NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Jejak keluarga Winhern 1


__ADS_3

Rumah minimalis bergaya victoria yang terletak di komplek Pesona Khayangan itu berdiri dengan megahnya. Dekorasi warna biru langit dan putih itu menguatkan kesan klasik. Elegan, menarik dan menyejukkan mata. Aku pandangi rumah ini berkali-kali, feelingku mengatakan rumah ini pasti rumah Jordan Winhern. Aku belum membuka whatsapp dari Jordan semalam yang menjelaskan tentang alamat rumahnya. Dia hanya mengatakan kalau patokan rumahnya adalah toko kue dan roti yang berada di pojok paling kanan.


Johans Winhern menyambutku dengan ramah ketika melihatku berdiri di depan gerbang rumah itu. Dia keluar menuju gerbang setelah membaca pesanku di Whatsapp.


"Masuklah Bang! kelamaan di luar bisa meleleh nanti! panas banget loh di luar!"


"Abang ini memang kakak yang luar biasa, demi adik sepupu yang membutuhkan referensi, abang rela panas-panasan ke sini," ujarnya.


Aku hanya tersenyum. Ya Tuhan, lagi-lagi dia sangat percaya pada ceritaku, hehehe.


Dengan sigap, Jordan menyalakan AC dan menyiapkan minuman dingin untukku. Cuaca panas di luar membuatku harus mengelap peluh berkali-kali. Kulirik Noura, kuharap dia tidak meleleh juga. Si cantik itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk yang tertata dengan apik di ruang tengah. Aku mulai was was, jangan sampai Jordan atau anggota keluarganya di sini bisa melihat Noura.


"Kamu sendirian di rumah? orangtuamu mana?" tanyaku berbasa basi.


"Mereka sedang berada di luar. Mama masih di Bandung mengurus klinik keluarga. Papa baru tadi pagi berangkat ke Medan untuk urusan kerjaan. Santai saja di sini, Bang. Saya sendirian koq!"


"Papamu tidak keberatan kan untuk berbagi referensi denganku?" tanyaku lagi.


"Tentu saja tidak. Silahkan saja, Bang!"

__ADS_1


Kuamati wajah Noura yang sedari tadi memperhatikan Jordan Winhern yang duduk di sebelahnya. Aku sedikit lega, karena sepertinya Jordan tidak sensitif sepertiku. Dia tidak bisa melihat Noura.


"Kita makan siang dulu, Bang! saya mulai lapar nih!" Jordan mengajakku untuk menuju meja makan.


Seorang wanita berkerudung berusia sepantaran mamaku muncul dari dapur dan menyiapkan nasi beserta lauk pauknya di atas meja. Sambil duduk dan menikmati makan siang, Jordan bercerita lagi tentang keluarganya. Tentang kesibukan mama dan papanya, tentang Josephine, saudara kembarnya juga tentang keluarga besarnya.


Aku melirik lagi Noura yang duduk di kursi kosong di sampingku. Dia nampak begitu serius memperhatikan Jordan Winhern.


"Aku sependapat denganmu, Bayu. Anak muda ini pasti salah satu keturunan dari Frans Winhern. Bentuk rahang dan garis wajahnya mirip dengan Tuan Frans Winhern, waktu muda, " bisik Noura.


Aku melirik ke arahnya dan menganggukkan kepala. Jordan masih terus bercerita. Masih tentang keluarga besarnya, dia bercerita kakek dan neneknya yang juga bekerja sebagai guru, tentang kehidupan masa kecilnya di Belanda.


"Papa adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara. Kakaknya yang pertama adalah seorang pengacara dan bekerja di salah satu lembaga bantuan hukum dan tinggal di Swiss, lalu kakaknya yang kedua adalah seorang guru sekolah dasar, tinggal di Amsterdam bersama Opa dan Oma, dan yang ketiga adalah Papa."


