NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Ditinggal Nimah dan Sadeli


__ADS_3

"Ada banyak cerita kesedihan di rumah ini. Diawali dari kejadian tanggal 23 Desember 1930, lalu berlanjut cerita-cerita pilu lainnya. Dari musibah yang menimpa keluargaku, lalu aku yang kemudian meregang nyawa di paviliun belakang hingga penyiksaan terhadap prajurit yang ditawan tentara KNIL," sambil menyibakkan rambutnya, Noura kembali menuturkan.


"Hidupmu sebelum musibah pasti sangat bahagia kan?" tanyaku.


"Sangat. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan berakhir seperti ini. Aku terpisah dari keluargaku dan mati di usia muda. Saat masih banyak impian yang ingin kuraih."


"Ngomong-ngomong, di mana letak persis bilik itu? tadi kamu bilang di dekat paviliun," tanyaku.


"Di sisi sebelah kanan paviliun. Dulu itu di situ ayunan dan air mancur juga kursi taman yang memanjang di sepanjang hamparan rumput. Itu juga salah satu tempat favoritku selain halaman depan."


"Setelah perang kemerdekaan selesai. Bangunan rumah ini dibiarkan begitu saja. Kosong. Tak berpenghuni. Beberapa orang yang bekerja di rumah ini, tidak ada yang berani memasuki rumah ini. Nimah dan Sadeli sudah meninggalkan rumah ini tepat seminggu setelah aku meninggal."


"Saat itu aku menangis dan memohon sejadi-jadinya agar mereka tidak meninggalkanku sendiri di rumah ini. Tapi mereka tidak bisa mendengarku. Aku tidak mau sendiri di sini. Masih terbayang saat-saat mereka mengemasi barang-barang mereka sambil menangis."


"Aku teriak sekuat tenaga, memohon sekali lagi kepada mereka agar tidak meninggalkanku. Tapi tetap saja, mereka tidak mendengar. Sejak saat itu, aku sadar kalau aku sudah menjadi sosok yang berbeda. Aku sudah terlepas dari tubuh kasarku."


Flashback on

__ADS_1


"Saya dan Bang Sadeli izin pamit ya Non. Maafkan saya juga suami saya kalau selama ini banyak salah. Kita berdua gak bisa jagain Non. Non yang tenang di sana ya. Semoga ada kabar secepatnya tentang keluarga Non," Nimah mengusap air matanya.


Setelah berkemas mereka pun meninggalkan rumah itu. Rumah kediaman keluarga Van Kemmers yang selama ini menjadi tempat mereka bekerja. Berat hati Nimah dan Sadeli meninggalkan rumah itu.Terlebih Tuan dan nyonya Van Kemmers sangat baik terhadap mereka juga pada para pekerja lainnya.


Di rumah itu ada lima orang pekerja. Nimah dan suaminya, Sadeli, lalu ada Zainab dan Juhariah dan juga Sudarman yang merupakan asisten Tuan Van Kemmers. Saat kejadian tanggal 23 Desember 1930, Zainab dan Juhariah sedang tidak ada di rumah keluarga Van Kemmers.


Tepat pagi hari tanggal 23 Desember, mereka berpamitan pada Nyonya Van Kemmers untuk izin tidak bekerja dulu karena nenek mereka meninggal dunia. Kebetulan mereka berdua adalah kakak beradik. Mereka tinggal tidak jauh dari kediaman keluarga Van Kemmers. Kadang mereka menginap, kadang mereka pulang di sore hari. Seperti Sudarman, mereka tinggal di perkampungan kecil yang terletak di belakang perumahan.


Setelah kejadian penculikan keluarga Van Kemmers, hanya Nimah dan Sadeli yang masih bertahan. Sudarman menghilang entah kemana, Zainab dan Juhariah memutuskan untuk tidak bekerja lagi. Suasana rumah keluarga Van Kemmers masih mencekam saat anak buah Johans Alois masih bolak-balik memasuki rumah itu.


" Iya. Mungkin ini pesangon buat kita," tukas Sadeli.


Berbekal cincin itu dan sedikit uang pemberian dari dokter Hans dan Tuan Frans Winhern, Nimah dan Sadeli meninggalkan rumah itu dengan mata berkaca-kaca.


"Hey, jangan pergi. Kumohon Nimah, Sadeli. Jangan tinggalkan aku di sini. Aku tidak punya siapa-siapa lagi!" teriakan Noura menggaung semakin keras.


"Ayo Nimah. Makin lama kita pandangin ni rumah, makin berat kita ninggalin ni rumah," Sadeli menuntun istrinya bergegas keluar gerbang. Mereka pun kembali ke kampung halaman mereka di Tjinere (Cinere).

__ADS_1


Setelah itu rumah keluarga Van Kemmers berada dalam pengawasan Tuan Frans Winhern dan dokter Hans. Kepolisian masih terus mencari keberadaan jejak penculikan keluarga Van Kemmers juga pelakunya.


Flashback off


"Siapa Tuan Frans Winhern?" tanyaku.


"Dia teman baik Papaku. Rumahnya berada di ujung gang dekat belokan. Tidak jauh dari sini. Aku bisa menunjukkan rumahnya," jawab Noura.


Di ujung gang dekat belokan itu kan rumahnya Bu Indah. Apa itu yang dimaksud Noura?


"Waktu insiden penculikan keluargaku, Tuan Frans Winhern sekeluarga sedang tidak berada di Depok. Mereka sedang berkunjung ke rumah anak mereka di Bandung."


"Dia sangat terkejut mendengar kabar tentang keluargaku. Terlebih ketika aku meninggal. Dia sangat menyesali kejadian itu. Saat insiden itu terjadi, suasana di sekitar sini memang sangat sepi. Tidak ada tetangga atau orang lewat yang bisa menolong kami."


Bersambung.


Mohon like dan votenya ya Guys.....Terima kasih dan semoga berkah selalu.

__ADS_1


__ADS_2