NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Menghibur Noura


__ADS_3

"Kau sedang apa?" Noura muncul di kamarku. Aroma semerbak golden rose aneka rupa mulai memenuhi seluruh kamar. Dia duduk dengan manisnya di tepi ranjang.


Aku yang sedang fokus di depan laptop tidak sampai tidak menyadari kehadirannya. Aku tidak sempat menjawab pertanyaannya, hanya membalas dengan senyuman. Malam ini aku sedang mengecek kembali perangkat pembelajaran yang diberikan Bu July. Perangkat pembelajaran seni musik milik pengajar sebelumnya.


Di salah satu silabus aku melihat ada muatan materi tentang musik klasik. Ingatanku sejenak kembali pada Friska. Friska sangat menggemari musik klasik. Dulu dia sering menunjukkan kepiawaiannya memainkan Ode To Joy karya Bethoven dengan biola kesayangannya. Aah bagaimana kabar Friska? sudah punya anakkah dia atau belum? bahagiakah dia dengan kehidupan pernikahannya?


Ingatan tentang Friska, musik klasik dan juga biola membuatku tertantang ingin mempelajari lagi tentang musik klasik. Terlebih SMA 17 sempat beberapa kali menjuarai pergelaran musik klasik di bawah binaan almarhum Pak Arthur.


Aku sendiri kurang mahir memainkan biola, meski aku bisa. Aku lebih suka memainkan piano dan gitar. Tapi kali ini, di SMA 17, aku akan coba memainkan lagi alat musik biola sekaligus mempelajari kembali tentang musik klasik. Aku ingin menghidupkan kembali sentuhan musik klasik di sekolah itu.


Musik klasik memang terkesan lebih berkelas dan elegan. Tidak mudah memainkan musik klasik. Dibutuhkan keahlian dan teknik khusus untuk bisa memainkannya dengan baik. Banyak yang menganggap bahwa penikmat musik klasik adalah mereka yang berasal dari kalangan tertentu yang lebih memiliki standar cita rasa tinggi dalam bidang musik.


"Hey, kenapa kau tidak menjawabku?" sentuhan dingin tangan Noura menyentuh pundakku.


"Kau hanya tersenyum dan tidak menjawabku, Bayu. Apa aku menganggumu?"


"Ooh, natuurlijk niet, Noura. Aku hanya sedang fokus pada pekerjaanku. Maafkan aku."

__ADS_1


"Itu benda apa?"tanyanya.


"ini laptop. Komputer jinjing," jawabku.


"Komputer?" tanyanya keheranan.


"Semacam mesik ketik. Kau tahu mesin ketik?"


"Ya, aku tahu. Papaku pernah punya."


"Ini lebih canggih dan lebih mudah digunakan daripada mesin tik. Bahkan bisa dihubungkan dengan internet. Kita bisa melakukan aktivitas pekerjaan dengan lebih mudah dengan alat ini. Selain dengan smartphone, kita juga bisa dengan mudah mengakses informasi dan korespondensi dengan berbagai orang di berbagai belahan dunia dengan teknologi internet lewat media ini."


"Kau tadi mengatakan dengan alat ini, kita bisa mencari tahu berhubungan dengan orang lain di berbagai belahan dunia, termasuk dunia lain?" Noura bertanya dengan polosnya.


Hahahahahahahah... Aku semakin tidak kuat menahan tawa.


"Tentu saja tidak, Sayang. Buktinya tanpa teknologi aku bisa berinteraksi denganmu. Dan tidak semua orang bisa berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata seperti kamu."

__ADS_1


"Aku hanya ingin mencari tahu tentang keluargaku. Aku sering membayangkan suatu hari nanti bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka. Mama, Papa, Sofia, Benjamin, Om dan Tanteku, juga Marie, George dan juga Sudarman," dengan pandangan sendu, Noura memandang ke langit-langit kamarku.


"Terlalu singkat kebersamaanku dengan mereka. Hanya dengan kejadian keji di malam itu, aku terpisah dengan mereka selama-selamanya. Aku sangat merindukan mereka, Bayu. Jujur saja, kadang aku iri melihat kebersamaanmu dengan keluargamu," Noura menahan isaknya.


Aku tidak tega melihatnya. Aku bisa membayangkan betapa sedihnya Noura. Dia terpisah dengan keluarganya akibat peristiwa tragis. Seandainya aku bisa membantunya menemukan kembali keluarganya. Bertahun-tahun Noura hidup dalam kesedihan, kesepian dan juga rasa penasaran akan keluarganya.


Takdir hidup kadang berjalan tidak seperti yang kita bayangkan. Kita tidak pernah bisa menebak akan terjadi apa dan bagaimana dalam hidup ini. Beginilah kehidupan dunia....


"Jangan sedih. Ada aku di sini. Aku akan selalu bersama kamu. Aku bisa merasakan kesedihanmu. Semua sudah menjadi takdir. Kita tidak bisa menolak takdir. Belajarlah untuk menerima takdir dengan ikhlas. Aku yakin, ada hikmah dalam setiap takdir kehidupan."


Noura semakin terisak. Aku semakin tidak tega. Aku sendiri tidak tahu akan bagaimana jika aku ada di posisi Noura. Kuraih bahunya dan membawanya dalam pelukanku. Mencoba menenangkannya.


"Malam ini aku akan menghiburmu," bergegas kukeluarkan piano kecil dari dalam lemari. Piano yang kudapatkan waktu aku menjuarai lomba aransemen lagu saat kuliah dulu.


Kumainkan lantunan musik The Beauty of Life dari Aakash Gandhi, seorang pianist dan komposer berdarah India yang sedang naik daun dengan karya-karyanya. Kumainkan beberapa karya dari Aakash Gandhi lainnya dengan penuh perasaan. Noura tersenyum dan nampak berkaca-kaca dengan lantunan musik yang kumainkan.


"Kau hebat sekali, Bayu. Ini luar biasa. Terima kasih sudah menghiburku malam ini."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2