NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Obrolan di tengah hujan


__ADS_3

Mendengar ceritanya aku jadi bercermin pada diriku sendiri. Bedanya orangtuaku sangat demokratis. Mereka tidak pernah memaksaku dalam hal apapun. Ketika aku menyatakan keinginanku untuk melanjutkan kuliah di bidang pendidikan seni musik, mereka tidak keberatan. Baik Ayah ataupun Mama sangat mengerti dengan kemampuanku. Mereka paham aku lebih berminat pada seni musik ketimbang bidang ekonomi atau sains, dan mereka selalu mendukung pilihanku.


"Mereka selalu mengatakan tidak perlu mengambil kuliah jurusan musik. Sudah cukup selama ini saya menekuni bidang musik, saya harus mencoba bidang lain yang lebih menjanjikan menurut orangtua saya," ucap Jordan Winhern menghela nafas panjang.


"Ngomong-ngomong berapa usiamu?" tanyaku.


"September besok saya tepat 21 tahun, Bang."


"Masih muda. Masih banyak kesempatan buatmu. Aku juga dulu seperti kamu. Tapi bedanya orangtuaku sangat mendukung apapun pilihanku. Dan aku sudah mantap ingin menjadi guru musik. Dan Alhamdulillah, kini sudah tercapai."


"Wah, senangnya punya orangtua seperti orangtua Abang. Jujur saja, sampai saat ini saya masih terus merayu Mama dan Papa saya agar mengizinkan saya untuk kuliah di jurusan seni. Rencana saya ingin mengambil jurusan seni pertunjukan atau seni musik. Saya juga punya passion ingin mendalami musik klasik."


"Keren!" ucapku sambil mengacungkan dua jempol.

__ADS_1


"Kamu sangat berbakat. Sentuhan biolamu saat memainkan musik klasik benar-benar hidup dan menjiwai. Sangat memukau. Tidak semua orang mampu memainkan musik klasik dengan tempo dan irama yang begitu fantastis seperti kamu. Aku tidak sedang memujimu, loh! apa yang kuucapkan ini benar-benar murni dari lubuk hati yang terdalam."


"Terima kasih, Bang!" bantu doakan ya Bang! semoga orangtua saya bisa merestui keinginan saya ini."


"Sejak kecil, saya sudah terbiasa mendengarkan musik klasik. Opa dan Oma saya adalah pecinta karya-karya Mozart dan Bethoven. Mereka juga mahir memainkan piano. Menurut cerita Opa, memainkan alat musik khususnya musik klasik merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukannya saat masih kecil dulu. Jadi bisa dikatakan, keluarga Opa hampir semuanya bisa memainkan alat musik khususnya musik klasik. Barulah generasi setelah Opa, seperti Papa, Om dan Tante saya, minat untuk mempelajari musik khususnya musik klasik mulai meluntur. Bidang lain dan menekuni disiplin ilmu jauh lebih menarik dan menyita perhatian mereka ketimbang mempelajari alat musik," tutur Jordan.


"Luar biasa. Dan kini minat untuk menekuni musik klasik menurun kepadamu. Tapi kamu pernah bercerita kalau keluarga besarmu dulu pernah tinggal di Depok?" tanyaku sambil menggigit bibir. Angin mulai berhembus kencang dan membuatku menggigil kedinginan. Well, sepertinya aku sudah mulai mendapat celah untuk mengorek informasi lebih dalam tentang keluarganya.


"Betul, Bang. Kakek moyang saya sudah tinggal di Depok sejak di awal tahun 1900 an. Mereka cukup lama tinggal di sini. Itulah sebabnya mengapa saya betah di Depok. Mungkin karena leluhur saya dulu juga menetap di sini cukup lama. Puluhan tahun yang lalu, Bang."


"Kalau tidak salah di daerah Depok lama, Bang. Dulu kakek moyang saya punya beberapa aset di sini. Kakek moyang saya punya perkebunan karet di daerah Bogor, juga pabrik pengolahan logam. Bisa dikatakan mereka termasuk orang Belanda yang sukses di sini. Maksud saya, penjajah yang sukses, Bang....," Jordan menahan ucapannya.


"Mereka cukup lama tinggal di sini?" tanyaku menyelidik.

__ADS_1


"Kurang lebih sejak tahun 1900 an. Jejak peninggalan kehidupan leluhur saya di sini bisa dikatakan sudah nyaris lenyap. Keberadaan rumah mereka entah di mana posisi persisnya, saya juga tidak tahu. Begitu juga dengan aset-aset peninggalan keluarga leluhur. Menurut cerita dari Kakek saya, pasca Indonesia merdeka, sebanyak aset-aset milik orang Belanda yang diambil alih oleh pemerintah saat itu, atau dalam istilahnya.disebut dengan Nasionalinasi," tutur Jordan sambil mengatupkan bibirnya.


"Dan sejak saat itu semuanya berakhir. Cerita kesuksesan Kakek moyang dalam membangun bisnisnya di negeri ini hanya tinggal kenangan. Keluarga Winhern beserta keluarga Belanda lainnya diminta untuk angkat kaki meninggalkan republik ini dan kembali ke Netherland."


"Maaf sebelumnya jika membuatmu tersinggung. Kakek moyangmu berhasil membangun bisnis dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan di negeri ini, itu semua karena sukses menjajah dan membodohi bangsa ini selama 350 tahun. Bukan begitu bukan?" aku mulai meralat penjelasannya.


"Iya benar, Bang. Maafkan leluhur saya ya Bang. Kalau bukan karena menjajah bangsa ini, mustahil kami akan merasakan hidup seperti saat ini. Bangsa saya telah membuat penderitaan panjang buat negeri ini. Tapi jujur dari hati yang paling dalam, saya mencintai negeri ini, Bang. Apalagi dalam tubuh saya juga mengalir darah Indonesia. Mama saya adalah wanita Indonesia. Saya suka semua yang ada di sini. Mulai dari iklimnya yang sangat bersahabat, keramahan penduduknya, makanannya, budayanya, keindahan alamnya, semuanya. Indonesia adalah bagian dari jiwa saya juga. Dan saya sangat betah tinggal di sini. Saya ingin mengabdi dan bekerja di sini," ucapnya dengan lirih.


"Maaf, bagaimana status kewarganegaraanmu?" tanyaku penasaran, terlebih setelah dia mengucapkan kata Bangsa saya.


"Status saya WNA, Bang. Saya masih berkewarganegaraan Belanda. Meskipun sempat terlintas di benak saya untuk menjadi WNI. Karena saya betah dan ingin menetap di sini. Tapi entahlah, itu baru rencana ke depan."


Jordan Winhern menatapku dengan ramah sambil terus bercerita tentang pengalaman-pengalaman uniknya waktu pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. Kelihatannya dia tidak tersinggung dengan ucapanku tadi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2