
"Bay, kenalkan ini Mbak Siti. Dia yang akan bantu-bantu Mama di dapur," Mama memperkenalkan seorang wanita berusia sekitar 35 tahun kepadaku. Wanita itu cukup rapih penampilannya. Bertubuh kurus dengan rambut dikuncir ekor kuda.
"Mbak Siti, kenalkan ini Bayu, anak pertama saya," ujar Mama.
"Semoga betah bekerja di sini ya Mbak," aku tersenyum dan menyapanya. Wanita itu menggangguk.
"Kamu sarapan dulu, sana! tadi kamu enggak sholat subuh ya? tidurmu pulas sekali. Diteriakin berkali-kali tidak bangun juga. Padahal Mama tadi mau minta kamu untuk antarkan Mama ke pasar. Akhirnya Mama berangkat ke pasar sendiri deh!"
"Bayu kan baru tidur menjelang subuh Ma. Bener-bener pules sampai gak denger apa-apa."
"Ya salahmu sendiri, cari penyakit. Kok bisa ya ketiduran sampai selama itu di paviliun belakang? mulai hari ini kamu gak boleh ke paviliun belakang lagi. Feeling Mama mengatakan seperti ada yang tidak beres di situ."
"Kamu masih ingat gak? kejadian waktu kamu kecil dulu. Waktu kamu main petak umpet dan kamu sembunyi di rumah kosong lalu kamu ketiduran di sana. Kejadian itu terulang lagi sekarang."
"Kamu seperti disembunyikan makhluk halus. Kamu ketiduran berjam-jam di rumah kosong itu. Sampai teman-teman kamu gak bisa menemukan kamu. Untungnya teman kamu Si Aldo cerita sama Mama. Coba kalo pada diam aja. Mana Mama tahu kalau kamu ada di situ! banyak yang bilang rumah kosong itu angker."
__ADS_1
"Untungnya kamu ngumpet di situ gak sendirian. Tapi sama Aldo dan Alvin. Begitu mereka keluar dari rumah kosong itu, mereka sadar kalau kamu gak ada. Padahal saat itu kalian ngumpetnya bertiga kan? kok bisa kamunya gak kelihatan? padahal posisi kamu ngumpet gak jauh dari mereka."
"Pokoknya Mama minta sekali lagi, jangan pernah dekati lagi paviliun belakang itu. Kejadian kemarin sudah cukup membuat Mama senewen!"
Aku hanya bisa mengangguk. Ingin rasanya menceritakan semuanya pada Mama. Tapi tidak mungkinlah.
Mama menaruh beberapa potong roti yang sudah dioles selai ke piring lalu disodorkannya padaku.
"Waktu di paviliun itu, pasti kamu banyak melamun kan? istilahnya itu kesambet. Kamu dibuat mengantuk lalu ketiduran. Persis seperti kejadian waktu kecil dulu," nampaknya Mama masih sangat penasaran dengan kejadian yang kualami kemarin.
Aku mencari tempat bersembunyi di pojok selasar yang berhadapan langsung dengan taman. Pot-pot tanaman berukuran besar dapat menutupi tubuhku agar tidak mudah terlihat. Sementara Alvin, Aldo dan Dandy bersembunyi di balik pagar rumah itu.
Aku juga tidak tahu, tiba-tiba hawa kantuk datang dan membuatku seketika pulas tertidur. Anehnya, menurut ketiga temanku, mereka tidak melihatku. Beberapa menit pertama saat bersembunyi mereka masih bisa melihat posisiku yang bersembunyi di balik pot. Tapi beberapa menit setelahnya, menurut mereka, aku sudah tidak ada.
Mereka keheranan. Bagaimana bisa aku tiba-tiba tidak ada? Kalaupun aku pergi dan keluar dari rumah kosong itu, aku pasti melewati pintu pagar dan pasti terlihat oleh mereka.
__ADS_1
Bagian depan dan samping rumah kosong itu terkunci rapat. Hanya pagarnya yang sudah reyot dan nyaris tumbang yang terbuka. Mereka semua keheranan dan akhirnya keluar lalu melapor pada Mama.
Saat itu aku benar-benar tidak merasa ada apa-apa. Aku tertidur sangat pulas. Tidak mendengar teman-teman yang berteriak memanggilku. Hingga akhirnya Mama dan juga beberapa orangtua temanku datang dan mencariku. Mereka semua panik. Terlebih rumah itu terkenal angker. Beberapa orang sempat ada yang melihat penampakan di situ.
Setelah berusaha mencari, Mama meminta tolong pada Pak Uci, salah satu tetangga yang dikenal bisa mengobati orang-orang yang terkena gangguan makhluk halus. Setelah berdoa cukup lama, akhirnya, aku ditemukan juga. Mereka melihatku tertidur pulas di balik pot.
Semenjak itu, Mama dan juga orang tua lainnya melarang anak-anak mereka untuk bermain-main di dekat rumah kosong itu.
Itulah pengalamanku pertama kali bersentuhan dengan dunia mistis. Semenjak itu tidak ada keanehan lagi. Aku tidak pernah sensitif lagi melihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Kalaupun merasakan, paling hanya berupa suara-suara saja yang menandakan keberadaan mereka.
Dan baru kali ini, saat berinteraksi dengan Noura. Aku baru bisa merasakan keberadaannya secara nyata. Melihat wujudnya, mendengar suaranya dan bahkan menyentuhnya. Dia benar-benar ada.
Aah, ingin rasanya menemui Noura lagi. Dia belum menuntaskan ceritanya kepadaku. Aku masih penasaran ingin mendengar kelanjutan kisah hidupnya.
Kulihat Mama sedang sibuk menyiapkan adonan. Dibantu Mbak Siti, Mama mengeluarkan peralatan dan bahan untuk membuat adonan Mpek-Mpek. Dari raut wajahnya, Mama terlihat senang sekali. Setiap hari ada saja yang memesan Mpek-mpek dalam jumlah yang banyak. Orderannya bertambah terus.
__ADS_1
Bersambung.