
Beberapa hari kemudian,
Hari ini adalah hari yang paling menegangkan sekaligus membuat Raka dan Jiana bersedih. Setelah konsultasi dengan dokter pribadinya, kini Jiana jauh lebih ikhlas dan tegar untuk menerima keadaan. Pasalnya, hari ini Jiana menjalani serangkaian prosedur untuk pengangkatan janinnya.
Setelah semalaman Jiana berada di rumah sakit untuk memantau keadaannya, siang ini ia sudah siap menjalani operasinya. Raka dengan setia menemani istrinya. Bahkan kedua orang tua mereka juga ikut menjaga di rumah sakit semalaman.
"Apa kamu takut sayang?" tanya Raka sambil menggenggam tangan Jiana. Mereka masih berada di ruang perawatan sambil menunggu jadwal Jiana operasi. Raka mencium punggung tangan Jiana dengan lembut.
"Aku tidak takut, bukankah kamu bilang ini demi kebaikanku?" balas Jiana. Raka tersenyum tipis. Lalu ia mengecup kening istrinya cukup lama. Raka menatap perut Jiana. Ia mengusapnya dengan lembut dan menciumnya. Jiana hanya tersenyum tipis melihat tingkah suaminya.
"Maafkan papa sayang..." gumam Raka yang masih menciumi perut istrinya itu.
Tak lama setelah itu, dokter Faye tiba di ruangan mereka. Raka segera membenarkan posisinya. Dokter Faye datang dengan dua perawatnya yang akan membawa Jiana ke ruang operasi.
"Apa sudah siap?" tanya dokter Faye. Jiana mengangguk tipis. Perawat tersebut segera mendorong brankar yang ditempati Jiana menuju ke ruang operasi. Raka mengikutinya dari belakang. Ia langsung mengabarkan kepada kedua orang tuanya jika istrinya akan menjalani operasinya saat ini. Meskipun hanya operasi kecil, tetap saja membuat Raka gelisah dan khawatir.
Jiana benar-benar sudah memasuki ruang operasi. Raka menunggu di depan ruangan tersebut. Ia duduk di kursi tunggu dan menghela napasnya berkali-kali. Pikirannya tertuju pada istrinya.
Beberapa saat kemudian, Jiana sudah dipindahkan di ruang perawatan kembali. Operasinya berjalan dengan lancar. Kondisi Jiana juga lebih baik dari sebelumnya. Ia sudah berusaha semampunya sebelumnya, namun takdir berkata lain dan belum mengizinkannya untuk memiliki buah hati. Hati mana yang tidak hancur jika kehilangan kesempatan untuk membesarkan buah hatinya. Tetapi, keberadaan Raka yang selalu mendukungnya membuatnya mampu melewati masa sulit ini. Ia juga merasa beruntung memiliki suami sebaik Raka.
__ADS_1
"Dok, berapa hari saya harus dirawat di rumah sakit?" tanya Jiana saat dokter Faye mengecek kondisinya.
"Tidak lama, mungkin tiga atau empat hari sudah boleh pulang. Sebelum saya memastikan kondisimu baik-baik saja, kamu tidak boleh pulang," ucap dokter Faye. Ia tersenyum ramah pada Jiana.
Setelah itu, dokter Faye pamit untuk kembali ke ruangannya. Kini, di ruang tersebut hanya tinggal mereka berdua. Raka menghampiri Jiana dan memeluk istrinya. Ia menciumi puncak kepala istrinya berulang kali.
"Mas, apa tidak bisa aku dirawat di rumah saja? Aku tidak suka di sini," rengek Jiana sambil mendongak menatap suaminya.
"Nanti aku bicarakan lagi dengan dokter Faye, kamu istirahatlah dulu," ucap Raka. Jiana mengangguk. Ia mulai memejamkan matanya. Raka terus mengusap kening Jiana dengan lembut hingga istrinya tertidur.
***
Malamnya, Mira datang menjenguk Jiana. Saat itu Jiana baru selesai pemeriksaan. Mira turut bersedih dengan cobaan yang menimpa mereka. Semenjak ia tahu bahwa kehamilan Jiana mengalami masalah, Mira tak lagi menekan untuk segera memiliki momongan. Ia tahu, apa yang dialami Jiana sangatlah berat.
"Jian baik-baik saja Ma. Kata dokter besok sudah boleh pulang kok," jawab Jiana lalu tersenyum tipis.
Setelah konsultasi kembali sore tadi, besok ia sudah boleh pulang. Namun, ia harus istirahat untuk sementara waktu. Ia juga harus rutin untuk cek up ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Mira.
__ADS_1
Mereka mengobrol berdua saja. Karena Raka sedang tidak ada di ruangan tersebut. Mereka mengobrolkan banyak hal. Sudah lama mereka tidak berbincang dengan santai seperti ini. Semenjak Mira sempat mendesaknya, hubungan mereka sedikit merenggang. Namun kali ini hubungan itu kembali membaik seperti sebelumnya.
Sekitar dua jam Mira berada di sana. Hari semakin larut. Tak memungkinkan bagi Mira untuk menginap di sana. Setelah berpamitan kepada Raka dan Jiana, Mira kembali ke kediamannya.
Saat ini hanya tinggal mereka berdua. Keadaan di dalam ruangan tersebut sangat hening. Jiana membaringkan dirinya dalam dekapan suaminya. Sedangkan Raka memeluknya sambil mengusap rambut istrinya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali Raka mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Mas," panggil Jiana dengan pelan.
"Ya?"
"Kamu masih sering bertemu dengan Niha?" Tiba-tiba saja Jiana menanyakan hal itu. Raka langsung mengernyitkan dahinya. Ia menatap istrinya dengan lekat.
"Kenapa kamu bertanya hal itu? Kamu tidak percaya sama suami kamu sendiri?" tanya Raka balik.
"Bukan, aku tahu Niha itu wanita seperti apa. Aku hanya takut suamiku akan tergoda olehnya," jawab Jiana polos. Raka tertawa kecil. Ternyata ada juga sisi Jiana yang seperti itu.
"Menurutmu, apakah aku akan semudah itu berpaling pada wanita lain?" tanya Raka. Jiana terdiam sambil berpikir sesuatu. Memang Raka bukan tipe lelaki yang mudah didekati oleh wanita lain ataupun sampai tergoda.
"Tapi mas, diakan sempurna. Beda sama aku," ujar Jiana. Raka menghela napasnya pelan. Ia mengecup kening dan bibir istrinya sekilas.
__ADS_1
"Tapi kamu yang sempurna dimataku. Tidak ada wanita lain. Entah itu Niha atau siapapun, kamu tetaplah yang paling sempurna untukku sayang," bisik Raka. Lalu ia menciumi pipi istrinya dengan gemas. Jiana hanya tersenyum manis.
"Tidurlah, kamu harus banyak istirahat sayang," ucap Raka. Jiana mengangguk. Mereka tidur seranjang berdua dengan Raka memeluk Jiana.