jiana perlahan. Mengecup sekilas perut Jiana dan menyelimutinya.


__ADS_2