NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Ikut ke sekolah


__ADS_3

"Kau mau berangkat?" Noura tiba-tiba muncul dan mendekatiku. Dia memperhatikan penampilan dari atas hingga ke bawah.


"Ya. Aku ngajar jam pertama hari ini."


"Aku ikut ya. Aku ikut kau ke sekolah ya!" pinta Noura. Nada suaranya seperti anak kecil yang tengah merajuk.


"Kamu mau ikut?" aku bertanya balik padanya.


"Ya. Aku hanya ingin ikut. Aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu," Noura mendekatiku dengan wajah memohon.


"Aku rindu padamu, Bayu. Aku ingin bersamamu hari ini. Izinkan aku ikut bersamamu, ya! aku mohon!"


"Baiklah. Tapi janji ya, jangan bikin heboh di sana!" jawabku.


"Maksudmu?" tanya Noura dengan polos.


"Jangan sampai nanti terjadi kekacauan atau keributan di sekolah, Ok!"


"Kau tenang saja. Aku tidak akan mengganggumu atau berbuat kekacauan," Noura tersenyum kegirangan.

__ADS_1


Noura mengikutiku menuju meja makan. Aroma golden rose anek rupa semerbak tercium di sekeliling meja makan. Mama nampak duduk dengan tenang sambil menyesap teh hangat.


"Sudah mendingan, Mah?" tanyaku.


"Alhamdulillah, Bay. Masih pusing sih. Tapi jauh lebih baik dibanding kemarin. Kamu ada kelas jam pertama hari ini?"


"Iya Mah. Mama istirahatlah. Gak usah ngurusin Mpek-mpek dulu, satu hari aja."


"Iya nih, Mama. Sehari dua hari istirahat total, itu perlu Mah. Kalau sakit kan malah repot," sambung Ayah.


"Udah gapapa kok, Yah. Kalau belum sembuh banget ya nanti Mama ke dokter koq."


"Iya Yah. Aroma wangi ini khas banget. Ratna sering banget nyium aroma kayak gini loh Yah!"


"Iya betul Yah. Aroma wanginya bikin betah," Galih yang biasanya diam tiba-tiba ikut menimpali.


Aaah lagi-lagi. Semua dibuat heboh dengan aroma golden rose yang menyebar di seluruh ruang makan ini. Siapa lagi yang menyebarkan aroma golden rose aneka rupa ini kalau bukan Noura. Dia hanya tersenyum sambil memandangi wajah anggota keluargaku satu persatu.


Dan pagi itu, dia benar-benar ikut denganku ke sekolah. Dia duduk dengan nyaman di jok belakang motorku. Ya Tuhan, seandainya dia bukan hantu, tentu akan sangat bangga bisa berjalan dengannya. Semua mata pasti akan berdecak kagum. Melihat bagaimana seorang Bayu yang bertampang pas pasan bisa menggandeng wanita secantik Noura.

__ADS_1


Sentuhan tangannya dibahuku terasa dingin. entah kenapa aku jadi deg degan. Semoga saja tidak ada yang bisa melihat sosok Noura nanti saat di sekolah.


Setelah memarkirkan motor, aku berjalan menuju ruang guru, melintasi lapangan olahraga dan berbelok ke kiri menuju pintu samping ruang guru yang berbatasan langsung dengan ruang kepala sekolah.


"Di sini sekolah tempat kau mengajar?" tanya Noura sambil terus mengikutiku.


"Ya. Oh ya, tolong jangan ajak aku bicara. Aku tidak mau orang-orang akan menganggapku aneh karena berbicara sendiri," pintaku.


Noura mengangguk. "Aku janji tak akan mengganggumu," dari sorot matanya terlihat sekali kekagumannya pada bangunan sekolah ini.


"Aku jadi teringat masa-masa sekolah dulu. Aku merindukan sekolahku," ucapnya dengan pandangan menerawang.


Aaah, lagi-lagi dia bernostalgia. Demi keamananku agar tidak dianggap aneh, aku tidak merespon ucapan nostalgianya. Kubiarkan Noura menikmati kerinduannya akan sekolah.


Aku menyiapkan buku dan laptop untuk kubawa ke ruang kelas. Sambil menyapa beberapa siswa, aku berjalan menuju ruang kelas XI IPA 2 yang berada di lantai dua. Noura terus membuntutiku dari belakang.


"Kau tampan sekali, Pak guru. Aku pasti akan sangat betah menjadi muridmu," bisiknya di telingaku.


Aku tidak merespon dan hanya tersenyum padanya. Beberapa siswa mulai memasuki kelas dan duduk dengan rapih. Hari ini aku akan melanjutkan materi minggu lalu tentang Musik Orkestra. Noura berjalan mengitari ruang kelas. Kadang dia duduk di kursiku, kadang dia berdiri di dekat papan tulis. Aku mulai tidak tenang. Jangan sampai nanti ada siswa atau siswi indigo yang bisa melihat sosoknya di kelas ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2