
Aroma golden rose sudah mulai tercium. Aku seperti bisa merasakan kehadiran Noura. Aku berjalan menuju halaman belakang, melintasi halaman rumput yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Di pesan itu, Noura memintaku untuk menemuinya di gudang belakang.
Noura berdiri dengan anggunnya. Aah, aku baru sadar kalau Noura juga seorang hantu yang modis. Baju yang dipakainya sangat kontras dengan bentuk tubuhnya yang tinggi dan langsing. Kali ini dia mengenakan blouse atasan berwarna putih dengan rok panjang bermotif kotak-kotak.
Dia menjepit rambut ikalnya ke tengah. Penampilannya begitu segar hari ini. Dia terlihat sangat ceria. Aku jadi tahu, kalau hantu punya stok baju yang cukup banyak, hehehehe. Karena baju yang dipakai Noura selalu berbeda-beda.
"Kemarin kenapa kamu menghilang, begitu saja. Aku kan jadi panik. Hmmmm, Kamu cantik sekali." Aku makin terpesona padanya.
"Aku serius. Kamu wanita tercantik yang pernah aku lihat."
"Hey, kalau kau tahu berapa usiaku, kau pasti akan terkejut. Mungkin aku sebaya dengan nenek buyutmu."
"Aku tidak peduli. Di mataku, kamu tetap seorang gadis cantik. Meski kita berbeda zaman," ucapku.
"Dan berbeda dimensi," sambung Noura.
"Tapi aku senang bisa bertemu dan berteman denganmu."
__ADS_1
Noura memamerkan lagi senyumannya yang membuatku serasa terbang ke langit ke tujuh. Dia menggandeng tanganku dan membawaku menuju suatu tempat.
"Kau ingin tahu banyak tentang kehidupanku di masa lalu?" tanyanya sambil mengusap keningnya.
"Ya, aku penasasan ingin tahu semuanya tentang kamu."
Kami memasuki sebuah bangunan kecil yang berada persis di belakang rumah. Bentuknya mirip sebuah paviliun. Di sampingnya terdapat gudang kecil yang menempel lengkap dengan cerobong asap.
Keren. Itu yang terlintas di kepalaku, saat melongok ke dalam paviliun. Tidak banyak barang-barang yang ada di sini. Hanya beberapa perkakas sisa-sisa renovasi dan beberapa benda antik peninggalan tempo dulu. Kursi, meja, beberapa guci antik dan juga lemari kuno yang terbuat dari kayu jati.
"Dulu ini adalah tempat tinggal Sadeli dan Nimah. Mereka adalah pasangan suami istri yang bekerja di rumahku. Mereka sudah cukup lama ikut dengan keluargaku."
"Kau dekat dengan mereka?" tanyaku.
"Sangat. Mereka sudah mengenalku sejak aku kecil dan mereka juga yang menyelamatkanku." Raut wajah Noura langsung berubah. Mendung nampak bergelayut di bola matanya.
"Hey, kamu kenapa? ceritalah, jangan sungkan-sungkan. Aku siap mendengar semua ceritamu."
__ADS_1
Dia mengangguk. Pandangan mataku tertuju pada beberapa perabotan makan yang berderet rapi di dalam lemari kaca.
Ini keren. Luar biasa. Piring, gelas, teko dan beberapa sendok dan garpu yang terbuat dari perak. Semuanya masih bagus, meski sudah tertutup debu.
"Apa ini peralatan makan keluargamu?" tanyaku lagi.
"Ya. Di tempat ini ada banyak kenangan yang sulit dilupakan. Sewaktu kecil, aku sering bersembunyi di sini, tiap kali guru les biolaku datang."
"Aku sangat tidak suka dengan guru biola itu, karena dia galak sekali. Aku juga tidak menyukai alat musik biola. Menurutku itu sangat susah dimainkankan. Tapi Papa terus memaksaku. Dan akhirnya, aku memilih untuk bersembunyi. Aku meminta Nimah untuk tidak mengatakan pada Papa kalau aku bersembunyi di sini. Sampai semua orang sibuk mencariku, " Noura mulai tertawa kecil.
"Hahahahaha...Kamu nakal juga ya!" kataku sambil terus mengamati isi paviliun ini.
"Sangat. Sedari kecil, aku senang memberontak. Aku tidak mau dipaksa untuk hal-hal yang tidak aku suka. Aku lebih senang bermain, menggambar dan bercocok tanam daripada belajar. Beda dengan Sophia, kakakku. Dia jauh lebih cerdas, rajin belajar dan juga mahir bermain musik."
Noura membawaku lagi menuju gudang kecil yang menempel dengan paviliun ini. Bau tidak sedap mulai tercium dari arah dalam gudang. Debunya sangat tebal sekali.
"Kau tunggu di situ saja!" Noura memintaku untuk tidak masuk ke dalam gudang.
__ADS_1
Sama seperti paviliun itu, gudang itu berisikan beberapa perabotan tempo dulu. Ada sofa, ranjang besi, lemari kayu, sebuah piringan hitam, rak piring, cermin besar, lalu ada beberapa kaleng sisa-sisa cat, dan sebuah peti berukiran emas. Noura mengambil peti itu dan membawanya ke arahku.
Bersambung.