NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Jejak masa lalu 1


__ADS_3

Aku masih gelagapan mendengar permintaannya. Pasti yang dia maksud adalah karya-karyanya maestro terkenal seperti Mozart dan Bethoven. Ya sudah pasti itu.


Noura tidak kenal dengan karya-karyanya Aakash Gandhi. Meskipun tadi dia mengatakan lantunan musik Aakash Gandhi sangat bagus dan membuatnya terhanyut.


Aku lumayan bisa memainkan lantunan musik Aakash Gandhi dengan piano. Dulu waktu kuliah, aku pernah mempelajarinya. Sedangkan untuk karya-karya maestro macam Mozart, Bethoven, Strauss II, Johann Sebastian Bach atau Claude Debussy, aku kurang menguasai. Terlalu sulit untukku.


Noura mendengarkan lantunan musik klasik itu dengan penuh perasaan. Ekspresinya berganti-ganti. Kadang dia tersenyum penuh sukacita, kadang dia menarik sudut bibirnya dan nampak berkaca-kaca.


"Menangislah, jika itu bisa menghilangkan sesak di hatimu. Tapi ingatlah, jangan pernah membenci takdir. Aku yakin, kamu wanita yang kuat. Apa yang terjadi dalam kehidupan kita sudah digariskan dalam takdirnya. Aku yakin suatu saat nanti, Tuhan akan mempertemukanmu lagi dengan keluargamu,"


"Luapkanlah apa yang ada dalam hatimu. Malam ini aku tidak akan tidur. Aku mau mendengarkan semua ceritamu lagi," ujarku sambil menghapus air matanya.


"Oh iya, aku minta maaf ya, kalau nanti saat aku sudah mulai sibuk mengajar, waktuku untuk kamu akan berkurang. Kamu jangan marah ya!" pintaku dengan manja.


"Tapi aku janji saat aku sedang free, aku akan luangkan waktuku untuk kamu."

__ADS_1


"Tenang saja, aku tidak akan marah. Justru aku sangat berterima kasih padamu. Kau sudah menemaniku, melewati kesepian yang sangat lama. Puluhan tahun sudah, aku berjalan sendiri, ibarat melewati lorong gelap tanpa cahaya. Hanya berteman dengan kesedihan dan kesepian yang begitu mencekam."


"Kau tidak pernah meninggalkan rumah ini?" tanyaku.


Noura menggeleng.


"Ketika aku meninggal, jasadku dikuburkan di sebuah Kerkhof (pemakaman) milik dokter Hans. Selain sebagai dokter, beliau memiliki yayasan sosial seperti panti asuhan dan balai kesehatan gratis. Beliau juga membangun pemakaman khusus untuk warga Belanda dan keturunannya yang ada di sini."


"Di mana letak makammu?" tanyaku.


" Di jalan Kamboja. Letaknya berada di pojok belakang, dekat pohon Beringin. Berderetan dengan makam warga Belanda lainnya. Hanya itu makam warga Belanda yang masih tersisa. Dulu ada beberapa komplek pemakaman Belanda di sini, tapi sudah banyak yang digusur," Noura menjelaskan.


"Entahlah. Sepertinya beliau belum juga menemukan jejak mereka. Aku tidak tahu kemana Johans Alois membawa mereka? apakah mereka dihabisi juga? Johans Alois terkenal sangat kejam. Aku bersumpah akan membalaskan dendamku sampai kapanpun."


"Tapi kau tidak tahu di mana dia kan? setelah dia menculik semua keluargamu?" aku bertanya dengan sangat hati-hati. Terlebih saat kulihat ekspresi wajah Noura menjadi terlihat dingin dan kaku.

__ADS_1


"Ada kekuatan yang membuatku tidak bisa mendatanginya. Kekuatan magis yang ada di rumahnya, di kantornya dan juga yang selalu dibawanya kemana-mana. Seperti ada cahaya yang tidak bisa aku tembus. Kau tahu, aku sangat ingin mengetahui keberadaan keluargaku. Dan hanya dia yang tahu," Noura menghela nafas.


"Sesekali aku mendatangi perkebunan Papa di Tjibinung (Cibinong), berharap aku bisa menemukan mereka. Di perkebunan karet itu aku sering menghabiskan waktuku membantu papa. Itu satu-satunya perkebunan peninggalan dari Opa. Selain mengurus perkebunan, papaku juga bekerja di salah satu perkebunan besar yang ada di Batavia meneruskan jabatan Opa sebagai kepala administrasi."


"Dan sekarang apakah masih ada perkebunan itu?" tanyaku.


"Tentu saja tidak ada. Sudah lama sekali digusur, kurang lebih lima belas tahun sejak negeri ini merdeka. Sekarang sudah menjadi pemukiman, jalan atau entah apalagi."


"Ya, ya. Pasti sudah lenyap semuanya, tergantikan dengan pembangunan fisik. Pasti sangat menarik ya, jejak kehidupan tempo dulu yang saat ini sudah tidak ada. Seperti rumah ini. Bangunan rumah ini tidak digusur kan seperti beberapa rumah lain yang ada di sekitar sini? hanya beberapa kali mengalami proses renovasi, bentuknya sangat artistik selaras dengan kecantikan pemiliknya," lagi-lagi aku menggodanya dengan kalimat gombal.


Noura mulai tersipu. Ekspresi kaku penuh dendam dan kesedihan di wajahnya mulai tergantikan dengan senyum yang mengembang.


"Ah, kau ini selalu menggodaku. Ya rumah ini sudah mengalami beberapa kali proses renovasi. Aku tinggal di sini selama berpuluh-puluh tahun. Tepatnya sepuluh tahun kemudian pasca tragedi memilukan itu, rumah ini diambil alih oleh pemerintah Belanda dan dijadikan sebagai markas KNIL."


"KNIL?" aku mengernyitkan dahi. Aku pernah mendengar istilah itu di mata pelajaran sejarah, tapi jujur aku lupa. Ya beginilah jadinya kalau sering tidur saat pelajaran sejarah. Ditambah lagi aku memang malas membaca buku.

__ADS_1


Bersambung.


Maaf baru sempat update lagi karena lagi-lagi terkendala dengan kesibukan, ditambah lagi author sempat mengalami kesulitan mengembangkan alur cerita. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, mohon like, dan votenya ya Guys! Salam sehat selalu!


__ADS_2