
Sudah lewat satu bulan sejak hari itu. Kini sikap mereka seperti biasanya. Jiana juga sudah mulai libur semester. Hubungan mereka juga kian membaik. Jiana mulai bisa menerima Raka sebagai suaminya. Bagaimanapun perlakuan Raka kepadanya, Jiana juga tidak lagi menolaknya.
Hari liburnya ia gunakan untuk menyicil menyusun skripsi. Memperdalam lagi referensinya dan mencari-cari judul yang menurutnya cocok dan ia memahami itu.
Jiana ingin mengisi waktu liburnya untuk bekerja di perusahaan suaminya. Ia hanya ingin belajar mengelola perusahaan. Hitung-hitung juga membantu Raka.
Meskipun awalnya Raka tidak memperbolehkannya, tetapi sifat keras kepala Jiana lebih menyebalkan. Alhasil, Raka mengiyakan Jiana untuk bekerja di kantor. Dengan syarat berangkat dan pulangnya satu mobil dengan Raka.
Sudah satu minggu ini Jiana bekerja di sana. Tidak ada yang tahu bahwa Jiana adalah istri dari pemilik perusahaan itu. Kecuali asisten dan sekretaris pribadi Raka.
Jiana cukup puas bekerja di sana. Ia jadi banyak teman dan kenalan. Bukan hanya berdiam diri di rumah yang sangat membosankan. Sesekali juga ia makan dengan Sarah. Walaupun hanya sekedar mengobrol biasa.
Pagi-pagi Jiana harus sudah selesai memasak dan mengurus rumahnya. Ia semakin terbiasa dengan urusan rumah tangga. Meskipun terkadang dirinya masih mengeluh.
"Pagi sayang," sapa Raka yang baru bangun tidur. Dengan penampilannya yang acak-acakan. Ia duduk di kursi dan mengambil air putih.
__ADS_1
Namun Jiana masih sibuk menyapu. Ia hanya menatap Raka sekilas kemudian melanjutkan aktivitasnya.
"Pulang kantor ke rumah mama yuk," ajak Raka.
"Boleh, ke rumah mama Mira kan?" tanya Jiana memastikan. Raka mengangguk pelan.
"Atau ke rumah mama Desi juga nggak apa-apa kok," ucap Raka kembali.
"Eh, ke rumah mama Mira saja. Sudah lama kan kita nggak ke sana," ujar Jiana. Ia selesai menyapu dan kini mencuci tangannya. Mereka sarapan bersama.
Seperti biasa, mereka berangkat ke kantor satu mobil. Yah mau bagaimana lagi, Raka tidak akan mengizinkan Jiana ke kantor jika tidak berangkat bersamanya.
"Ingat, nanti kita makan siang bareng," ujar Raka. Ia mengecup sekilas kening Jiana.
"Iyaa.." jawab Jiana. Ia tersenyum tipis. Jiana memang jarang menyetujui untuk makan siang bareng suaminya.
__ADS_1
"Ya sudah sana. Jangan capek-capek," ucap Raka. Jiana mengangguk. Ia keluar mobil dan buru-buru menjauh dari mobil Raka.
Sudah banyak karyawan yang berdatangan. Jiana tak lupa menyapa mereka. Tetapi tidak dengan Sandra. Dan kebetulan sekali ia satu devisi dengan Sandra. Entah kenapa tatapan Sandra selalu terlihat tak suka kepada Jiana. Namun Jiana berusaha bersikap ramah. Tetapi Sandra justru mengabaikannya. Dan saat itu pula, Jiana tak lagi menyapanya.
Jiana langsung masuk ke ruangannya. Ia duduk dan langsung menyalakan laptopnya. Jiana mulai mengerjakan tugasnya.
"Ehm," ucap Sandra yang berdiri tak jauh dari meja Jiana.
"Ada hubungan apa kamu sama pak Raka?" tanya Sandra tanpa basa-basi. Jiana menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap ke arah Sandra.
"Maksud kamu apa ya?" tanya Jiana bingung.
"Aku tadi lihat kamu keluar dari mobilnya pak Raka. Atau jangan-jangan kamu mencoba menggoda pak Raka ya?" tanya Sandra sinis.
"Apaan sih ini orang, nggak jelas banget," batin Jiana. Ia tidak ingin mencari masalah namun Sandra selalu datang mencari gara-gara.
__ADS_1
"Memangnya penting buat kamu untuk tahu hubungan aku sama pak Raka?" tanya Jiana ketus. Ia melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Dasar wanita murahan! Awas aja ya kamu!" umpat Sandra dan ia kembali ke meja kerjanya dengan kesal. Jiana hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Pagi-pagi sudah mencari masalah saja.