
Pagi harinya...
Jiana membantu bi Lastri menyiapkan sarapan. Setelah selesai, ia kembali ke kamarnya untuk membangunkan suaminya yang masih terbuai dalam mimpi indahnya. Jiana membuka pintu kamarnya dengan pelan. Ia tersenyum tipis kala melihat suaminya yang masih berada di bawah selimut dengan begitu tenangnya. Jiana menutup pintu kamarnya dan berjalan menghampiri ranjang. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah suaminya. Tangannya tergerak menyentuh kening suaminya. Ia mengusapnya dengan lembut dan perlahan.
"Mas, bangun yuk.. Katanya ada rapat pagi ini," ucap Jiana pelan. Raka hanya menggeliat kecil lalu memunggungi Jiana. Ia masih enggan membuka matanya.
"Mas," ucap Jiana sambil menyentuh punggung suaminya.
"Hmm...,"
"Katanya ada rapat pagi ini?" tanya Jiana lagi. Raka perlahan membuka matanya. Ia berbalik sambil mengucek kedua matanya. Ia menatap istrinya sambil tersenyum tipis. Raka bangun lalu bersandar pada ranjangnya.
"Jam berapa sayang?" tanya Raka dengan lesu.
"Masih jam enam mas, mau langsung mandi? Aku siapkan air hangat ya," ucap Jiana. Raka hanya mengangguk pelan. Jiana langsung bergegas ke kamar mandi untuk menyiapkan keperluan suaminya. Setelah beberapa menit kemudian, ia kembali lagi dan menyuruh suaminya segera mandi. Sambil menunggu Raka selesai mandi, Jiana menyiapkan baju kerja untuk suaminya.
Klek
Suara pintu kamar mandi terbuka. Pertanda Raka sudah menyelesaikan ritual mandinya. Wajah yang lesu dan tak bersemangat itupun hilang dan kini berganti segar dan lebih tampan. Jiana memberikan baju kepada suaminya dan membantunya memakaiannya. Saat sedang asik mengancingkan kancing kemeja suaminya, dengan sengaja Raka mencium bibir Jiana. Ia sedikit ******* dengan lembut dan pelan. Jiana menghela napasnya sejenak. Tatapannya beralih menatap wajah suaminya.
"Hari ini aku batalkan saja ya rapatnya. Tiba-tiba aku ingin berduaan denganmu sayang," ucap Raka dengan manja. Jiana tersenyum lebar lalu mencubit pipi suaminya dengan gemas.
__ADS_1
"Mana boleh seperti itu mas? Meskipun kamu adalah direkturnya, kamu tidak boleh seperti ini. Pekerjaan itu penting buat kamu dan perusahaan. Jangan seenaknya, itu namanya tidak bertanggung jawab," ucap Jiana.
"Tapi kamu lebih penting dari apapun. Biar Farrel yang menggantikan memimpin rapat hari ini," balas Raka. Jiana terdiam sejenak. Ia kembali mengancingkan kancing baju suaminya. Lalu membantu Raka memakaikan jasnya.
"Tidak boleh! Kamu harus berangkat kerja mas. Ayo," ucap Jiana. Ia menarik tangan Raka untuk keluar dari kamarnya.
Saat hampir tiba di depan pintu kamarnya, Raka menarik Jiana dan menekannya hingga tersudut di dinding dekat pintu. Tangan Raka menarik dagu Jiana dan langsung mencium bibirnya hingga beberapa saat.
Hah
Mereka saling menghela napas dan sambil mengatur ritme napas mereka. Wajah Jiana sudah merona akibat ulah suaminya. Raka tersenyum lebar lalu membuka pintu kamarnya. Ia menarik Jiana hingga ke meja makan.
"Boleh, biar Farrel yang mengantarmu sayang," ucap Raka.
"Tidak perlu mas, aku naik taksi saja," jawab Jiana.
"Baiklah, hati-hati ya. Nanti aku jemput setelah pulang kerja," ujar Raka. Jiana mengangguk. Raka mencium kening istrinya lalu berpamitan untuk pergi ke kantor.
Pukul 09.00, Jiana bergegas menuju rumah orang tuanya. Banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada mamanya. Ia sudah rindu dengan kehangatan yang ada di rumahnya itu. Rumah yang selalu ia rindukan setelah rumahnya dengan suaminya.
"Ma," ucap Jiana saat memasuki rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Ke mana mama pergi?" batin Jiana saat melihat rumahnya yang sepi. Jiana menuju ke dapur namun mamanya tidak ada di sana juga. Ia sengaja tidak menghubungi mamanya karena ingin memberikan kejutan dengan ia tiba-tiba datang berkunjung.
"Ma?" ucap Jiana sedikit keras. Ia menuju ke kamar orang tuanya namun juga tidak ada. Jiana memilih untuk duduk di ruang tengah sambil menyalakan televisi. Ia menunggu mamanya pulang yang entah pergi ke mana. Jiana tidak menelepon mamanya karena takut mengganggu kegiatan mamanya yang mungkin sibuk di luar sana.
Sudah pukul 11.00 siang, tetapi mamanya tak kunjung pulang. Jiana merasa mulai lapar. Ia bergegas menuju ke dapur lalu menyiapkan makanan untuk ia makan.
Beberapa saat kemudian, Jiana sudah selesai memasak. Ia memakannya sambil menunggu mamanya pulang. Suara pintu utama terbuka. Pertanda mamanya sudah pulang.
"Astaga, mama kira siapa sayang. Kenapa tidak bilang mama kalau kamu ke sini?" ucap bu Desi sambil menghampiri Jiana. Ia memeluk putrinya dengan erat. Jiana tersenyum hangat menyambut mamanya.
"Sengaja. Mama dari mana?" tanya Jiana. Bu Desi duduk di samping Jiana.
"Habis arisan sama teman-teman mama. Bagaimana keadaanmu sayang?" ucap bu Desi. Ia menyentuh bahu Jiana dengan lembut.
Sorot mata Jiana berubah sendu. Bukan kesehatannya yang tak baik, namun ia selalu kepikiran perihal kehamilannya selanjutnya. Dokter pernah bilang jika ia belum bisa hamil lagi dalam waktu dekat ini. Karena pemulihan rahimnya yang memerlukan waktu cukup lama.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya bu Desi dengan lembut. Jiana hanya menggeleng dengan pelan. Bu Desi menarik Jiana dan memeluknya. Ia tahu ada kesedihan yang berusaha putrinya sembunyikan darinya. Namun bagaimanapun juga, bu Desi bisa mengetahui bahwa Jiana tidak baik-baik saja meski dirinya berusaha menampilkan senyuman di wajahnya.
"Dengarkan mama sayang. Kalian pasti bisa melewati masalah ini dengan baik. Tidak apa jika kamu belum bisa mempunyai anak sekarang. Kenapa tidak mencoba mengadopsi anak saja?" ujar bu Desi sambil mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Mengadopsi anak?" tanya Jiana sambil menatap mamanya. Ia mengernyitkan dahinya. Menatap mamanya dengan bingung.
__ADS_1