NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Dimensi mimpi


__ADS_3

Mataku memang sangat berat. Aku tidak ingat apa-apa sehabis mengobrol sebentar dengan Noura. Yang kurasakan hanyalah sentuhan dinginnya di telapak kakiku. Hujan deras turun lagi malam ini. Gemericiknya yang terdengar satu persatu menambah pulas tidurku. Tidur yang begitu damai dan tenang. Meski selama ini aku termasuk tipe orang yang sangat gampang tidur. Dan baru kali ini aku merasakan tidur yang betul-betul nikmat. Tubuhku begitu rileks seolah-olah seperti terbang.


Dan di malam ini aku bermimpi. Mimpi yang sangat indah dan membuatku betul betul meresapi. Seolah nyata. Di dalam mimpi aku berada dalam dimensi kehidupan tempo dulu. Aku berjalan dan dibuat tercengang dengan penampakan yang kulihat di depan mata.


Bangunan-bangunan, jalan, pepohonan, kendaraan yang berlalu lalang, pasar, hingga orang-orang yang berseliweran. Aku berjalan dengan takjub. Pemandangan di tempat itu begitu indah. Terasa nyaman dan tenang. Tidak ada rasa takut yang kurasakan. Aku semakin dibuat terpukau dengan penampakan yang kulihat. Beberapa orang tersenyum ramah kepadaku. Aku mengikuti tangan Noura yang menggandengku dengan mesra. Kami menyusuri sepanjang jalan yang ditempati beberapa pedagang kaki lima. Ada pedagang buah, pedagang sayur, minuman dan juga makanan. Mataku tertuju pada sebuah papan reklame besar bertuliskan tahun 1930.


Apa??? ini tahun 1930? aku berada di tahun 1930.


Noura terus menggandengku sambil terus menebar senyum dan lambaian tangan pada beberapa orang yang melihat ke arah kami berdua. Di depan sebuah gedung megah, kami berhenti, sebelum Noura mengajakku untuk masuk ke dalamnya. Bangunan gedung itu sangat artistik. Seperti gedung pertemuan tempo dulu yang hanya bisa dimasuki orang-orang kelas atas. Iringan musik klasik terdengar begitu indah.



Dari dalam gedung, terlihat pemandangan sepanjang jalan yang nampak bersih dan lengang. Hanya satu dua kendaraan yang lewat. Pohon-pohon besar menjulang dengan gagahnya. Aku terus menatap pemandangan di luar dengan begitu takjub. Beginikah susasana tahun 1930 an?

__ADS_1



Aku benar-benar dibuat takjub. Mimpi yang begitu nyata. Noura telah mengajakku memasuki dimensi waktu tempo dulu meskipun lewat mimpi. Aku menggeliat, meregangkan bahu dan leherku saat teriakan khas Mama terdengar samar-samar. Kesibukan di dapur, aroma bau masakan yang tercium sampai ke kamar memaksaku untuk segera membuka mata.


Kuedarkan pandanganku mencari sosok Noura. Kemana dia? tak tercium aroma golden rose seperti biasanya. Aku bergegas keluar dan menuju kamar mandi.


...****************...


"Hey, kamu di mana tadi?" kusapa Noura yang sedang duduk termangu di taman belakang. Seperti biasa, dia selalu nampak cantik dan mempesona.


"Dan tadi dia seperti menaburkan serbuk di sekitar dinding luar kamarmu. Seketika aku merasa sesak dan memutuskan untuk duduk di sini."


"Mau apalagi sih pembantu aneh itu! aku belum juga bisa meyakinkan Mama tentang keanehan-keanehan Mbak Siti. Ingin sekali aku menjebaknya, memergoki dia ketika sedang menjalankan ritual anehnya dan langsung memotret dia sebagai bukti untuk dijelaskan pada Mama. Tapi sayangnya, dia terlalu licin. Sulit sekali untuk melakukan hal itu, ditambah lagi aku sibuk sekali. Saat di rumah nyaris tak ada waktu untuk mengawasi dia seharian ditambah lagi dia juga sibuk sekali di dapur membantu Mama."

__ADS_1


"Kau sibuk apa pagi ini?" tanya Noura.


"Ada beberapa proposal kegiatan OSIS yang harus aku rapihkan."


"Kukira kau akan pergi keluar lagi?" tanyanya sambil merajuk manja. Ya Tuhan, dia begitu cantik sekali pagi ini. Seandainya dia bukan hantu, pasti aku sudah mengenalkannya pada Mama dan Ayah.


"Ada yang mau aku ceritakan. Kau masih ingat tentang kenalanku yang bisa bermain biola yang bernama Jordan Winhern? dia mengundangku untuk ke rumahnya. Ini kesempatan baik untuk mencari tahu tentang jejak keluarga Winhern. Barangkali dari situ kita bisa mendapatkan informasi tentang keluargamu. Yah, meskipun kemungkinan itu sangat kecil sekali .. Tapi aku yakin Jordan Winhern itu pasti masih ada hubungannya dengan Frans Winhern, tetanggamu dulu."


Noura menyimak kata-kataku dengan begitu serius.


"Benarkah??? kapan kau akan ke rumahnya? aku ikut ya!" pinta Noura sambil menyibakkan anak rambutnya yang tertiup angin pagi.


" Minggu depan. Tentu saja aku akan mengajakmu. Segala catatan dan bukti dokumentasi tentang jejak leluhur keluarganya masih tersimpan dengan sangat rapih oleh papanya yang juga seorang jurnalis. Semoga ada informasi yang kita dapatkan tentang keluargamu."

__ADS_1


Noura mengangguk sambil tersenyum. Langit pagi begitu cerahnya, sinar matahari nampak malu-malu membias ke arah tempat dudukku dan Noura. Aah, duduk berdua dengannya di pagi seperti ini seolah membawaku pada romansa. Seketika aku teringat lagi pada mimpiku semalam.. Seandainya dia dan aku berada dalam dimensi yang sama?


Bersambung.


__ADS_2