
Tentu saja informasi yang disampaikan Johans tentang Heintje van der Boon tidak dipedulikan oleh Nyai Sumiyati. Bagi wanita itu, Darimana pun sumbernya, uang tetaplah uang, dan dia senang menerimanya. Dan selama dua tahun menjadi Nyai, Heintje sudah memberinya banyak kemewahan. Dan dia sangat senang. Wanita mana yang tidak senang dengan uang banyak dan perhiasan mahal?
Sambil mendengarkan cerita Heintje, Nyai Sumiyati menelusuri wajah Johans.
Laki-laki ini sebenarnya menarik juga walaupun tampangnya garang.
"Aku akan memgumpulkan kembali sumber-sumber kekayaanku. Dan jika aku sudah kembali berjaya, tinggalkanlah Heintje dan hiduplah bersamaku. Kau pasti akan lebih bahagia."
Nyai Sumiyati hanya menggangguk. Lalu Heintje menceritakan rencananya untuk mendatangi rumah keluarga Van Kemmers dan meminta mereka untuk mehyerahkan kembali surat tanah perkebunan itu.
"Aku akan melakukan apapun untuk merebut kembali sumber-sumber kekayaanku. Tanah perkebunan karet itu sangat menjanjikan. Pantas saja. mereka bisa hidup dengan makmur," Johans nampak menahan amarah.
"Jangan gegabah Tuan. Tuan harus berhati-hati. Pasti tidak mudah merebut kembali harta yang sudah diambil alih menjadi milik orang lain. Kalau Tuan tidak keberatan, Simpanlah ini!" Nyai Sumiyati memberikan bungkusan kecil dari kain putih yang dilipat dengan bentuk segi empat kepada Johans.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Bukalah bungkusan ini. Di dalamnya ada mustika mirah Delima. Ini mustika yang biasa saya gunakan untuk menundukkan seseorang."
"Ini semacam jimat?" Johans Alois memandangi batuan kecil berwarna merah menyala yang ada di telapak tangannya.
" Saya tahu, Tuan pasti tidak mudah percaya pada hal-hal seperti ini. Saya hanya ingin membantu Tuan. Saya sudah membuktikan sendiri kesaktian dari mustika mirah delima ini. Saya mendapatkannya secara turun temurun dari leluhur saya. Semuanya ada 20 mustika. Dan saya menyimpan semuanya. Saya bersedia memberikannya satu untuk Tuan. Tanamkan ini di tanah pekarangan rumah keluarga Van Kemmers. Niscaya ini akan membuat pemiliknya tunduk saat Tuan mendatangi mereka."
"Benarkah begitu?" Johans Alois menatap Nyai Sumiyati seolah tak percaya.
...****************...
Rumah itu terasa sunyi dan sepi, nyaris tidak terawat. Meskipun dari luar bangunannya masih nampak terlihat megah dan kokoh. Dan untuk sekian kalinya,
__ADS_1
Johans Alois memandangi seisi dalam rumah itu dengan tatapan dingin, semenjak dia keluar dari penjara hingga bebas dan kembali lagi ke rumah ini. Rumah ini satu-satunya harta yang dimilikinya yang tidak disita oleh pemerintah Belanda.
Rumah di kawasan Waltervreden yang dibangunnya sebagai tanda persembahan cintanya untuk Marianne. Sebuah tanda cinta yang ternyata tidak cukup untuk membuat Marianne tetap bertahan di sisinya saat dia harus menjalani proses hukum. Berbagai kenangan manis bersama Marianne di rumah itu kembali muncul dalam ingatannya, dan seketika berganti dengan kenangan pahit yang menyakitkan.
Mengingat kembali wanita itu membuat darahnya mendidih. Rahang wajahnya mengeras.
Aku harus mencari wanita laknat itu secepatnya dan membuat perhitungan, ucap Johans dalam hati.
Dan siang itu, Johans Alois mengumpulkan lima orang centengnya di rumah. Mereka hendak membicarakan rencana nanti malam untuk mendatangi rumah keluarga Van Kemmers. Kepulan asap cerutu memenuhi sudut ruangan.
"Aku tidak bisa menunggu lama lagi. Kita harus secepatnya bertindak. Kita datangi rumah keluarga Van Kemmers malam ini. Mereka sudah tidak takut dengan ancamanku. Terpaksa aku harus menempuh jalan kekerasan. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus merebut kembali surat tanah perkebunan itu.
"Baiklah, Tuan. Kami akan selalu berada di sisi Tuan, " ujar Centeng yang bernama Samsudin.
__ADS_1
"Kita akan culik mereka. Kita bawa mereka ke suatu tempat dan kita paksa Adrianus Van Kemmers untuk menyerahkan surat tanah perkebunan itu. Jika dia tetap keras kepala, kita habisi seluruh keluarganya."
Bersambung.