
Raka kembali duduk di kursi dan memilih menunggu Jiana selesai masak. Ia memainkan ponselnya. Jiana menatap Raka dengan kesal dan kini menyelesaikan masaknya kembali.
30 menit kemudian, makanan sudah tersaji di meja makan. Namun Jiana tidak ikut duduk dengan Raka. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya.
"Mau ke mana?" tanya Raka sambil menarik tangan Jiana.
"Ke kamar," jawab Jiana dengan ketus.
Raka menghela napasnya pelan. Ia berdiri dan menatap Jiana yang masih memalingkan wajahnya.
"Kamu nggak mau makan sama aku?" tanya Raka dan tangannya meraih kedua tangan Jiana. Ia memegangnya dan menciumnya sekilas.
"Gak nafsu makan," balas Jiana sambil menarik tangannya.
"Terus?" tanya Raka menatap Jiana lekat.
__ADS_1
"Apa?" Jiana mengernyitkan dahinya.
"Jangan marah terus dong, aku minta maaf ya," pinta Raka dengan wajah memelas.
Jiana justru diam saja dan memilih melangkah pergi dari hadapan Raka. Meskipun ini berlebihan, namun Jiana sedikit kesal dengan sikap Raka yang terkadang cemburuan, terkadang perhatian dan posesif, terkadang marah-marah tidak jelas padanya.
Jiana hanya ingin menenangkan hatinya yang seolah lelah dengan kehidupannya saat ini. Kenapa hidupnya tak bahagia lagi seperti sebelum ia menikah. Ia seperti tertekan dengan segala sikap Raka yang itu sebenarnya juga demi kebaikannya.
Jiana memasuki kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia tengkurap sambil memeluk bantal dan ia menangis. Jiana sungguh lelah dengan keadaan seperti ini.
Raka membuka pintu kamarnya dengan pelan. Ia bisa merasakan saat ini Jiana lagi menangis. Walaupun ia tidak mendengar suara isak tangisnya.
Raka mendekat ke arah Jiana. Ia duduk di samping Jiana dan mengusap rambut Jiana dengan lembut.
"Sayang, jangan marah lagi dong," ujar Raka yang tangannya masih membelai rambut Jiana. Jiana masih terdiam. Ia sama sekali tak berniat untuk menjawab Raka.
__ADS_1
"Mau dibeliin permen gak?" tanya Raka dan ia membenarkan duduknya. Mendengar hal itu, Jiana langsung berbalik dan menatap Raka.
"Kok permen?" tanya Jiana yang tak mengerti.
"Biasanya kalau anak kecil nangis itu diberi permen biar berhenti nangisnya. Siapa tahu kamu juga seperti itu," ungkap Raka dan ia tertawa kecil.
Jiana memukul lengan Raka dan memanyunkan bibirnya. Jiana mendudukkan dirinya.
"Kamu pikir aku ini anak kecil apa?" balas Jiana yang masih cemberut.
Raka menarik Jiana ke dalam pelukannya. Jiana sama sekali tidak menolak, justru membalas pelukan Raka. Melihat sikap Jiana yang tidak menolak dirinya, Raka mengembangkan senyumnya. Ia yakin, lambat laun Jiana akan menerimanya sebagai suami seutuhnya. Ini hanya perlu waktu yang entah kapan akan terjadi.
"Raka, soal omongan aku waktu itu serius tahu, aku capek kalau harus melakukan pekerjaan rumah tangga sendirian. Gak apa-apa deh aku setiap hari masak. Tapi kalau untuk bersih-bersih aku nggak sanggup. Kamu pertimbangkan lagi ya? Nggak kasihan sama aku? Sebentar lagi aku juga sibuk loh," ungkap Jiana sambil menundukkan kepalanya.
Raka malah tersenyum mendengar ungkapan Jiana yang sedang mengeluh padanya. Sebenarnya ia tidak tega. Namun ini ia lakukan agar Jiana mampu melakukan tugas rumah tangga dengan baik.
__ADS_1