
Truk trontom terus melaju membelah jalan. Suara teriakan dan makian terdengar bersahutan, timbul tenggelam bersama hembusan angin. Kegugupan menyelinap di hati Johans Alois. Akan bagaimanakah proses eksekusi nanti? selama ini dia belum pernah menghabisi nyawa orang lain. Kejahatan yang dilakukannya hanyalah kasus korupsi dan penggelapan dana. Apakah tindakannya ini sudah menjadi tindakan yang tepat?
Johans mendengus. Dia tidak boleh ragu-ragu. Dia harus bertindak cepat. Adrianus Van Kemmers harus disingkirkan secepatnya. Hingga akhirnya truk trontom menepi di suatu tempat. Sepertinya sudah sampai, gumam Johans Alois. Dan inilah saatnya. Segala rencana yang telah dipersiapkan harus segera dijalankan.
Tepian Kali Pesanggrahan. Tempat yang disarankan salah satu centeng sebagai lokasi eksekusi. Daerah aliran Sungai (DAS) itu masih sangat sepi. Tidak nampak rumah penduduk atau areal perkebunan. Di kanan kirinya hanya berupa hutan dan semak belukar.
Johand Alois bergegas turun dan menarik pelatuk pistolnya. Menimbulkan bunyi door yang menggema. Seorang wanita yang sepertinya istri Adrianus Van Kemmers berkomat-kamit mengucap doa.
Wajah-wajah mereka nampak pucat dan begitu ketakutan. Lalu semuanya diminta turun. Seorang gadis muda berkaca mata ( Sophia) berusaha kabur, tapi gerakannya kalah cepat. Tangan seorang Centeng segera menariknya dengan kasar.
Johans Alois berdiri tegak sambil mengacungkan pistolnya ke udara. Ke lima Centeng meskipun hanya berjumlah lima orang, tapi mereka sangat menyeramkan. Selain bertubuh kekar bak jagoan, mereka juga membawa senjata.
Seluruh keluarga Van Kemmers dijadikan dalam satu posisi berjejer. Ke dua bocah laki-laki dan perempuan nampak menangis ketakutan.
"Aku mohon, jangan sakiti keluargaku. Kita selesaikan baik-baik masalah tanah perkebunan itu di Pengadilan. Pengadilan yang lebih berhak memutuskan siapa yang lebih layak atas tanah itu,"
"Pengadilan pasti akan memenangkanmu, Bodoh. Kau memiliki surat-suratnya. Aku hanya ingin tanah itu menjadi milikku lagi, dan kau harus menyerahkannya padaku dengan suka cita. Karena itu memang bukan milikmu. Kau hanya
menerima dan mengelola tanah itu dari ayahmu, Si Tua Bangka yang berotak licik itu. Berkat mulut jahanamnya, aku kehilangan semua hartaku. Aku bersumpah akan membalaskan dendamku."
"Aku harus meringkuk di penjara dalam waktu yang tidak sebentar. Aku juga harus kehilangan istriku. Kalian harus membayar semuanya!!!"
__ADS_1
"Hey, dengarkan baik-baik. Ayahku mendapatkan tanah itu dari Herverman secara cuma-cuma, sebagai kompensasi masa pensiun. Dia tidak merampas tanahmu. Justru kau mendapatkan tanah itu dari hasil korupsi di Herverman. Aku dan ayahku sudah membesarkan tanah perkebunan itu, dan kami tidak akan menyerahkannya begitu saja."
"Selama ini ayahku dan aku yang telah mengelola tanah perkebunan itu hingga berkembang pesat. Puluhan orang telah menggantungkan nasibnya dengan bekerja di perkebunan itu. Coba kau ingat lagi, ketika kau masih memegang tanah itu, apa kau berhasil mengembangkannya??? tidak sama sekali!!! tanah perkebunan itu hanya berupa lahan kosong yang tak terurus!"
"Belajarlah untuk menerima kenyataan, Johans. Tidak semua yang kau inginkan bisa menjadi milikmu. Jalanilah sisa hidupmu dengan baik."
"Aku tidak butuh nasehat murahanmu!" Johans Alois makin naik pitam.
Door....Door...Door... Tiga kali tembakan diarahkan ke udara. Nyonya Helena dan Alida makin keras berdoa. Johans Alois tertawa keras. Melihat keluarga Van Kemmers yang masih dirundung ketakutan membuatnya sangat terhibur. Dari ke delapan orang itu, hanya Adrianus Van Kemmers yang masih terlihat tenang.
"Kumohon, Adrian. Ikuti saja apa maunya! Aku takut, dia akan menghabisi kita semua," pinta Nyonya Helena."
