
Tujuan Nyonya Helena baik. Dia ingin Noura belajar menjahit. Bukankah menjahit adalah keterampilan yang sangat berguna. Terlebih bagi perempuan yang memang menyukai gaya dan model busana. Nyonya Helena berharap Noura bisa tertarik untuk belajar menjahit.
Semalam dia sudah mengatakan pada Noura kalau esok pagi Elsye Van Beek akan datang sekitar jam sembilan. Elsye akan mengajarinya bagaimana cara menjahit dengan menggunakan mesin.
"Mama harap kamu mau belajar menjahit, Noura. Tidakkah kau ingin seperti Nona Elsye yang pandai menjahit. Hasil jahitannya terkenal rapih dan bagus. Banyak orang yang puas dengan hasilnya. Belajar menjahit bukanlah hal yang membosankan. Justru itu sangat baik untuk meningkatkan kreativitasmu. Kau bisa membuat gaun sendiri nantinya atau kamu bisa membuka usaha konveksi. Lihatlah mesin jahit itu. Itu mesin jahit peninggalan nenekmu dan sudah lama sekali tidak digunakan," ujar Nyonya Helena dengan antusias.
"Iya Mama," jawab Noura pendek. Iya, itulah jawaban yang paling tepat untuk membuat Mama berhenti mengoceh. Jauh di dalam lubuk hatinya, tak ada sedikit pun minatnya untuk belajar menjahit.
Mengapa bukan Mama saja yang belajar menjahit, jika memang berminat, gumam Noura dalam hati
Pagi setelah sarapan, Noura mengendap-ngendap menuju halaman samping, tempat di mana papanya menaruh mobil. Didekatinya mobil jeep keluaran tahun 1925 itu dan duduk di kursi belakang.
"Nona mengejutkan saja," ucap Sudarman yang sedang duduk menikmati kopinya.
__ADS_1
Noura menempelkan telunjuk pada bibirnya, memberi kode Sudarman agar tidak bersuara. Tidak lama Tuan Adrian muncul dan segera masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, pagi itu dia berencana ke perkebunan karet untuk mengecek hasil panen. Sudarman mengucapkan salam dan kemudian mempersiapkan mobil.
"Hey, kau di sini rupanya?" Tuan Adrian tekejut melihat Noura sudah duduk di dalam mobilnya.
"Aku mau ikut papa ke perkebunan. Aku mau bantu-bantu menyadap karet. Boleh kan?" pinta Noura.
"Tapi bukannya Mama memintamu untuk diam di rumah dan belajar menjahit bersama Nona Elsye? Mama akan memarahimu nanti!"
"Aku tidak suka menjahit dan aku tidak ingin belajar menjahit. Aku tahu Mama akan marah, bukannya Mama memang sudah terlalu sering memarahiku?"
"Baiklah jika itu maumu," jawab Tuan Adrianus. Lagi dan lagi Dia hanya bisa mengiyakan tanpa memberikan alasan, karena sudah pasti Noura akan tetap ke perkebunan meskipun dia melarang.
"Terima kasih Papa."
__ADS_1
...****************...
Kebun karet yang berlokasi di daerah Tjibinung (Cibinong) yang memiliki luas 1,5 hektar tersebut memang sangat menjanjikan. Setiap panen mampu menghasilkan 20 sampe 60 liter getah karet. Nilai jualnya sangat potensial, mengingat kebutuhan akan industri olahan karet sedang tingginya tingginya pada saat itu. Opa Willly mendapatkan tanah itu secara cuma-cuma setelah dia pensiun dari pekerjaannya di Herverman. Seperti halnya orang-orang Belanda kebanyakan, kebun karet itu merupakan salah satu investasi sekaligus sumber kekayaannya di negeri jajahan. Kehidupan yang sulit waktu di Harlingen menjadikan Opa Willy sangat berhemat hingga akhirnya bisa mengumpulkan modal untuk mengembangkan perkebunan itu.
Selain kebun karet itu, Opa Willy juga memiliki usaha pengawetan ikan di Harlingen. Usaha itu dijalaninya setelah dia menetap kembali menetap di Harlingen. Kepergian istrinya, Roseline akibat penyakit malaria telah membuatnya kehilangan semangat hidup dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Harlingen.
Dia pun menugaskan anak semata wayangnya, yaitu Adrianus Van Kemmers untuk meneruskan pekerjaannya sebagai kepala staf di salah satu perkebunan raksasa di Batavia sekaligus mengolah kebun karet miliknya. Adrianus yang saat itu sudah menikah langsung mengiyakan dan memboyong istri dan ke tiga anaknya untuk pindah.
Sewaktu remaja dia pernah beberapa tahun menetap di Hindia Belanda bersama orangtua dan kakek neneknya. Suasana negeri jajahan yang sejuk dan asri membuatnya betah, namun keharusannya untuk menyelesaikan pendidikannya membuatnya harus kembali ke Netherland. Di sana pula Adrianus menuntaskan pendidikannya dan bertemu dengan Helena dan kemudian menikah.
Adrianus masih bekerja di perusahaan kayu milik teman ayahnya ketika Sang Ayah memintanya untuk ke Hindia Belanda. Saat itu tidak ada pilihan lain. Kondisi yang sulit di Harlingen membuatnya harus segera berpindah ke Hindia Belanda dan memulai peruntungan di sana.
Dan benar saja, Adrianus berhasil menggantikan jabatan Sang Ayah sebagai kepala staf administrasi di perkebunan besar milik salah satu mantan pejabat VOC di Batavia, dan tidak hanya itu, dia juga berhasil mengelola perkebunan karet milik ayahnya sendiri hingga sukses dan berkembang. Dari yang luasnya tidak seberapa hingga akhirnya bisa mencapai satu hektar lebih, keuntungan pun terus meningkat setiap tahun dan tentu saja Kehidupan ekonomi keluarganya pun semakin membaik.
__ADS_1
Bersambung.
Boleh donk like dan votenya Guys.....Haturnuhun.