
Sampai di dalam kamar, Jiana mendapati Raka yang baru saja selesai mandi karena Raka masih menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Raka menatap Jiana yang baru saja masuk ke kamar mereka.
"Dia sudah pulang?" tanya Raka sambil membuka almari dan mencari bajunya. Jiana menghela napasnya sejenak. Ia menyandarkan dirinya di sofa.
"Aku tidak tahu. Tadi aku tinggalkan dia begitu saja," jawab Jiana santai. Raka hanya mengangguk. Ia memakai bajunya.
"Apa dulu kalian pernah saling jatuh cinta?" tanya Jiana penasaran. Dari reaksi Niha ia bisa melihat dengan jelas bahwa Niha menyukai Raka.
Kini Raka sudah selesai memakai pakaiannya. Ia duduk di samping Jiana. Ia ikut menyandarkan dirinya di sofa.
"Aku sama dia hanya sebatas sahabat. Dulu kami sering menghabiskan waktu bersama saat ada tugas. Aku tidak pernah menyukainya. Aku hanya menghormatinya karena dia adalah sahabatku," jelas Raka. Ia tidak ingin membuat Jiana salah paham lagi padanya.
"Tapi dia sepertinya menyukaimu," ujar Jiana lagi. Ia ingin memastikan segalanya dari Raka. Raka menghela napasnya sejenak. Ia menatap langit-langit kamarnya.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak pernah meresponnya. Aku tidak mau memberikan dia harapan palsu. Aku juga tidak tahu kenapa kali ini ia balik lagi ke Indonesia," ucap Raka. Ia menatap Jiana dan tersenyum sekilas.
Setelah itu, Jiana menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Raka keluar kamar menuju meja makan. Ia menunggu istrinya di sana.
Tak lama kemudian, Jiana turun dan melangkah menuju meja makan. Ia dan Raka makan malak bersama dengan masakan yang sudah disiapkan oleh bi Lastri. Selesai makan malam, mereka lanjut ke ruang tengah untuk menonton acara tv dan menghabiskan waktu bercengkraka di sana. Raka memposisikan dirinya tiduran di sofa dengan paha Jiana sebagai bantalnya.
Malam semakin larut, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Saat ini mereka sudah berada di atas kasur. Jiana masih bermain dengan ponselnya. Sedangkan Raka sudah siap untuk memejamkan matanya.
"Sayang, ayo tidur," ucap Raka. Ia menarik Jiana agar segera tidur dan menghentikan aktivitasnya. Jiana tersenyum manis. Ia meletakkan ponselnya ke atas nakas samping tempat tidurnya. Kini mereka saling berhadapan.
"Sayang, apa kamu sudah ada tanda-tanda untuk hamil?" tanya Raka sebelum mereka tertidur. Jiana berpikir sejenak. Ia tak merasakan apapun. Bahkan mual dan muntah juga tidak. Jiana menggeleng pelan dengan ragu-ragu. Raka tersenyum dan mengecup kening Jiana sekilas.
__ADS_1
"Besok coba kita cek ke dokter ya," ucap Raka.
"I-iya. Ya sudah, kita istirahat dulu," ucap Jiana. Raka mencium kening Jiana sebelum tertidur. Mereka lalu memejamkan mata dengan tangan saling berpegangan.
***
Keesokan harinya, seperti biasa. Jiana bangun lebih dulu. Ia segera mandi dan membantu bi Lastri memasak. Pagi ini mereka tidak ke kantor. Karena hari ini libur.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Jiana kembali lagi ke kamarnya untuk membangunkan suaminya. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah Raka.
"Sayang bangun. Katanya mau ke dokter hari ini," ucap Jiana. Raka menggeliat dan membuka matanya. Ia tersenyum tipis melihat Jiana tepat di hadapannya. Jiana menarik tangan Raka agar segera bangun. Dengan malas, Raka duduk dan bersandar di ranjangnya.
"Ini masih pagi sayang. Aku masih ingin tidur lagi," ucap Raka. Matanya kembali terpejam. Jiana mengernyitkan dahinya.
"Tidak boleh! Ayo bangun Raka!" ucap Jiana. Ia terus menarik tangan Raka agar keluar dari ranjangnya.
"Lagi," rengek Raka.
