Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 30


__ADS_3

Mereka sampai di depan rumah orang tua Jiana. Jiana turun dari motor. Tubuhnya gemetar karena ini pertama kalinya ia naik motor. Sepanjang perjalanan ia memeluk erat Raka.


Raka membantu Jiana melepas helmnya. Ia tersenyum tipis sambil menangkup wajah Jiana.


"Kenapa? Masih takut?" tanya Raka dan memeluk Jiana. Bahkan mereka tak sadar jika Desi memperhatikan mereka.


"Sedikit. Kamu jangan ngebut-ngebut lagi," jawab Jiana. Raka mencium kening Jiana dan mengajaknya masuk.


"Mama? Sejak kapan mama di sana?" tanya Jiana dan melepas tangan Raka yang sedang memeluknya. Jiana sedikit berlari menghampiri Desi dan memeluknya erat.


"Sejak kalian datang," jawab Desi. Pipi Jiana merona. Pasti mamanya melihat semua yang Raka lakukan tadi.


"Apa kabar Ma?" tanya Raka dan mendekat ke arah Desi. Raka mencium tangan mertuanya itu.


Mereka masuk ke dalam. Hanya ada Desi di rumah. Alex masih kerja di kantornya. Mereka mengobrol sambil Desi menyiapkan camilan dan minuman untuk mereka.

__ADS_1


"Bagaimana Raka? Apa Jiana menyusahkanmu di sana?" tanya Desi sambil membawa nampan yang berisi minuman dan camilan.


"Yang ada Raka yang nyusahin Jiana Ma," jawab Jiana cepat. Ia mendapat tatapan tajam dari Desi.


"Nggak kok Ma, Jiana sama sekali nggak ngrepotin Raka. Jiana justru menjadi istri yang penurut dan rajin," ungkap Raka sambil melirik ke arah Jiana. Yang dilirik hanya acuh. Bagaimana tidak rajin, Raka yang memaksanya melakukan tugas itu. Jika saja ada pembantu di rumahnya ia tidak akan serajin itu.


"Baguslah kalau Jiana sudah mengerti tanggung jawabnya. Dia ini dari dulu selalu dimanja, mama sangat khawatir saat kalian memutuskan untuk tinggal di rumah kalian sendiri," tutur Desi.


Raka dan Jiana hanya saling melempar senyum. Namun senyum Jiana terlihat kaku. Tak banyak yang mereka lakukan di sana selain duduk di sofa sambil menonton acara tv. Bahkan tanpa malunya Raka tiduran dengan kepalanya di atas paha Jiana. Jiana hanya bisa menahan kekesalannya. Ia tidak mungkin mengusir Raka begitu saja.


Jiana hanya mengangguk dan kembali fokus pada acara tv yang menjadi favoritnya. Sudah lama ia tidak menontonnya. Sudah lama juga ia tidak bersantai seperti ini. Karena jika sudah di rumah ada saja hal yang menjadi pertengkarannya dengan Raka.


Setelah memastikan mertuanya ke dapur, Raka bangun dan langsung mengecup bibir Jiana sekilas. Jiana terkejut dan langsung mendorong tubuh Raka.


"Apa yang kamu lakukan?" ucap Jiana pelan sambil melihat ke arah dapur. Siapa tahu mamanya melihatnya lagi.

__ADS_1


"Ke kamar yuk," ajak Raka. Tangannya sudah bersiap untuk menggendong Jiana. Namun tangannya ditahan oleh Jiana.


"Aku bisa jalan sendiri," ujar Jiana dan ia melangkah lebih dulu tanpa menunggu Raka. Ia pamit kepada mamanya untuk kembali ke kamar. Kamar yang sudah beberapa hari tak di tempatinya.


Sampai di kamar, Jiana langsung merebahkan tubuhnya. Ia bahkan tak peduli jika Raka sudah ada di dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Raka mendekat dan langsung menindih Jiana. Mengunci pergerakan Jiana.


"Nyaman juga kamarmu sayang," ucap Raka di depan wajah Jiana. Jiana hanya memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin bertatap wajah dengan orang dihadapannya ini.


"Mau apa kamu? Jangan aneh-aneh di sini ya," peringatan Jiana kepada Raka. Raka hanya tersenyum tipis dan mengusap pipi Jiana dengan lembut. Raka memajukan wajahnya dan mulai mencium bibir Jiana. Sedangkan Jiana hanya pasrah.


"Aku membencinya tapi saat ia melakukan ini padaku kenapa aku tidak bisa menolak? Bahkan aku merasa sangat nyaman," batin Jiana.


Raka melepas ciumannya. Ia berbaring di samping Jiana. Raka merengkuh Jiana ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung Jiana.


"Aku tidak akan lagi memaksamu sayang. Meskipun saat ini aku begitu menginginkannya. Aku akan melakukannya jika kamu sendiri yang meminta," setelah mengucapkan kalimat tersebut, Raka mencium kening Jiana dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Jiana merasa sedih. Entah kenapa tergurat rasa kecewa dalam hatinya. Perasaan apa seperti ini? Selama ini ia belum pernah merasakan hal yang seperti ini. Ia tak banyak memikirkan. Ia terlelap dalam pelukan Raka.


__ADS_2