"Bagaimana jika aku memberimu penawaran. Kau ikut membantuku di perkebunan, dan aku akan memberimu keuntungan sekian persen. Tapi dengan syarat, kau jangan pernah lagi mengusik-usik tanah perkebunan itu," ujar Adrian Van Kemmers.
Dia merasa harga dirinya direndahkan. Walau bagaimana pun, gengsi dan rasa congkaknya sebagai mantan pejabat Herverman masih saja melekat dalam dirinya. Dan dia tidak terima, jika ada orang berani menyuruh-nyuruh atau merendahkannya, apalagi seorang Adrianus Van Kemmers yang di matanya adalah seorang perampas.
Terbayang lagi dalam benaknya, ketika dia harus menjalani hari-harinya di dalam rumah tahanan. Ketika dia harus kehilangan semuanya. Aset-asetnya dan juga Marianne. Amarah dan dendam semakin berkobar di lubuk hatinya. Dengan tangan terangkat, pelatuk pistol diarahkannya ke dada kiri Adrianus Van Kemmers. Door.... Adrianus roboh seketika.
Menyadari dia telah menembak Adrianus Van Kemmers, kepanikan seketika melanda. Jerit tangis dan teriakan dari anggota keluarga Van Kemmers lainnya menggema di udara. Apa yang harus kulakukan sekarang? Adrianus Van Kemmers telah berhasil kulenyapkan di depan anggota keluarganya.
Jika mereka semua kulepaskan, mereka pasti akan melaporkanku ke polisi dan aku pasti akan ditahan lagi. Tidak. Aku tidak mau masuk penjara lagi...
__ADS_1
Menatap satu persatu wajah keluarga Van Kemmers membuat Johans semain panik dan cemas. Tidak ada cara lain...
"Maafkan aku.....", dengan sigap pelatuk pistol kembali diarahkan pada satu per satu anggota keluarga Van Kemmers. Pertama pada Frederick yang merupakan adik ipar dari Adrianus Van Kemmers, lalu Alida, istri Frederick. Keduanya roboh.
"Mami.....Mami..... Papi...." pekik bocah laki-laki dan perempuan sambil menangis.
"Kumohon, jangan bunuh kami. Nyawa kami sangat berharga," pinta Helena Van Kemmers sambil terisak.
Johans Alois seperti kehilangan kesadaran. Tiga nyawa telah dia lenyapkan. Haruskah dia menghabisi ke lima orang ini? dan dua bocah kecil itu haruskah mereka dilenyapkan juga? Jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak tega menghabisi nyawa anak-anak.
Tapi bukankah lebih kasihan lagi jika anak anak tersebut hidup tanpa orangtua mereka? orangtua mereka telah kuhabisi......
Johans Alois menarik nafas panjang. Wajah-wajah ketakutan dari anggota keluarga Van Kemmers semakin membuatnya tersiksa. Dan lagi bayangan tentang kehidupan di penjara semakin jelas terbayang. Aku tidak mau masuk penjara lagi....Aku tidak mau masuk penjara lagi....
Teriakan, tangisan dan permohonan mereka agar tidak ditembak mati semakin tidak dipedulikan olehnya. Sambil menutup mata, rentetan peluru melontar satu per satu dari pelatuk pistol yang ditarik dengan penuh semangat.
Door.....Door.....Door.....Door....Door....Suara letusan semakin menggema, pecah di tengah keheningan malam. Satu persatu mereka roboh. Malam semakin gelap. Gemericik air di Kali Pesanggrahan, bunyi suara jangkrik dan binatang malam yang bersahutan, menjadi saksi telah terjadi perampasan nyawa malam itu. Johans Alois telah menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa.
Bersambung.
Author ucapkan terima kasih untuk para Readers yang sudah mengikuti cerita ini. Mohon like dan votenya ya sayang-sayangku....
__ADS_1
Keterangan:
Kali Pesanggrahan adalah sungai yang mengalir dari Kabupaten Bogor melintasi Kota Depok, Jakarta Selatam hingga akhirnya ke Tanggerang, Banten. Sungai ini berhulu di wilayah Kecamatan Tanah Sareal ,dan melewati Kecamatan Bojonggede Kecamatan Sawangan Kecamatan Limo Kecamatan Kebayoran Lama Kecamatan Pesanggrahan Kecamatan Kembangan, Kecamatan Kebon Jeruk hingga akhirnya ke Cengkareng. Berdasarkan data tahun 2005, 55 persen Sub-DAS (Daerah Aliran Sungai) Kali Pesanggrahan telah ditempati oleh perumahan, hanya 7 persen yang masih berupa hutan, 20 persen persawahan dan 13 persen ladang.