
Lantai yang kami pijak di ruang baca terasa berderak dan berguncang. Ada apa ini? Noura makin menggeram menahan amarah.
"Sepertinya terjadi gempa, Bang! mengerikan sekali! akhir-akhir ini memang sering terjadi gempa," ujar Jordan keheranan.
"Ya, sepertinya terjadi gempa. Di daerah mana ya?"Aku balik bertanya. Tirai Jendela nampak berayun-ayun meskipun di luar angin tidak begitu kencang.
"Kok tiba-tiba saya merinding ya, Bang? kayaknya gak enak aja gitu."
"Hmm....Ada apa memangnya? cuma gempa kan dan angin bertiup kencang?" Aku menangkap keanehan dari sorot mata Jordan.
" Entahlah, Bang! kok suasananya seperti berbeda aja. Tidak biasanya saya merasa seperti ini."
"Perasaanmu saja barangkali. Aku tidak merasakan apa-apa," aku berusaha menenangkan Jordan yang nampak merasa aneh.
"Entahlah. Mungkin ini hanya perasaan saya saja. Btw, kita makan malam dulu, Bang!"
"Sudah malam, aku mau langsung pulang saja."
"Tapi tadi Abang kan belum mengcopy jurnal-jurnal yang dibutuhkan sepupu Abang untuk skripsinya?"
Ah, benar juga. Aku sampai lupa mengcopy jurnal-jurnal tentang peristiwa Gedoran, saking terlalu asyiknya menelusuri cerita tentang leluhur Jordan Winhern dan juga cerita-cerita lainnya tentang keluarga Van Kemmers. Meskipun sebenarnya aku tidak membutuhkan jurnal-jurnal itu, tapi tak ada salahnya untuk menyimpannya. Kebohongan tidak boleh sia-sia kan, suatu saat nanti pasti àkan ada gunanya.
"Oh iya aku sampai lupa. Mungkin besok aku kembali lagi ke sini ya untuk mengcopy jurnal-jurnal itu?"
"Lebih baik Abang menginap saja di sini, Bang! besok kan hari minggu. Saya sendirian di sini. Bu Asih sudah pulang sejak sebelum maghrib."
"Siapa itu Bu Asih?" tanyaku.
"Yang bantu-bantu di sini, Bang! yang tadi menyiapkan makan siang buat kita! kebetulan rumahhya tidak jauh dari sini. Jadi beliau pulang-pergi setiap hari."
"Oh...Baiklah, aku kabari orang rumah dulu! mereka pasti khawatir kalau aku tidak pulang."
__ADS_1
Malam ini kuputusan untuk menginap di rumah Jordan. Hujan yang sudah mereda sejak beberapa jam yang lalu mendadak muncul lagi. Well, sepertinya keputusanku menginap di rumah Jordan sangat tepat. Udara dingin mulai berhembus dari jendela yang terbuka.
"Kita bermalam di sini!" bisikku pada Noura yang masih diam di pojok ruangan sambil memeluk lututnya. Jordan nampak fokus dengan ponselnya lalu mulai berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Hey, apa kamu baik-baik saja?" malam ini kita tidak pulang ke rumah. Dengarkan aku, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi kamu harus ikhlas! semua sudah takdir yang Maha Kuasa. Maafkan aku. Aku telah membuatmu bersedih lagi. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan aku lakukan seandainya aku ada di posisimu."
"Kenapa harus minta maaf ? justru aku sangat berterima kasih padamu. Sekarang hatiku lega karena bisa mengetahui semuanya dengan jelas. Meskipun kesedihan ini tetap akan selalu ada. Tidak akan pernah hilang...Entah sampai kapan. Aku begitu merindukan mereka..." Noura meraih tanganku dan menggenggamnya.
Mataku terus tertuju ke arah Jordan yang sedang asyik bertelepon. Dia nampak serius sekali berbicara dengan seseorang di telepon. Semoga dia tidak menangkap posisiku yang sedang berbicara dengan Noura.
"Sudah kabari orang rumah, Bang?" Jordan bangkit dari kursinya dan berjalan ke arahku.
"Hujannya deras lagi ya? cuaca benar-benar tidak bersahabat. Harus dopping vitamin yang cukup untuk daya tahan tubuh," ujarnya sambil melirik ke arah jendela.
"Ya begitulah. Anggap saja, hujan berkat. Oh ya, aku sudah mengabarkan ke Mamaku kalau malam ini aku tidak pulang."
"Wah, saya juga baru saja teleponan dengan Mama saya, Bang! Mama berencana untuk pulang ke Depok besok lusa. Tadi Mama mengatakan Farhan, keponakannya yang juga sepupu saya sudah bisa dilepas untuk menangani urusan klinik. Jadi Mama akan lebih sering untuk pulang ke Depok."
"Hmmmm...."Jordan menekuk bibirnya.
"Untuk urusan yang satu itu, Mama dan Papa kompak, Bang. Entah apa alasan mereka belum juga memberikan izin untuk saya melanjutkan studi di bidang musik."
" Terus apakah kamu membenci mereka karena tidak mendukungmu?" tanyaku.
