NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Club Sosialita


__ADS_3

Cuaca Batavia akhir-akhir ini sedang tidak menentu. Jika siang hari, matahari terasa begitu terik. Suhu udara meningkat, memacu peluh untuk keluar lebih cepat. Dan jika malam hari sebaliknya, cuaca terasa begitu dingin dan lembab.


Banyak warga Belanda yang mengurangi aktivitas saat di siang hari untuk menghindari terik matahari dan menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat-tempat hiburan dan perjamuan saat malam hari.


Menikmati bir dan Rijstafel yang terhidang di club-club perkumpulan sambil bersenda gurau menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi warga Belanda saat itu. Terlebih bagi mereka yang tergabung dalam klub-klub sosialita.


Saat itu keberadaan kelompok sosialita di kalangan warga Belanda merupakan suatu prestise sekaligus ajang untuk mempererat silaturahmi. Ada beberapa klub sosialita yang cukup tersohor pada masa itu. Beberapa di antaranya adalah Sociteit de Harmonie, yang terletak di Jalan Veteran, Jakarta Pusat. Sebagai klub ekslusif, Sociteit de Harmonie hanya bisa dimasuki oleh orang-orang kulit putih saja. Kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan pengusaha dan pejabat.


Selain Sociteit de Harmonie yang beranggotakan para pengusaha dan pejabat, ada lagi Sociteit de Concordia yang merupakan klub sosialita khusus bagi anggota militer. Nama club Sociteit de Concordia pernah gempar dan menghebohkan media massa pada tahun 1912 terkait dengan kasus pembunuhan Fientje de Fenicks, seorang pramuria berdarah indo di Batavia yang dilakukan oleh salah seorang anggota klub.


Keberadaan kedua klub tersebut sangat terkenal di kalangan warga Belanda. Dan menjadi bagian dari kedua klub itu adalah suatu keharusan bagi kaum berduit. Bergabung dalam keanggotaan klub-klub tersebut dianggap sebagai simbol kemegahan yang dapat memperkuat status mereka sebagai kaum kelas atas. Mereka tidak akan disebut kaya dan mentereng, jika belum menjadi anggota klub-klub tersebut.


Dan malam itu, gedung Sociteit de Harmonie di Waltervreden sangat ramai dipadati pengunjung.

__ADS_1


Meski bukan akhir minggu dan tidak ada acara spesial yang ditampilkan, para pengunjung nampak begitu antusias. Nampak beberapa pasangan muda-mudi sedang duduk menikmati alunan musik, ada lagi beberapa pasangan keluarga lengkap dengan anak dan cucu mereka saling bercengkrama dan sesekali berdansa.


Johans Alois memilih duduk di pojok selasar yang berhadapan dengan pintu masuk. Pandangan matanya menyorot satu persatu setiap orang yang keluar masuk gedung, mencari sosok yang sangat dia kenal. Sosok yang pernah memiliki pengaruh cukup kuat di Herverman yang juga akan menjadi bagian dari targetnya.


Dia sudah bertekad untuk menemui orang itu dan tidak ada alasan bagi orang itu untuk menolak kedatangannya. Beberapa tahun yang lalu, dirinya secara tidak langsung telah menjadi tameng bagi orang itu untuk lolos dari proses hukum. Dan karena orang itu begitu licin dan pandai, hingga kini kasus kejahatannya tidak pernah terungkap.


Orang itu adalah Tuan Heintje Van der Boon, seorang pimpinan di Herverman yang mengurusi bagian keuangan. Selain sebagai pimpinan, dia juga berperan sebagai pemegang saham di beberapa perusahaan peninggalan milik VOC. Konon modal-modal yang dimilikinya untuk saham-saham tersebut adalah hasil dari penggelapan dana di Herverman. Sepak terjangnya dalam mengambil keuntungan perusahaan bisa dikatakan sangat rapih dan cerdik. Jauh lebih rapih dibandingkan Johans Alois. Terbukti dari hasil penyelidikan, segala tindakan penggelapan dana yang dilakukannya tidak berhasil terendus oleh pimpinan Herverman pusat.


Bisa dikatakan kedua orang itu sama-sama pelaku korupsi, hanya saja berbeda dalam melakukan aksi. kelicikan Johans Alois mudah terlihat dan gampang dicurigai, sedangkan Hentje Van der Boon cenderung rapih dan tersembunyi.


Dana Sekian gulden dari Herverman pusat yang ditujukan untuk bantuan operasional perusahaan sebagian telah dialihkannya dalam bentuk aset-aset pribadi yang berkedok yayasan sosial.


Dan semua pihak nyaris tidak ada yang curiga, Kecuali hanya Johans Alois. Heintje memang pandai sekali memikat petinggi Herverman pusat untuk percaya penuh padanya dalam mengelola keuangan Herverman. Bahkan Tuan Dekker Berrend selaku perwakilan dari Herverman di Batavia sangat menaruh hormat padanya.

__ADS_1


Johans Alois nyaris menghabiskan bir nya ketika pandangan matanya tertuju pada pria paruh baya yang berjalan pelan memasuki lobby gedung. Pria paruh baya itu nampak begitu percaya diri. Dia berjalan sambil melempar senyum dan melambaikan tangan kepada para anggota club yang menyapanya.


Johans Alois mengangkat dagunya. Tidak sia-sia dia datang ke klub dan menunggu lama. Heintje van der Boon kini telah muncul.


Bersambung.


Maaf untuk keterlambatan update, karena Author membutuhkan riset tentang situasi dan sejarah wilayah yang menjadi latar belakang cerita ini.


Keterangan :


Weltervreden dalam bahasa Belanda berarti suasana yang tenang dan puas. Dulu merupakan daerah tempat tinggal utama orang-orang Eropa. Letaknya di pinggiran Batavia, Hindia Belanda, tepatnya di sekitar Sawah Besar, Jakarta Pusat mulai dari RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah Mada.


Sumber : Wikipedia Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2