
Hatiku terus berdebar. Rasanya semakin ingin dan ingin menatap wajah cantiknya. Aku tidak merasa takut. Entah mengapa, aku betah memandangi wajahnya. Rasanya aku seperti tidak sedang berhadapan dengan makhluk astral, hehehehe.
Dari yang semula diam, kini Noura mulai banyak berbicara. Ternyata dia juga fasih berbicara bahasa Indonesia. Meskipun bahasanya agak kaku dan terbata-bata. Dia mulai bercerita tentang dirinya dan juga rumah ini.
"Aku sudah menempati rumah ini sejak aku berusia sepuluh tahun. Papaku adalah generasi ketiga dari pemilik rumah ini," ujar Noura.
Noura melanjutkan ceritanya tentang masa kecilnya di Netherland. Dia tinggal di sebuah kota kecil di Belanda bernama Harlingen. Kota pelabuhan yang terkenal dengan industri perikanannya yang terletak di tepi laut Wadden, di Belanda bagian utara. Kota yang sejak abad ke 17 sudah memiliki arsitektur yang menarik. Setiap bangunan di sana memiliki nilai sejarah yang ikonik.
"Kami pindah ke Hindia Belanda saat usiaku 9 tahun. Papaku mendapat tawaran pekerjaan dari Opa Willy, Kakekku yang bekerja di salah satu perusahaan perkebunan terbesar di Batavia. Saat itu kami senang sekali, hatiku begitu penasaran dengan Negeri indah yang banyak diceritakan orang-orang sebagai negeri penghasil rempah-rempah terbanyak, yang sinar mataharinya begitu hangat dan kecantikan alamnya yang mempesona."
"Sebagai anak yang tumbuh di wilayah pesisir pantai tentu saja aku sangat antusias. Sehari sebelum berangkat ke Batavia, aku tidak bisa tidur semalaman." Noura melanjutkan ceritanya.
Hatiku semakin berdebar saat menatap wajahnya yang sedang asyik bercerita. Dengan lancar dia terus bercerita, seolah membawaku pada sejarah kehidupannya di masa lalu. Dan aku sangat tertarik.
"Mengapa kau terus menatapku?" tanyanya sambil tersipu.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? aku senang menatapmu. Kamu sangat cantik," jawabku.
Noura makin tersipu. Wajahnya menunduk dan dengan sekejap mata, dia menghilang. Dia sudah tidak ada lagi di sisiku. Kemana dia ya? apa dia marah denganku?
"Hey dimana kamu? apa kata-kataku salah? kamu memang cantik dan aku menyukaimu..." Dengan spontan aku berteriak.
Dengan spontan pula, aku teriakkan juga kata-kata gombal. Aah, kenapa dia pergi sih? padahal aku masih ingin berbincang padanya. Aku beranjak dari halaman dan segera masuk ke dalam. Langit mulai mendung, pertanda sebentar lagi akan turun hujan.
Aroma Mpek-mpek mulai tercium, Mama begitu bersemangat untuk berjualan lagi. Tadi pagi, Mama berkata padaku ingin mencari satu lagi asisten rumah tangga untuk membantunya berjualan. Pesanan Mpek-mpek terus bertambah setiap harinya.
Maafkan aku......Aku menghilang karena terpukau dengan rayuanmu. Aku juga sangat senang bisa bicara berdua denganmu. Aku juga menyukaimu.
Aku membaca tulisan pada selembar kertas yang tergeletak di atas kasur. Ooh, rupanya dia tadi masuk ke kamarku dan meninggalkan pesan ini.
Aku berdehem dan mencoba memanggilnya. Tapi dia tidak muncul. Akhirnya kutuliskan pesan untuknya.
__ADS_1
Datanglah sekarang......Aku ingin melihat senyummu lagi....
Kuletakkan kertas itu di atas laci meja. Aku pun melanjutkan lagi pekerjaanku mengedit beberapa video sebelum kuunggah ke youtube.
Sambil mengedit beberapa video aku tersenyum-senyum sendiri mengingat momen beberapa menit yang lalu bersama Noura. Berbincang sambil memandangi wajah cantiknya, benar-benar membuatku terkesan. Rasanya ingin melihatnya lagi.
Noura tadi mengatakan padaku kalau dia lahir tahun 1909. Dia punya seorang kakak perempuan bernama Sophia, yang hanya berjarak dua tahun di atasnya dan juga seorang adik laki-laki bernama Benjamin. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Ayahnya bekerja sebagai kepala staf administrasi perkebunan disekitaran Batavia termasuk wilayah Depok.
Ayahnya meneruskan jabatan Sang Kakek yang sudah bekerja sebagai pegawai perkebunan sejak tahun 1800 an. Leluhur Noura sudah bermigrasi sejak tahun 1700 an... Menurut ceritanya, Sang kakek buyut semasa hidupnya bekerja di VOC, bertugas menangani segala pajak tanah. Sang kakek buyut meninggal dunia pada tahun 1781. Konon menurut ceritanya, Sang kakek buyut adalah salah satu orang kepercayaan dari gubernur jendral VOC ke - 27 yang bernama Petrus Albertus Van der Parra.
Bersambung
Keterangan : Jendral Albertus der Parra adalah Gubernur Jenderal Hindia. Belanda ke -27 yang memimpin selama periode 1761 hingga 1765. Semasa kepemimpinannya, Van der Parra banyak melakukan tindak korupsi dan bergaya hidup mewah. Jejak peninggalan kejayaan Van Der Parra bisa dilihat dari bangunan rumah miliknya yang ada di daerah Cimanggis, Depok.
__ADS_1
Visualisasi Rumah Gubernur Jenderal Van Der Parra di kawasan Cimanggis- Depok.