
"Sudahlah, jangan menangis. Tidak baik meratapi takdir. Kematianmu adalah takdir Tuhan yang sudah ditetapkan. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Terimalah dengan ikhlas," aku berusaha menenangkan.
Aku berjalan keluar menuju halaman depan paviliun. Mengapa sudah gelap? ada apa ini? keasyikan mendengar cerita Noura, aku sampai lupa waktu. Jam berapa ini ya? aku ingat, aku tidak membawa ponsel. Aneh. Rasanya aku hanya sebentar saja mengobrol dengan Noura di gudang itu. Tapi mengapa sepertinya lama sekali ya?
Tadi kira-kira sekitar jam sepuluh pagi saat aku janjian dengan Noura sebelum menuju ke gudang belakang. Mengapa sudah malam saja? Terlalu lamakah aku menghabiskan waktu mendengarkan cerita Noura tadi? aah, rasanya tidak...
"Kau kenapa?" Noura bertanya padaku. Masih dengan ekspresi sedih.
"Tidak apa-apa. Cepat sekali waktu ya? aku tidak tahu sekarang jam berapa? tapi mengapa sekarang sudah malam?"
Noura hanya tersenyum tipis. "Pulanglah, nanti keluargamu khawatir. Aku temani kau pulang."
Noura menggandeng lenganku. Berdua kami berjalan beriringan menuju halaman depan rumah. Sesekali dia merebahkan kepalanya di bahuku. Membuat jantungku terasa mau copot.
"Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku, Bayu. Aku senang karena sekarang aku tidak kesepian lagi. Aku seperti menemukan lagi sesuatu yang hilang."
__ADS_1
"Aku juga masih penasasan mendengarkan cerita-ceritamu. Kita lanjut nanti ya. Sekarang aku mau mandi dan makan dulu," ucapku sambil menepuk bahunya.
Noura mengangguk, memberikan ku senyuman manisnya dan melambaikan tangan.
"Ini dia baru pulang! Ya Allah, kamu kemana aja, Bayu?" pekik Mama.
"Kamu kenapa gak bilang kalau mau pergi. Gak bawa ponsel pula. Kamu tahu sekarang jam berapa? kita semua dah senewen nungguin kamu pulang? kemana sih kamu? apa susahnya untuk pamit kalau mau pergi?" Mama memberondongku dengan berbagai pertanyaan.
Aku tidak mau menjawab. Aku sendiri juga merasa heran dan aneh. Ada apa denganku? kalau aku ceritakan pada mereka tentang pertemuanku tadi dengan Noura dan aku hanya keluar sebentar tadi ke paviliun belakang. Apa mungkin mereka percaya?
Oh my God. Sekarang jam setengah dua malam? gila. Aku hanya bisa bengong. Tak tahu harus menjelaskan apa.
"Maafkan Bayu, Mah, Yah. Bayu seharian ini gak kemana-mana. Bayu ada di paviliun belakang. Bayu melukis di sana. Di situ tenang. Bayu banyak mendapat ilham untuk melukis di sana," aku mencoba menjelaskan.
"Melukis seharian dari jam sepuluh pagi sampai lewat tengah malam begini?" Mama menatapku tajam. Seolah tak sabar ingin segera menghajarku.
__ADS_1
"Bayu ketiduran Mah. Tadi Bayu kecapekan melukis terus Bayu rebahan sebentar di paviliun itu. Eeh, ternyata bablas ketiduran sampai lama. Bayu juga gak tahu kalau udah jam segini. Kok bisa Bayu tidur siang sampai selama itu, Mah," dengan ekspresi bodoh aku mencoba menjelaskan.
"Benar begitu? kamu gak berbohong kan, Nak? seharian dari tadi kamu gak kemana-mana dan hanya ada di paviliun itu?" tanya Ayah.
"Benar Yah. Bayu gak kemana-mana kok. Kalaupun Bayu pergi jauh, gak mungkin lah, kalau Bayu gak pamit. Dan gak mungkin pula Bayu gak bawa handphone."
Mama hanya bisa menghela nafas. Raut wajahnya masih menggambarkan kebingungan.
"Kamu sudah makan?" tanya Ayah lagi.
Aku menggeleng. Perutku mulai terasa keroncongan. Dari tadi siang aku belum makan. Dan anehnya, selama bersama dengan Noura di paviliun itu, aku sama sekali tidak merasa lapar.
Mama bergegas ke belakang dan mengambilkan makanan untukku. Aku duduk di kursi dan mulai menyantap makanan. Lagi-lagi aku merasa aneh karena mereka semua berada mengelilingi. Keadaanku seperti berada dalam kursi pesakitan. Dikelilingi tatapan-tatapan mata yang penuh tanda tanya.
"Kok bisa sih Mas, ketiduran sampai selama itu. Kita semua benar-benar panik loh. Kirain Mas Bayu kemana. Masa pergi selama itu sampai gak bawa handphone dan dompet. Mama sampai mau lapor polisi loh tadi!" ucap Galih.
__ADS_1
"Ga tau nih. Bikin repot orang aja. Gara-gara Mas Bayu, Ratna jadi gak bisa tidur. Mama kan kalau lagi panik, benar-benar kaya orang stress." Tambah Ratna.
Bersambung.