NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Jejak keluarga Winhern 2


__ADS_3

"Boleh aku lihat foto-foto keluarga leluhurmu?"


"Tentu saja. Sebentar, Bang. Jordan bangkit dari sofa dan menuju lemari jati bercat hitam yang ada di pojok ruangan. Tangannya menarik laci dan mengeluarkan satu album besar berisikan foto-foto tempo dulu.


"Wah...Luar biasa, benar-benar masih rapih tersimpan." Kupandangi lembaran-lembaran foto yang tersusun dengan rapih di dalam album besar berwarna kuning gading itu. Semua fotonya hitam putih. Meski terlihat usang namun masih jelas terlihat.


"Salinan dan beberapa versi pembaharuan dari foto foto itu ada di CD, Bang. Semuanya tersimpan rapih."


Rasa penasaranku semakin memuncak. Rasanya habis rasa kagumku pada kerapihan penyimpanan dokumen dan foto-foto tempo dulu ini. Tidak semua orang bisa menyimpan segala kenangan dan sejarah tempo dulu dengan sangat rapih.


Kupandangi satu foto berukuran postcard. Foto sebuah keluarga Belanda yang terdiri dari ayah, ibu dan kelima anaknya. Foto berlatar belakang pohon natal lengkap dengan hiasannya. Di belakang foto itu terdapat tulisan dengan huruf sambung tegak lurus. Depok, 25 Desember 1926.


"Itu foto keluarga Winhern. Itu Tuan Frans, Nyonya Bertha dan kelima anaknya," bisik Noura.


Aah, Si Cantik ini selalu saja membuatku terkejut. Aku tidak sadar kalau posisi dia kini berada dekat di sampingku, duduk dengan manja di bahu sofa.

__ADS_1


"Apa ini foto kakek moyangmu?" tanyaku sambil menunjukkan foto itu pada Jordan.


"Yup. koq Abang bisa tahu?"


"Nebak aja. Foto ini diambil tahun 1926. Berarti mereka sudah lama sekali ya tinggal di sini," aku memaparkan.


"Ya Bang. Mungkin sekitar tahun 1910 atau 1912, mereka sudah tinggal di sini. Dulu Opa Frans bekerja di perusahaan perkebunan peninggalan VOC kemudian Opa memutuskan untuk membuka perkebunan sendiri. Tanah perkebunannya banyak terdapat di wilayah Bogor, Cibinong juga Tanggerang. Bisa dibilang Opa Frans dulunya adalah seorang tuan tanah."


" Dulu banyak sekali ya orang-orang Belanda yang menjadi tuan tanah di sini?" tanyaku.


Aku melanjutkan membuka lembar demi lembar album foto. Ada foto rumah, foto anggota keluarga Winhern, foto aktivitas yang mereka lakukan saat itu bersama keluarga juga beberapa foto tanah perkebunan.


"Dan semua itu hanya tinggal kenangan, hehehehe. Segala aset yang dimiliki penjajah baik itu berupa tanah, perusahaan diambil alih oleh pemerintah RI pada tahun 1965 an. Semua jejak kolonial harus dibersihkan pada saat itu. Bahkan bukan hanya segala aset milik orang-orang Belanda asli, tapi aset-aset yang dimiliki kaum indo bahkan mereka yang menjadi pengikut atau pro Belanda pada saat itu, termasuk aset-aset tanah yang dimiliki kaum Belanda Depok."


Cuaca mulai gelap. Aku melirik ke luar jendela. Hujan sudah reda, hanya tersisa gerimis kecil.

__ADS_1


"Mau tambah kopi lagi, Bang?" tanya Jordan sambil memegang cangkir Cappuchino lattenya yang sudah tinggal sedikit.


"Nanti sajalah. Aku masih ingin bertanya-tanya."


"Jadi pasca peristiwa Gedoran keluarga kakek moyangmu langsung kembali ke Belanda? maksudku mereka langsung berkemas dan meninggalkan Indonesia?"


"Iya Bang. Peristiwa Gedoran itu menimbulkan trauma yang cukup mendalam bagi keluarga Opa Frans. Ketika Opa Frans dan Oma Bertha berkumpul kembali bersama anak anak mereka, mereka langsung kembali ke rumah yang sudah dalam kondisi porak poranda. Lalu atas himbauan dari salah seorang yang dianggap dituakan oleh komunitas pengusaha dan pemilik perkebunan milik orang-orang Belanda, Opa Frans sekeluarga akhirnya kembali ke Netherland bersama beberapa keluarga Belanda lainnya. Khusus untuk komunitas Belanda Depok, pemerintah RI pada saat itu memberikan pilihan, apakah mereka tetap pro Belanda atau kembali menjadi warga Republik Indonesia."


"Sebenarnya gaya hidup mereka saja yang bersifat kebelanda-belandaan, namun hati dan jiwa mereka tetap kembali kepada Indonesia. Kurang lebih, begitu yang pernah saya dengar dari penjelasan Papa ketika mewawancarai salah seorang sesepuh komunitas Belanda Depok," Jordan menjelaskan.


***


"Opa Frans dan Oma Bertha memiliki lima orang anak. Yang pertama adalah Frankie yang meninggal terlebih dahulu karena ditembak tentara Jepang. Yang kedua adalah Margareth, satu-satunya anak Opa Frans yang tidak menjadi korban dari peristiwa Gedoran. Margareth saat itu sudah menikah waktu itu dan menetap di Bandung. Lalu yang ketiga adalah Jacobus, yang keempat, Rueben dan yang bungsu Magda,"Jordan menuturkan sambil kembali menunjukkan foto-foto lawas anggota keluarga Frans Winhern.


__ADS_1


__ADS_2