"Mandi dulu! Aku tunggu di meja makan. Awas kalau lama," ucap Jiana. Ia ingin bergegas keluar dari kamarnya. Namun Raka menahan tangannya dan segera memeluknya dari belakang. Raka menyandarkan dagunya ke bahu Jiana. Kemudian ia membalikkan tubuh istrinya dan langsung menerkam bibir Jiana dengan rakus. Beberapa saat kemudian, Raka melepas ciumannya dan tersenyum lebar. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kebiasaan," gerutu Jiana pelan. Ia tertawa kecil dan langsung menuju ke depan almari untuk menyiapkan baju Raka. Selesai mempersiapkan baju ganti, Jiana turun ke bawah dan menunggu Raka di meja makan.
"Bi, nanti tidak usah belanja. Biar aku saja sekalian mau ke dokter," ucap Jiana.
"Nyonya sakit apa?" tanya bi Lastri khawatir. Jiana tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tidak sakit. Kami mau cek up dan tanya-tanya seputar kehamilan," balas Jiana sedikit malu. Bi Lastri mengangguk paham.
Raka menuruni tangga dan menuju meja makan. Sampainya di sana, ia langsung mengecup pipi Jiana sekilas lalu duduk di samping Jiana. Mereka sarapan bersama.
Pukul 08.00 mereka bersiap untuk ke dokter. Pagi tadi, Raka menyuruh Farrel untuk mencarikan dokter dan membuat janji dengannya. Setelah mendapat info dari Farrel, mereka segera menuju rumah sakit.
"Raka, nanti kita mampir ke supermarket ya setelah selesai ke dokter," ucap Jiana. Raka mengangguk paham dan masih fokus dengan kemudinya.
Beberapa saat kemudian, Raka dan Jiana sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruangan dokter Widya yang sebelumnya sudah membuat janji. Jiana semakin gugup. Jujur saja ini momen yang sangat mendebarkan baginya. Bertemu dengan dokter kandungan untuk yang pertama kalinya.
Mereka sudah berada di ruangan dokter Widya. Mereka duduk saling berhadapan dengan dokter cantik itu.
"Selamat pagi pak, bu," sapa dokter tersebut. Raka dan Jiana membalas sapaan dokter Widya itu.
"Dengan pak Raka dan bu Jiana? Betul?" ucap dokter Widya memastikan. Raka dan Jiana mengangguk. Dokter tersebut tersenyum tipis. Lalu dokter Widya mempersilakan mereka untuk berkonsultasi. Setelah melalui beberapa cek kondisi tubuh antara keduanya, kini mereka duduk kembali untuk mendengarkan saran dari dokter tersebut.
"Begini, tidak ada masalah yang serius pada tubuh ibu Jiana. Alasan kenapa belum hamil-hamil sampai sekarang mungkin karena dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya mungkin bu Jiana terlalu lelah atau banyak pikiran. Itu memang sering terjadi dan tanpa disadari," ucap dokter Widya dengan ramah.
"Hanya karena itu saja dok?" tanya Raka memastikan. Dokter tersebut mengangguk dan tersenyum tipis.
"Kalian masih muda, masih punya banyak peluang untuk segera hamil. Tidak perlu khawatir jika belum kunjung hamil. Karena dasarnya bu Jiana juga tidak punya masalah apapun terhadap rahimnya. Kerja keras dan sabar, itu kuncinya pak, bu," ucap dokter Widya. Raka dan Jiana saling memandang. Setelah mendapatkan pengarahan dari dokter dan beberapa vitamin untuk Jiana, mereka pamit untuk pulang.
Mereka harus bersabar sedikit lagi. Jika kali ini belum berhasil, masih punya banyak waktu untuk mereka berdua.
Raka dan Jiana sudah berada di dalam mobil. Jiana menatap Raka dengan ragu. Ia takut Raka kecewa padanya.
__ADS_1
"Raka," panggil Jiana pelan. Raka menoleh ke arah Jiana dan tersenyum tipis. Ia mengusap rambut Jiana dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Kita santai saja, bukankah dokter sudah menjelaskan semuanya? Ini hanya masalah waktu saja sayang," ucap Raka. Lalu ia mengecup kening Jiana cukup lama. Setelah itu Raka melajukan mobilnya menuju supermarket terdekat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.