
Sedari kecil, Noura memang lebih tomboy dan gesit dibandingkan Sophia. Dia juga jauh lebih keras kepala. Tidak bisa dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak dia suka. Dia lebih menyukai melukis ketimbang mempelajari biola. Lebih senang membantu di perkebunan daripada belajar menjahit. Lebih menyukai menunggang kuda dan bermain di sungai daripada membaca buku.
Tuan Adrianus sangat memahami karakter Noura. Dan dia nyaris tidak pernah bersikap keras pada anak-anaknya. Terlebih pada Noura. Noura selalu mengingatkannya pada Caecilia, adik kesayangannya yang meninggal dunia di usia 11 tahun akibat penyakit kolera. Baik karakter maupun wajahnya benar-benar mirip Caecilia.
Kadang Adrianus berpikir, Noura adalah Caecilia yang terlahir kembali lewat rahim istrinya. Setiap kali memandang Noura, dirinya seperti berhadapan dengan Caecilia. Dan itu membuatnya sangat bersyukur, Caecilia seolah hidup kembali dalam wujud Noura.
Selepas kepergian Caecilia, otomatis Adrianus menjadi anak tunggal. Adrianus tumbuh menjadi anak yang penurut. Segala apapun dilakukan untuk membahagiakan hati orangtuanya. Termasuk ketika Sang Papa memintanya untuk meninggalkan Harlingen dan menggantikan pekerjaannya sebagai staf administrasi di salah satu perkebunan besar di Batavia.
Tidak hanya itu, Sang Papa juga memintanya untuk mengelola perkebunan kecil mereka di daerah Tjibinung (Cibinong). Perkebunan yang dirintis dari nol setelah mendapatkan pesangon dari VOC.
Dengan gigih, Adrian mengelola perkebunan karet itu hingga hasilnya sangat lumayan. Kehidupan ekonominya mulai membaik. Gaji yang diperolehnya sebagai staf administrasi dan juga dari pendapatan dari perkebunan karet sangat lebih dari cukup untuk membiayai hidup keluarganya. Termasuk untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
__ADS_1
Dia dan istrinya sepakat kalau anak-anaknya harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Mereka harus lebih sukses di masa depan. Mereka harus tumbuh menjadi orang-orang Eropa yang terpelajar. Kehidupan yang serba pas pasan yang dulu mereka jalani di Harlingen telah membuka pandangan mereka kalau pendidikan adalah pemutus mata rantai kemiskinan.
Sophia si anak sulung tumbuh menjadi anak yang manis dan membanggakan. Tidak pernah membantah dan selalu penurut. Dia juga lebih kalem dan pemalu dibandingkan Noura. Sedari kecil dia senang sekali membaca. Dan satu hal yang membuat Adrianus dan istrinya bangga adalah kegigihan Sophia dalam mencapai apa yang menjadi cita-citanya. Anak itu selalu gigih dan tekun dalam belajar. Jika nilainya jelek, dia akan belajar mati-matian untuk bisa mendapatkan nilai terbaik.
Dan karakter Si Sulung Sophia itu turun kepada anak bungsunya, Benjamin. Benjamin yang sedari kecil nakal dan sering merajuk jika keinginannya tidak dipenuhi berubah menjadi pribadi yang serius dan tekun belajar. Perubahan karakternya tentu sangat mengejutkan orangtuanya. Terlebih Nyonya Helena. Kasih sayangnya kepada anak bungsunya itu semakin bertambah.
Dan Noura, si anak tengah yang masih saja belum berubah. Meski tumbuh menjadi gadis cantik dan menawan, tapi karakter gadis itu keras kepala dan sulit dikendalikan.
Diam-diam Tuan Adrian juga memikirkan hal itu. Memikirkan masa depan Noura. Noura tidak hanya lemah tapi juga malas belajar dan mudah menyerah. Dia tidak suka pelajaran formal dan lebih banyak tertarik pada hal-hal yang berhubungan dengan alam bebas.
Setiap kali Tuan Adrian ingin memarahi Noura dengan keras, entah kenapa dia selalu merasa berhadapan dengan Caecilia. Caeclia yang sedari kecil juga keras kepala dan sulit diatur, dan itu membuat Tuan Adrian menjadi tidak tega tiap kali ingin memarahi Noura.
__ADS_1
Bayangan tentang Caecilia yang tegolek lemah di ranjang karena menahan sakit selalu terbayang di benaknya. Saat itu kondisi kehidupan di Harlingen sangat-sangat sulit hingga mereka tidak sanggup membeli obat.
Maka yang bisa dilakukan Tuan Adrianus hanyalah memberikan dukungan untuk Noura. Dia nyaris tidak pernah melarang Noura untuk melakukan hal-hal yang disukainya. Jika Noura malas belajar dan lebih memilih untuk melukis, maka Tuan Adrian akan langsung mengiyakan. Lagi-lagi dia tidak tega melihat wajah Noura yang cemberut setiap kali habis dimarahi istrinya.
Tuan Adrianus kerap mengatakan pada istrinya untuk jangan pernah bersikap pilih kasih terhadap Noura. Jangan hanya karena dia tidak pintar seperti kakak dan adiknya, maka dia merasa dibedakan. Noura membutuhkan dukungan dan kasih sayang, begitu katanya.
Dia adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga. Jangan pernah membedakan dia, atau aku akan sangat marah padamu...Begitu kata Tuan Adrianus pada istrinya pada suatu hari.
Dan lagi-lagi Nyonya Helena hanya bisa menahan kekesalannya. Seperti pagi ini, saat dia berencana untuk memanggil Nona Elsye Van Beek ke rumah untuk mengajari Noura menjahit. Nona Elsye Van Beek adalah putri dari keluarga Van Beek, salah seorang kenalan keluarga mereka yang memang mahir menjahit pakaian.
Bersambung.
__ADS_1
Mohon like, komen dan votenya ya Guys....Terima kasih.