
ENKELE MENSELIJKE LICHAMEN GEVONDEN VERBRAND AAN DE RAND VAN DE PESANGGRAHAN-RIVIER, VERMOEDIGD VAN DE FAMILIE VAN KEMMERS TE ZIJN
DITEMUKAN BEBERAPA JASAD TUBUH MANUSIA TERKUBUR DI TEPIAN KALI PESANGGRAHAN, DIDUGA MILIK KELUARGA VAN KEMMERS
Begitulah judul pada Headline berita yang marak bermunculan di beberapa koran lokal. Mendung dan awan hitam terus bergelayut di rumah kediaman keluarga Van Kemmers yang kini tak berpenghuni semenjak kematian Noura. Semua rekan dan sahabat yang mengenal keluarga itu merasa sangat kehilangan. Benar-benar tidak menyangka, nasib tragis harus menimpa mereka. Adrianus Van Kemmers beserta istri dan anak-anaknya juga ipar dan keponakan-keponakannya harus dihabisi secara keji dan brutal hanya karena perebutan tanah perkebunan. Lalu Noura, sang anak yang selamat karena berhasil bersembunyi harus meregang nyawa di pavilion rumah itu akibat terjatuh dari loteng.
Kecaman dan desakan datang dari berbagai penjuru. Tidak hanya dari warga Belanda yang berada di lingkungan sekitar tapi juga dari kelompok elite seperti pengusaha, juru warta juga kaum sosialita di klub-klub perkumpulan. Mereka mendesak polisi untuk segera menangkap dan mengadili Johans Alois. Polisi pun terus bergerak. Bahkan sayembara berhadiah pun digelar besar-besaran bagi siapa saja yang bisa menemukan Johans Alois.
Sementara itu di Harlingen, kesedihan terus memancar dari wajah Opa Willy dan keluarga besar Van Kemmers. Misa Requiem dan doa bersama digelar secara khidmat di sebuah gereja kecil.
Opa Willy tidak banyak bicara. Kabar kematian keluarga anak, menantu dan cucu-cucunya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Dan benar saja, dua hari setelah kabar duka itu diterimanya, Opa Willy menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan jantung. Duka mendalam membuatnya tidak mampu lagi untuk bertahan. Pria itu meninggal dunia dalam keadaan tertidur. Tangis duka terus menyayat di kediaman keluarga besar Van Kemmers di Harlingen.
__ADS_1
Tuan Frans Winhern dan juga dokter Hans yang masih berada di kediaman keluarga itu terus memberikan dukungan moril. Mereka meminta pada beberapa keponakan Opa Willy yang juga sepupu dari Adrianus Van Kemmers untuk datang ke Depok mengurus aset keluarga Van Kemmers yang masih tersisa sekaligus mengawal kasus pembunuhan Adrianus Van Kemmers sekeluarga sampai pelaku utamanya berhasil ditangkap.
Tapi sayangnya, tidak ada yang bersedia. Mereka beralasan, saat itu bukan momen yang tepat untuk bepergian. Mereka meminta waktu untuk menenangkan diri. Atas saran keluarga besar, mereka meminta agar sisa jasad keluarga Van Kemmers dikremasi secepatnya.
Setiba di Batavia, dokter Hans dan Tuan Frans segera melaksanakan amanat tersebut. Abu kremasi pun segera dikirim ke Harlingen. Sementara itu, proses pengadilan para pembunuh pun terus dilakukan. Masing-masing Centeng mendapatkan vonis hukuman mati. Terlebih kasus ini menimpa delapan nyawa warga Belanda totok. Tidak ada satu pun pembelaan terhadap para Centeng. Mereka juga akhirnya mengakui tentang pembunuhan terhadap Sudarman. Meskipun peran mereka hanya membantu Johans Alois dalam melakukan pembunuhan, mereka tetap dianggap bersalah dan harus melewati hari-hari panjang penuh penderitaan di dalam tahanan sambil menunggu proses eksekusi. Sementara itu, pencarian terhadap Johans Alois terus dilakukan. Namun tak juga menemukan hasil. Tak ada yang tahu di mana lokasi penjahat itu bersembunyi.
