NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Melapor lagi


__ADS_3

"Nona, tenang saja. Saya sudah ke kantor inspektor polisi dan melaporkan kejadian penculikan keluarga Nona kepada polisi. Polisi akan segera melakukan penangkapan."


"Kemana Johans Alois membawa keluargaku, Darman? pikiranku tidak tenang sejak kemarin."


"Insya Allah mereka akan baik-baik saja, Nona. Lebih baik Nona banyak berdoa kepada Tuhan. Oh ya, apa Nona sudah makan? saya membawa ini untuk Nona." Sudarman mengeluarkan bungkusan dari daun pisang yang disimpan di dalam tas kecil yang selalu dibawanya.


"Makanlah, Nona!" perintah Johans.


Noura meraih bungkusan itu dan membukanya. Aroma gurih mulai tercium. Membangkitkan gerakan cacing-cacing dalam perut Noura. Dia memang sudah sangat lapar.


"Wah, ini nasi uduk. Aku suka, Darman. Nimah pernah membuat makanan ini untuk keluargaku. Tapi rasanya sudah dingin. Nasi uduk akan terasa nikmat jika disantap saat hangat."


"Apa rasanya masih enak, Nona? saya membelinya tadi ketika sehabis mendatangi kantor polisi. Oh ya, saya juga tadi melewati depan rumah Nona. Saya mengawasi dari luar pagar, dan terkejutlah saya. Johans Alois ada di dalam rumah Nona."


"Apa?" Mata Noura terbelalak. Rasa takut dan Khawatir kembali menyergap.


"Mau apa dia? apa yang dia lakukan di dalam rumahku. Dan kemana dia membawa keluargaku?"

__ADS_1


"Sepertinya dia masih mencari surat tanah perkebunan itu, Nona. Ketika saya mengawasi dari luar, dia sedang berada di ruang kerja Tuan Adrian. Tirai yang tersibak dari dalam ruangan itu memudahkan saya untuk melihat secara jelas," tutur Sudarman.


"Ya, Tuhan. Lalu kemana dia membawa keluargaku, Darman?" tanya Noura lagi. Noura mulai menangis histeris. Berbagai pikiran buruk mulai bermunculan di kepalanya.


"Polisi berkata tadi kalau kita tidak boleh gegabah. Besok saya akan ke kantor polisi lagi, untuk melaporkan apa yang saya lihat tadi. Semoga polisi segera bertindak cepat untuk menangkap mereka. Mereka tidak akan bisa berkutik dan pasti akan menunjukkan keberadaaan keluarga Nona."


"Terima kasih, Sudarman." Noura kembali menatap wajah pria di hadapannya itu dengan tatapan yang penuh arti. Membuat Sudarman salah tingkah dan lagi-lagi mengalihkan pandangan.


Langit masih saja bergelayut mendung. Gerimis rintik-rintik mulai berganti dengan curah hujan. Lama- lama makin deras. Beberapa tetesan air hujan mulai merembes hingga ke atap gubuk. Noura mulai menggigil kedinginan. Diraihnya kain sarung milik Sudarman yang semalam dipakainya sebagai selimut dan dibentangkannya ke bahunya.


"Tidak apa-apa. Terima kasih kau sudah menyelamatkanku!" Noura menggigit bibirnya. Sudarman semakin tidak enak melihat kondisi Noura yang nampak begitu kedinginan. Gadis Belanda itu tidak membawa pakaian ganti. Pakaiannya sudah agak basah terkena tetesan air hujan.


"Saya masak air dulu, Nona." Sudarman bergegas menuju belakang gubuk dan menyiapkan ketel.


Noura merasakan kepalanya mulai pusing. Tubuhnya terasa limbung. Kenapa rasa tidak enak badan ini muncul di saat-saat darurat seperti ini? tanya Noura dalam hati.


...****************...

__ADS_1


"Nona hati-hati ya! saya berangkat dulu! singkong dan talas rebusnya dimakan ya! hanya itu yang bisa saya sediakan." Lagi-lagi Sudarman mengucapkan kalimat itu yang menggambarkan dirinya sangat- sangat tidak enak karena hanya mampu menyediakan makanan ala kadarnya pada Noura.


Noura mengangguk lemah. Demam mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Pandangannya mulai berkunang-kunang.


"Nona terlihat pucat? apa Nona sakit?" tanya Sudarman.


"Aku hanya kedinginan saja. Tidak apa-apa koq. Kau pergilah sekarang! jangan lupa belikan aku obat demam nanti!"


"Baik, Nona." Sudarman pun pamit dan bergegas pergi. Tujuannya adalah kantor inspektor polisi yang berada di pusat kota. Udara dingin dan gerimis lagi-lagi tidak menyurutkan langkahnya.


Sudarman menceritakan apa yang dilihatnya kemarin di rumah keluarga Van Kemmers kepada inspektor polisi. Tentang keberadaan Johans Alois di dalam rumah keluarga Van Kemmers yang nampaknya sedang mencari sesuatu. Polisi pun menyusun rencana. Tindakan penyergapan sekaligus penangkapan terhadap Johans Alois dan para Centeng akan segera dilakukan segera. Sudarman puas mendengar penjelasan inspektor polisi. Polisi Belanda itu nampaknya sudah sangat berpengalaman. Berkali-kali dia mengatakan kepada Sudarman untuk jangan bertindak gegabah.


Urusan laporan ke kantor polisi pun selesai. Dengan harapan penuh, Sudarman yakin kasus penculikan keluarga Van Kemmers pasti akan segera terungkap. Johans Alois dan komplotannya pasti akan segera ditangkap.


Dia pun berjalan santai menuju toko obat yang ada di jalan Kamboja. Satu-satunya toko obat terkenal di wilayah Depok saat itu. Dia harus membelikan obat demam untuk Noura. Tak lupa dia akan mampir ke toko roti yang ada di seberang jalan Kamboja. Sudarman menghitung sisa uangnya. Sepertinya masih cukup untuk membeli beberapa potong roti. Kasihan Nona Noura, dari kemarin dia hanya makan seadanya....Gumam Sudarman dalam hati.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2