"Oh ya, sangat menarik. Mamamu pasti cantik ya!"ujarku. Kulirik foto Mama dan papanya yang terpajang di sudut lemari. Pasangan yang sangat serasi, sama-sama cantik dan ganteng. Sang Papa yang berwajah bule mirip dengan aktor Hollywood yang aku lupa namanya, sedangkan Mamanya memiliki kecantikan khas Asia dengan wajah yang manis, kulit sawo matang, rambut hitam panjang serta postur tubuh yang mungil dan imut.


"Tiga tahun setelah berkenalan, mereka menikah. Lalu Papa memboyong Mama untuk tinggal di Amsterdam pasca menikah. Mama sempat berhenti total dari pekerjaannya sebagai dokter dan fokus sebagai Ibu rumah tangga saja ketika tinggal di Amsterdam sampai saya dan Josephine lahir." ujarnya menjelaskan.


"Barulah setelah saya dan Josephine beranjak remaja, Mama memulai lagi kariernya sebagai dokter. Oh ya, sebagai Jurnalis, Papa sempat berpindah-pindah tugas dan tinggal di beberapa negara. Saya, Mama dan Josephine sempat merasakan berkunjung ke beberapa negara. Kami pernah merasakan tiga tahun tinggal di Swiss, lalu berkunjung ke India, ke Afrika Selatan, Filiphina, Nepal, Malaysia dan terakhir Indonesia," lanjut Jordan menjelaskan.

__ADS_1


"Wow, pasti sangat menarik ya tinggal di tempat-tempat yang berbeda, bisa mempelajari adat dan budaya yang beraneka ragam," ucapku takjub.


"Ya. Khusus untuk Indonesia, Mama dan Papa sepakat untuk tinggal agak lama di sini. Lalu Mama dan Papa memutuskan untuk memindahkan saya dan Josephine agar bersekolah di sini. Kami tinggal di Jakarta lalu pindah ke Depok. Saat itu Mama juga mendapat tawaran dari keluarga besarnya untuk mengurus klinik milik keluarganya di Bandung. Jadilah kami menemani Mama bolak balik Depok-Bandung."


"Saya bersekolah di Depok mulai dari SMP sampai SMA dan menetap di sini sampai sekarang. Josephine memutuskan untuk kembali ke Amsterdam dan tinggal bersama Oma dan Opa saat lulus SMA demi melanjutkan kuliah di Utrech."


"Dan kamu masih bertahan tinggal di sini karena belum belum mendapatkan izin untuk kuliah di jurusan musik, kan?" tanyaku meledeknya.


"Hahahahaha...Iya betul, Bang. Mama dan Papa belum memberikan lampu hijau untuk saya bisa berkuliah di jurusan musik, padahal saya ingin sekali....."


"Maka saya tetap bertahan di sini sembari menunggu Mama dan Papa memberikan izin. Oh ya, selain mengajar di La Vita, saya juga menjadi tenaga pengajar untuk anak-anak jalanan. Saya menjadi tenaga sukarelawan yang memberikan pelajaran di sebuah lembaga yang peduli terhadap nasib anak jalanan," tuturnya.


"Wow...Luar biasa. Kamu sangat keren! aku bangga sama kamu! kamu masih meluangkan waktu untuk mereka yang membutuhkan pendidikan. Aku jadi malu nih..."


"Yah, anggap saja apa yang saya lakukan ini adalah bentuk balas budi atas apa yang dilakukan leluhur saya dulu pada republik ini hehehehe. Selain itu saya juga sudah merasa sangat nyaman dan betah tinggal di sini. Terlebih di Depok, tempat di mana Kakek moyang saya pernah tinggal dan menetap, dan akhirnya terpaksa kembali ke Amsterdam pasca kejadian menyeramkan yang terjadi di sini,"


"Peristiwa Gedoran?" tanyaku.


"Abang tahu tentang peristiwa itu?" Jordan terkejut mendengar pertanyaanku. Dia nampak begitu antusias.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu. Aku banyak membaca tentang sejarah Depok dan termasuk kehidupan tempo dulu di wilayah ini," jawabku dengan mantap.


Bersambung.


__ADS_2