Waktu terus berputar. Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga tahun berganti tahun. Rumah keluarga Van Kemmers tetap membisu dalam gelap dan duka. Kesan angker mulai terlihat. Beberapa orang mulai tidak berani melewati rumah itu pada malam hari. Berbagai kabar mistis mulai tersiar dari mulut beberapa penduduk kampung yang pernah melewati rumah keluarga itu pada malam hari. Mulai dari penampakan bayangan hitam di balik jendela, suara isak tangis yang terdengar dari dalam rumah hingga suara langkah kaki yang terdengar jelas di halaman depan.
Sesekali Tuan Frans datang menengok rumah itu dan meminta para pekerjanya untuk membersihkan. Tuan Frans tidak ingin rumah itu terlihat angker dan tak terurus, meski dia tidak tahu bagaimana status kepemilikan dari rumah itu. Terlebih sepupu dari Adrian Van Kemmers belum ada yang bersedia datang untuk berkunjung.
Atas dasar kesepakatan dengan pihak keluarga besar Van Kemmers, tanah perkebunan milik Adrianus Van Kemmers yang terletak di Tjibinung (Cibinong) diambil alih oleh Herverman. Hasil penjualan tanah tersebut diserahkan secara utuh kepada keluarga besar Van Kemmers di Harlingen sebagai satu-satunya ahli waris.
__ADS_1
Dan goncangan ekonomi yang melanda Belanda turut mempengaruhi situasi ekonomi di Hindia Belanda ( Indonesia). Perekonomian semakin terpuruk pada saat itu sebagai akibat dari jatuhnya sistem moneter internasional. The Great Depression menyeret ekonomi dunia dalam keterpurukan hingga kurang lebih 10 tahun lamanya. Dampak kongkrit dari Depresi Hebat di Hindia Belanda tersebut berimbas pada hancurnya harga dan permintaan komoditas internasional, jatuhnya harga karet dan gula, serta krisis keuangan yang menyeret pada berkurangnya pendapatan dan daya beli masyarakat di seluruh pelosok tanah air.
Penurunan kesempatan kerja di Hindia Belanda terjadi di hampir semua sektor formal terutama sektor industri perkebunan dan kegiatan perdagangan di kota-kota besar. Banyak pabrik-pabrik yang gulung tikar dan banyak upah pekerja mengalami penurunan secara drastis. Baik rakyat pribumi maupun warga Belanda sama-sama merasakan keterpurukan ekonomi yang teramat sulit pada saat itu. Rakyat kecil harus berjuang bagaimana cara bertahan hidup agar tetap bisa makan, sementara kaum elite Belanda berjuang mempertahankan aset-aset kekayaan yang mereka miliki agar tidak banyak yang dijual.
Dalam sekejap, berita tentang kasus tragis yang menimpa keluarga Van Kemmers terpinggirkan dan menguap begitu saja. Tergantikan dengan isu-isu hangat seputar krisis ekonomi dunia yang mewabah secara besar-besaran pada saat itu. Fokus perhatian masyarakat lebih tertuju pada masalah berkurangnya pendapatan dan kemiskinan yang mereka alami. Kisah tragis yang menimpa keluarga Van Kemmers perlahan-lahan dianggap usang, ibarat sebuah cerita lokal yang awalnya dianggap menyeramkan lama-lama dianggap biasa. Tokh, urusan perut yang lapar dan kemiskinan nyatanya memang jauh lebih menyeramkan ketimbang cerita hantu.
Bersambung.
Keterangan :
Depresi ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat pada 1929 memberikan dampak ke perekonomian di seluruh dunia, termasuk Hindia Belanda. Harga komoditi di pasar dan permintaan akan barang merosot tajam seiring dengan depresi ekonomi yang terjadi. Hal ini berdampak kepada kebangkrutan di Hindia Belanda, terutama pada perusahaan-perusahaan di Jawa dan Sumatera.
__ADS_1
Menurut W. Arthur Lewis (1949), terdapat delapan faktor penyebab dari adanya depresi ekonomi di dunia, yaitu keterbatasan cadangan emas dunia, sistem ekonomi dunia yang semakin ketat, inflasi kredit di Amerika Serikat, rendahnya tingkat konsumsi, lemahnya penanaman modal, krisis bank pada tahun 1930-1932, meningkatnya tingkat hutang, dan kebijakan sistem gaji yang ketat yang ditetapkan oleh pemerintah dan perusahaan.
Sumber : Kompas.com