
"Selamat siang Raka," ucap Niha dengan ceria. Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe yang lumayan jauh dari kantornya.
"Kamu? Ngapain di sini?" ucap Raka terkejut saat ia tahu Niha ada di sana.
"Maaf pak, dia adalah sekretaris pribadi saya yang baru," jawab pak Rusdi. Salah satu klien Raka hari ini. Raka hanya tersenyum tipis dan langsung mempersilakan mereka untuk duduk. Ia baru tahu jika Niha sudah keluar dari perusahaan Pranaja dan bekerja di perusahaan yang dikelola oleh pak Rusdi.
Pertemuan tersebut berjalan dengan lancar. Raka bersikap profesional dalam pekerjaannya. Meski ia sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Niha di sana.
"Terima kasih pak, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap pak Rusdi sambil menjabat tangan Raka. Mereka saling melempar senyum dan terlihat begitu senang dengan kerja sama kali ini.
"Senang bisa bekerja sama dengan Anda tuan," balas Raka.
Setelah itu, mereka makan siang bersama. Tanpa disadari, sedari tadi Niha terus memperhatikan Raka. Dirinya belum bisa melupakan cintanya kepada Raka. Ia bertekad akan terus mendekati Raka hingga bisa mendapatkan cintanya.
Selesai makan siang, Raka ingin segera kembali ke kantornya. Setelah urusannya selesai, ia tidak ingin ada urusan lagi dengan Niha. Raka pamit terlebih dahulu untuk kembali ke kantornya.
"Raka tunggu!" ucap Niha mencoba menghentikan Raka. Raka berhenti tanpa membalikkan tubuhnya menghadap Niha. Lalu ia menyuruh Farrel agar menuju ke mobil mereka terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kenapa kamu terus menghindariku? Apa ini karena istri kamu?" tanya Niha sambil berjalan mendekati Raka.
"Aku hanya tidak ingin istriku salah paham terhadapku," balas Raka dingin.
"Tapi Raka, kamu tidak perlu menghindariku seperti ini," ucap Niha. Raka menghela napasnya sejenak.
"Hubungan kita saat ini hanya sebatas rekan kerja. Tolong jaga sikap kamu. Aku permisi," ujar Raka dengan dingin. Ia meninggalkan Niha yang masih berdiri diposisinya.
Niha mengepalkan tangannya. Tergurat aura kebencian dalam dirinya. Selama ini ia berpikir bahwa hanya dirinya wanita satu-satunya yang dekat dengan Raka. Namun, nyatanya itu salah. Ia bahkan tidak mengetahui kabar perihal Raka menikah dengan wanita lain. Terlebih lagi Raka begitu mencintai istrinya itu.
"Aku tidak akan diam saja. Dia yang sudah merebutmu dariku! Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Raka. Lihat saja nanti," gumam Niha. Untuk saat ini ia tidak bisa melakukan apapun.
Setelah puas bertemu dengan Sarah, Jiana kembali ke rumahnya dan menyiapkan menu makan siang untuk suaminya. Meskipun ia tahu jika jam makan siang sudah terlewat dan mungkin juga Raka sudah makan siang di kantornya, tetap saja ia ingin menyiapkannya.
Setelah selesai menyiapkan menu makan siang untuk suaminya, Jiana bergegas menuju ke kamarnya dan bersiap-siap. Beberapa minggu terakhir ini Raka selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktu untuk bersama dengan Jiana semakin berkurang. Itulah sebabnya, Jiana berinisiatif untuk menghampiri suaminya di kantor. Meskipun Raka sudah melarangnya, Jiana tidak peduli.
"Bi, saya tinggal sebentar ya," ucap Jiana. Bi Lastri mengangguk dengan sopan. Kemudian Jiana pergi ke kantor suaminya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, ia sudah sampai di depan kantor. Jiana langsung masuk menuju ke ruangan suaminya.
"Pak Raka ada?" tanya Jiana pada Vanya. Vanya langsung berdiri dan menyambut Jiana dengan ramah.
"Pak Raka masih di luar kantor. Beliau lagi ada meeting dengan kliennya. Apa perlu saya memberitahu pak Raka nyonya?" ujar Vanya. Jiana tersenyum tipis.
"Tidak perlu. Saya akan menunggu di dalam saja," ucap Jiana. Lalu ia masuk ke dalam ruangan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Raka dan Farrel masuk ke dalam ruangan. Mereka terkejut dengan kedatangan Jiana di kantor. Jiana tersenyum manis menyambut mereka.
"Sayang, kenapa kamu tidak menghubungiku jika mau ke sini?" tanya Raka sambil berjalan mendekati istrinya. Sedangkan Farrel pamit undur diri.
"Sengaja. Aku takut mengganggu pekerjaanmu," balas Jiana. Mereka duduk di sofa dan Raka langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Jiana. Raka menghembuskan napasnya dengan pelan. Ia juga terlihat begitu lelah. Jiana hanya tersenyum tipis sambil mengusap rambut suaminya dengan lembut.
"Mas, jangan terlalu memaksakan diri. Aku tahu kamu lelah, tetapi kamu juga jangan lupa beristirahat. Akhir-akhir ini kamu sering pulang larut malam. Aku khawatir dengan kesehatanmu mas," ujar Jiana. Memang semenjak Jiana sakit, pekerjaan suaminya tak begitu terurus. Raka tersenyum tipis. Ia mengecup pipi Jiana sekilas lalu kembali bersandar. Raka mengeratkan genggamannya dan mengecup tangan Jiana dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa sayang. Yang terpenting kamu harus banyak istirahat," ucap Raka.
__ADS_1
"Baiklah. Mas, kamu sudah makan siang?" tanya Jiana. Raka mengangguk pelan.
"Tapi kalau kamu suapi aku juga mau makan lagi," balas Raka lalu menyengir sambil menatap istrinya. Jiana tersenyum lebar dan segera menyiapkan menu makanan yang ia bawa tadi. Jiana menyuapi Raka dengan penuh perhatian.