
Kubuka lagi lembaran-lembaran jurnal yang menjelaskan tentang peristiwa Gedoran sambil menunggu penjelasan Jordan berikutnya. Suara petir menggelegar bersahutan disertai tiupan angin yang berhembus kencang. Saking seriusnya mendengarkan cerita Jordan tentang peristiwa Gedoran aku sampai tidak sadar kalau di luar sedang turun hujan lebat.
"Papamu hebat sekali. Berhasil menyimpan segala bukti-bukti real tentang peristiwa itu dengan lengkap," lagi-lagi aku memujinya.
"Yup! sebagai Jurnalis, Papa merasa perlu untuk mendokumentasikannya. Bisa dikatakan ini sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap Kakek Moyang kami, Opa Frans Winhern. Juga sebagai bentuk rasa syukur karena Tuhan masih melindungi keluarga kami dari peristiwa mengerikan itu. Setidaknya keluarga kami tidak sampai tewas seperti keluarga Belanda lainnya."
"Papa adalah generasi ketiga yang menyimpan bukti-bukti tertulis dan dokumentasi dari peristiwa itu. Opa Jacobus, kakek buyut Papa yang pertama kali membukukan peristiwa itu berdasarkan pengalamannya sendiri ketika ditawan bersama Opa Frans dan Opa Rueben. Mereka mendapatkan siksaan di kamp tawanan dari para pemuda yang tergabung dalam laskar kemerdekaan. Lalu anak Opa Jacobus yang bernama Opa Jansen yang juga kakek dari Papa melanjutkan penyimpanan dokumentasi itu dan kemudian Opa Jansen meneruskannya pada Papa,"
Aku tertegun. Keren sekali! Bukti tertulis berupa catatan dan foto-foto ini sudah usang dimakan usia tapi masih tersimpan rapih dan jelas.
"Tidak hanya tentang peristiwa Gedoran, Bang. Tapi segala arsip dan dokumentasi tentang perjalanan kehidupan keluarga besar kami mulai dari kehidupan leluhur juga masih tersimpan rapih," ucap Jordan dengan bangga.
__ADS_1
"Wah, Papamu benar-benar seorang penyimpan arsip yang hebat!"
"Yup! kelak Papa akan mewariskan bukti-bukti arsip dan segala dokumentasi ini kepada saya, Josephine atau Dave, sepupu saya.
Hujan semakin deras dan aku semakin hanyut dengan cerita dan dokumentasi yang dipaparkan Jordan. Tentu saja dengan tetap dengan dalih ingin membantu sepupuku yang ingin membuat skripsi tentang peristiwa bersejarah di kota Depok.
"Boleh aku copy jurnal-jurnal ini?" tanyaku berbasa-basi.
"Tentu saja, Bang. Papa tidak pernah keberatan membagikan jurnal dan dokumentasi yang disimpannya ini kepada siapa saja yang membutuhkan."
Kedatangan sekelompok orang yang mengaku sebagai laskar pemuda sungguh sangat mengejutkan. Gedoran pintu terdengar makin keras. Kami yang saat itu sedang menikmati makan malam dibuat terkejut. Papa menyuruh Samin ke luar untuk melihat siapa yang datang. Sungguh sangat tak beretika, bertamu di saat kami sedang menikmati makan malam. Sementara dari luar jendela, suara-suara teriakan makin jelas terdengar. Ada jerit ketakutan dan juga hardikan. Entah siapa itu? suara itu terdengar dari arah samping dan juga depan rumah kami. Tepatnya tetangga samping dan depan rumah kami. Apa jangan-jangan orang yang menggedor rumah kami adalah orang yang telah membuat kegaduhan di rumah sebelah.
__ADS_1
Kami makin terkejut saat kami melihat Samin tersungkur. Beberapa orang pribumi mendorong Samin dan menodongkan bedil ke arah kami. Tidak hanya itu, mereka juga menendang dan menghancurkan beberapa perabotan dan pajangan di rumah kami.
Siapakah mereka dan mau apa mereka? apa yang akan mereka lakukan di rumah kami?
"Bedebah, siapa kalian? mau apa kalian?" Papa memaki mereka dengan teriakan. Wajah Papa memucat. Kami semua terdiam. Ketakutan mulai menjalari tubuh kami.
"Selamat malam, anjing-anjing Belanda. Maaf mengganggu kenyamanan santap malam kalian. Dan plak!!!! sepotong kayu dipukulkan ke dahi Papa. Meninggalkan luka robek penuh darah. Dengan tatapan bengis, mereka menyeret Papa *ke teras depan. Sebilah bedil diayunkan ke tubuh Papa juga ke tubuhku dan Jacobs. Mereka tidak banyak berkata-kata. Aku masih mengingat tatapan-tatapan mereka yang dingin lagi bengis. Kami tak mampu melawan. Jumlah mereka terlalu banyak. Lima, enam, delapan atau sepuluh? aku tidak ingat persis. Hantaman bedil membuat tulang rusukku terasa sangat ngilu. Ketakutan terus mendera kami. Aku menengok ke belakang. Salah satu dari mereka juga menyeret Mama dan Magda. Entah akan mereka apakan kami? Sambil terus memukuli tubuh kami, mereka mendorong kami ke luar rumah
"Ucapkan selamat tinggal, wahai anjing-anjing Belanda.....Ucapkan salam sebagai tanda perpisahan terakhir kepada negeri ini. Negeri ini sudah merdeka...."
"Merdeka!!!! ucap mereka bersamaan. Merdeka atau mati!!!! ayo habisi anjing-anjing Belanda ini!!!" seru mereka sambil terus mendorong tubuh kami. Membuat kami terhuyung-huyung tidak berdaya. Kami tidak tahu lagi harus melakukan apa. Kepada siapa kami harus meminta pertolongan? sedangkan suasana di luar tak kalah mencekam. Beberapa orang asing yang kami tidak tahu entah berasal dari mana menyeret dan memukuli warga Belanda seperti kami. Tidak hanya warga Belanda tapi juga kaum Belanda Depok, keturunan dari budak-budak Cornelis Chastelein.
__ADS_1
Jumlah mereka begitu banyak, membuat kami berpikir ulang untuk melakukan perlawanan. Ditambah lagi mereka membawa senjata. Aku takut. Sangat takut. Kami terus berjalan di bawah komando mereka. Kemana mereka akan membawa kami? hanya teriakan parau dan isak tangis dari para wanita dan anak-anak yang memecah keheningan di malam itu.
Bersambung.