
Beberapa hari pun berlalu. Kini, dengan begitu banyak masalah yang menerpa rumah tangga mereka justru menjadi penguat cinta mereka. Sempat tergoyahkan karena kehadiran orang ketiga, namun itu mampu mereka lewati. Kesalah pahaman yang biasa terjadi antara suami dan istri, membuat mereka semakin saling mempercayai dan menyayangi.
Tak ada yang istimewa dari hari biasanya. Semua berjalan lancar seperti biasanya. Namun yang berbeda di sini, semenjak kepulangan mereka dari rumah orang tua Jiana, membuat Jiana sering mengeluh tidak ingin didekati suaminya sendiri. Sampai Raka pun dibuat bingung oleh kelakuan istrinya itu. Terlebih lagi, dengan permintaan aneh yang istrinya inginkan itu, terkadang membuat Raka pusing dibuatnya.
Saat ini, Jiana sedang berkemas membereskan baju-baju suaminya. Memasukkannya ke dalam koper. Ya, selama tiga hari ke depan, Raka ada perjalanan bisnis keluar kota. Sebenarnya, Raka tak tega meninggalkan anak dan istrinya. Namun, ia tetap harus menghadiri pertemuan tersebut.
"Jangan banyak-banyak sayang, hanya tiga hari saja kok. Nanti begitu selesai aku juga langsung pulang," ujar Raka agar Jiana tidak menyiapkan baju terlalu banyak. Wanita itu hanya tersenyum dan dirinya masih fokus dengan baju-baju itu.
"Oh ya, kamu yakin tidak ingin ikut?" tanya Raka memastikan. Ini bukan kali pertama Raka melakukan perjalanan bisnis. Dan, setiap itu Jiana selalu turut serta. Namun kali ini berbeda. Jiana memilih menunggu di rumah bersama putrinya.
"Lain kali saja mas. Kasihan Maura jika terlalu banyak izin," jawab Jiana. Raka hanya manggut-manggut.
Selesai berkemas, Raka bersiap untuk perjalanannya. Siang ini juga ia akan berangkat. Farrel telah menunggunya di luar sana.
Jiana mengantar suaminya hingga ke teras rumah. Ia menatap suaminya dengan lekat. Seakan tidak ingin suaminya meninggalkannya.
"Jaga diri baik-baik sayang. Jika ada apa-apa jangan lupa hubungi mas ya," ucap Raka selepas mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Iya mas, mas juga hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan juga," tutur Jiana. Raka mengangguk.
__ADS_1
"Jangan nakal, jangan keluar sembarangan," ujar Raka sambil terkekeh. Karena sangat tidak mungkin Jiana berkeliaran di luar sana. Jiana tertawa kecil. Bisa-bisanya suaminya mengkhawatirkan hal-hal yang tak mungkin ia lakukan.
Pukul 10.00, Jiana pergi untuk menjemput putrinya. Selepas menjemput Maura, ia langsung bergegas ke supermarket terdekat untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Kebetulan, persediaan bahan-bahan makanan di rumah juga sudah menipis.
"Bunda, boleh beli es krim?" tanya Maura. Jiana mengangguk dan langsung mengambilkan es krim untuk Maura. Maura terlihat kegirangan.
Selesai membayar belanjaannya, mereka langsung kembali ke mobil dan bergegas untuk pulang.
"Jiana," sapa seseorang saat Jiana baru ingin membuka pintu mobilnya. Ia menoleh dan terkejut melihat wanita yang berdiri di belakangnya.
"Niha," gumam Jiana terkejut. Niha tersenyum tipis. Jiana menyuruh Maura untuk masuk mobil terlebih dahulu agar tidak melihat jika nanti Jiana dan Niha bertengkar di sana.
"Baik," sahut Jiana singkat.
"Lusa aku akan kembali ke luar negeri. Aku senang bisa bertemu di sini denganmu. Sekalian aku juga ingin meminta maaf padamu. Jiana, maafkan aku yang sempat ingin memisahkan kamu dengan Raka. Tapi sungguh, sekarang aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Niha dengan sungguh-sungguh..
"Tidak apa. Lupakan saja. Anggap itu tidak pernah terjadi di antara kita," balas Jiana.
***
__ADS_1
"Bunda kenapa?" tanya Maura saat mendapati Jiana hampir saja terjatuh jika ia tidak segera bertumpu pada sofa di sampingnya.
"Bunda baik-baik saja sayang. Maura sama bi Lastri sebentar ya," ujar Jiana. Gadis kecil itu mengangguk dengan patuh. Ia berlari kecil menuju kamarnya dengan didampingi oleh bi Lastri. Sedangkan Jiana memilih untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Sebenarnya aku kenapa sih? Kenapa akhir-akhir ini sering pusing?" gumamnya sambil memijat pelipisnya. Ia ingin beristirahat sejenak. Belum sempat melangkahkan kakinya, Jiana langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Bundaaa..." teriak gadis kecil itu sambil berlari menuju ke arah Jiana. Bi Lastri juga langsung menghampiri Jiana dengan panik. Ia segera meminta tolong kepada Mang Udin, sopir baru yang Raka pekerjakan untuk mengantar jemput Jiana saat mengantar Maura ke sekolahnya.
***
Ruangan itu begitu sepi dan hening. Jiana terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang di tangan kirinya. Semenjak dilarikan ke rumah sakit, dirinya belum sadarkan diri. Orang tua dan mertuanya menunggunya dengan cemas. Sedangkan bi Lastri masih berusaha menenangkan Maura yang sedari tadi menangis.
"Pasien hanya butuh banyak istirahat bu, jangan khawatir," ucap dokter yang memeriksa keadaan Jiana. Mama Desi mendekat ke arah ranjang. Ia mengusap kening putrinya dengan lembut.
"Putri kita Pa," gumam wanita paruh baya itu. Pak Alex mengusap pelan bahu istrinya itu.
"Apa sebaiknya menghubungi Raka? Suaminya juga berhak tahu kan mbak," ucap mama Mira yang mendekat ke arah mereka.
"Iya, tapi kata bi Lastri baru saja pergi untuk perjalanan bisnisnya. Aku takut mengganggunya," balas mama Desi.
__ADS_1
"Tidak harus pulang sekarang kan, setidaknya Raka tahu bagaimana keadaan istrinya," ujar mama Mira dan dibalas anggukan dari mama Desi. Mereka sepakat untuk memberitahu Raka akan hal ini.