Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 47


__ADS_3

Jiana menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian, ia sudah keluar dan sudah berganti pakaian. Jiana menyisir rambutnya dan segera turun menuju meja makan.


Jiana melihat Raka dan mertuanya sudah berada di meja makan. Dengan senyum canggung, Jiana menyapa mereka. Jiana duduk di samping Raka. Ia melirik Raka sekilas dan menyenggol lengannya.


"Kenapa tidak membangunkanku?" bisik Jiana.


"Aku sudah membangunkanmu sayang. Tapi kamunya yang susah bangun," jawab Raka.


"Aku kan jadi malu sama mama," ujar Jiana lagi.


"Santai saja," jawab Raka.


Mereka mulai sarapannya. Setelah selesai sarapan, Raka dan Jiana pamit untuk pulang. Mereka tetap kembali bekerja seperti biasanya. Namun tidak untuk Jiana. Semalam ia kurang istirahat. Raka menyuruh Jiana untuk istirahat di rumah saja.


Saat ini mereka telah sampai di rumah mereka. Jiana langsung membuka pintu rumah dan masuk begitu saja.


"Nggak usah masuk kerja dulu. Kamu istirahatlah di rumah sayang," ucap Raka sambil menaiki anak tangga. Ia bergegas menuju kamar. Jiana menyusul Raka yang ada di kamar.

__ADS_1


"Ya sudah, aku juga malas untuk bekerja hari ini," jawab Jiana. Ia merebahkan dirinya di kasur. Raka menuju kamar mandi untuk berganti pakaiannya.


"Kalau begitu aku kerja dulu ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku," ucap Raka. Ia mencium kening Jiana dengan lembut.


"Iya. Kamu hati-hati. Jangan lupa tutup pintunya kembali," ujar Jiana. Raka mengangguk. Ia berlalu meninggalkan Jiana.


Sampai di kantor, Raka segera menuju ke ruangannya. Ia disambut oleh Farrel dan juga Vanya. Vanya memberitahukan jadwalnya hari ini. Raka hanya mengangguk. Langkahnya menuju kursi kerjanya.


"Bagaimana perkembangan proyek kita yang kemarin Farrel?" tanya Raka.


"Hah, nanti siang kita ke sana. Jangan beritahu mereka dulu. Aku ingin lihat bagaimana kinerja mereka," ucap Raka. Farrel mengangguk paham.


Sedangkan di meja Sandra, ia terus melihat ke ruangan Jiana. Biasanya ia melihat Jiana sudah duduk manis di sana. Tetapi kali ini kosong.


"Di mana dia? Apa dia sudah dipecat? Cepat sekali," gumam Sandra senang. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan di rumah, Jiana melanjutkan tidurnya. Kali ini ia ingin bermalas-malasan di atas kasurnya. Ia sempat video call dengan Farah untuk menanyakan kabarnya. Merasa tidak puas karena hanya mengobrol lewat video call saja, Jiana menyuruh Sarah agar berkunjung ke rumahnya.

__ADS_1


"Hai, apa kabar?" sambut Jiana saat membukakan pintu untuk Sarah. Mereka saling berpelukan.


"Aku baik, kok kamu di rumah saja? Katanya magang di perusahaan pak Raka?" tanya Sarah. Mereka masuk dan duduk di sofa ruang tengah.


"Hari ini aku izin tidak bekerja," jawab Jiana. Ia menuju dapur untuk mengambilkan minum.


"Bagaimana kamu sendiri? Di kost ngapain saja?" tanya Jiana.


"Aku nggak ada kerjaan," jawab Sarah. Jiana menyodorkan minuman untuk Sarah.


"Bagaimana kalau aku mengusulkanmu untuk bekerja di kantor Raka?" ujar Jiana. Sarah seolah berpikir sejenak. Tidak ada salahnya ia bekerja di sana untuk sementara waktu. Sambil mengisi waktu liburnya.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Sarah.


"Biar aku yang mengurusnya," jawab Jiana santai. Sarah mengangguk.


Mereka melanjutkan mengobrol sambil menonton tv. Sebenarnya hari ini ia ingin pergi bersama Sarah, namun ia malas keluar rumah. Alhasil, mereka hanya menonton acara tv saja.

__ADS_1


__ADS_2