"Benci sih tidak, Bang. Hanya sedikit kecewa. Tapi saya yakin, suatu saat nanti Mama Papa pasti akan luluh dan memberikan izin pada saya."
Luar biasa anak ini, dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesal saat bercerita padaku tentang orangtuanya yang tidak juga memberikan izin padanya untuk kuliah di jurusan musik.
***
"Oh iya, kembali lagi tentang keluarga Van Kemmers, tiba-tiba aku penasaran lagi dengan tragedi yang menimpa keluarga Van Kemmers? Apakah pelaku pembunuhan keluarga Van Kemmers berhasil ditangkap?" tanyaku.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul dua belas lewat 10 menit. Kami baru saja menikmati martabak telur yang dipesan Jordan via aplikasi orange. Obrolan demi obrolan terus bergulir, lagi-lagi topik tentang musik masih menarik bagi kami melanjutkan diskusi tengah malam ini.
"Saya tidak tahu, Bang! Besok saja lagi kita cari jurnal dan berita yang menceritakan tentang tragedi itu."
Aku mengangguk. Aaah, mengapa tadi tidak aku baca sampai habis halaman berikutnya tentang di berita yang memuat tentang keluarga Van Kemmers. Teriakan dan amarah Noura tadi benar-benar membuat aktivitasku di ruang arsip itu terhenti sejenak. Terlebih lagi Noura melempar lembaran-lembaran Jurnal dan melakukan aksi yang cukup mengejutkan yaitu menangis histeris sampai lantai yang kami pijak bergetar seperti terjadi gempa.
Malam ini kami tertidur di ruang TV. Usai berdiskusi tentang musik, kami menghabiskan malam dengan menonton pertandingan sepak bola di youtube. Kurasakan tangan dingin membeli pipiku. Isakannya terdengar lagi. Lirih, seperti melantunkan kepiluan yang teramat sangat. Aku ingin bangun untuk menenangkannya tapi mataku sangat berat untuk terbuka.
***
"Kalau masih ada informasi dan jurnal yang belum lengkap tentang peristiwa Gedoran, silahkan cari lagi Bang! sebanyak-banyaknya! Silahkan copy semuanya!" ucap Jordan. Pagi ini kami kembali lagi ke ruang arsip dan perpustakaan di rumahnya. Cuaca cerah, sinar matahari begitu hangat menyapa dari sela-sela jendela.
Jordan mempersilahkan aku mengcopy jurnal dan catatan tentang peristiwa Gedoran dengan menggunakan mesin printer milik ayahnya. Dia juga membantuku untuk menyusun lembaran-lembaran kertas hasil fotocopy. Baik sekali, dia! seketika aku merasa tidak enak karena telah membohonginya. Aku sudah merepotkannya. Aku harus membalas kebaikannya.
"Oh ya, kalau ada waktu mainlah ke rumahku. Cicipi Mpek-Mpek buatan Mamaku. Mamaku membuka usaha kecil-kecilan. Jualan Mpek-Mpek yang kata kebanyakan orang sih bikin nagih. Sekali makan pasti langsung ketagihan, hehehehe jadi promosi, nih!"
"Wah, boleh tuh, Bang! saya dan Mama suka sekali dengan Mpek-Mpek. Nanti saya order deh,"
"Tidak usah order. Nanti siang atau sore aku kirim aja ya ke sini. Gratis."
"Wah...Jadi enak nih dikasih gratisan, hehehe! makasih banyak loh, Bang!"
"Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu sudah membantuku! membantu sepupuku mendapatkan data dan arsip-arsip itu. Kalau bukan karena bantuanmu, mustahil aku bisa mendapatkan data-data untuk bahan skripsi sepupuku dalam waktu seharian saja."
"Aah, apa sih Bang! saya senang bisa bantu sepupu Abang! Papa sendiri tidak pernah keberatan membagikan koleksi jurnal-jurnal miliknya untuk orang-orang yang membutuhkan. Apalagi sepupu Abang sangat membutuhkannya untuk bahan skripsi."
Ya Tuhan, sekali lagi ampunilah aku! Jordan begitu percaya pada modus yang kubuat. Tapi memang pada dasarnya anak muda ini punya hati yang baik dan senang menolong, maka dia begitu sukacita membantuku. Sambil menikmati secangkir kopi, aku mulai berkutat lagi pada lembaran-lembaran Jurnal yang memuat tentang peristiwa Gedoran. Ada lembaran yang membuatku tertegun, yaitu tentang daftar lembaran yang memuat nama-nama orang yang tewas dalam peristiwa Gedoran. Baik dari kalangan Kaum Belanda Depok, Kaum Indo maupun Belanda Totok. Mataku terfokus pada satu nama tertera di salah satu daftar, Johans Alois.
Bersambung.
Mohon maaf untuk keterlambatan update yang kesekian kalinya...Author sedang sibuk mengurus PTS dan PSAJ di sekolah. Belum lagi kemarin ada beberapa urusan yang mengharuskan Author berada di tempat yang sinyalnya jelek... Terima kasih buat para pembaca yang masih bersabar mengikuti kisah Noura Van Kemmers....Love you all!!!
__ADS_1