
"Selamat bergabung, Pak Bayu! semoga betah mengajar di sekolah ini. Semoga bisa tercipta kerja sama yang baik dan semoga berkah berkarya bersama kami," dengan ramah Bu Juli menjabat tanganku.
Yeay, hari ini aku resmi diterima sebagai guru musik di SMA Negeri 17. Dan aku bisa mulai mengajar di semester genap nanti. Aku mengajar 30 jam selama seminggu. Jadwalku lumayan padat. Full lima hari kerja dari pagi sampai jam setengah tiga siang.
Tidak bisa kupungkiri aku sangat senang dan bersyukur bisa diterima bekerja di sekolah ini. Lingkungannya masih rimbun dan asri. Bangunan cukup megah dengan lapangan olahraga dan beberapa fasilitas belajar lainnya yang menunjang. Insya Allah aku akan betah dan memberikan loyalitasku sebaik mungkin. Soal salarry, insya Allah cukup. Bu Juli tadi sudah memberikan penjelasan tentang honor dan uang transport yang akan kuterima setiap bulannya.
Benar kata Mama, setidaknya ilmu yang kudapat di bangku kuliah bisa kuterapkan. Aku juga jadi punya pengalaman seru dan bisa menambah teman baru.
"Ini ruang guru. Silahkan Bapak menempati kursi dan meja yang kosong di pojok sana. Oh iya, kami sangat berharap Pak Bayu bisa menghidupkan kembali kegiatan seni musik yang sempat vakum selama kurang lebih setahun ini," ujar Bu Juli lagi.
__ADS_1
"Insya Allah, Bu. Saya akan berusaha semampu saya, sebaik mungkin," jawabku.
Pandanganku tertuju pada lemari kaca yang berada dipojok ruang guru yang berisikan beberapa piala. Ada beberapa piala kejuaraan lomba seni musik. Piala yang menjadi bukti kepiawaian guru musik sebelumnya dalam membina siswa di berbagai kompetisi bidang musik. Mulai dari lomba arransemen lagu, kompetensi musik klasik, musik daerah, kejuaraan pop singer hingga kejuaraan band pelajar tingkat nasional.
"Ini semua hasil kerja keras Pak Arthur. Beliau sangat hebat dalam membina bakat-bakat siswa di bidang musik," sebuah suara mengejutkanku. Rupanya dari tadi aku tidak sendiri. Seorang wanita paruh baya mendekatiku dan menjelaskan padaku tentang piala-piala itu.
"Kenalkan, saya Bu Nova. Anda guru baru di sini?" tanya wanita itu sambil tersenyum ramah.
Dan wanita itu menjelaskan tentang Pak Arthur. Pak Arthur yang juga masih keponakannya adalah guru musik di sekolah ini sekitar lima tahun yang lalu. Kemudian Pak Arthur mengundurkan diri karena mendapat beasiswa melanjutkan studi ke Italia. Sayangnya, saat memasuki tahun kedua, Pak Arthur sakit-sakitan di sana hingga akhirnya meninggal dunia. Dengan mata berkaca-kaca, Bu Nova menceritakan kepadaku.
__ADS_1
"Dia masih sangat muda. Mungkin seusia dengan Pak Bayu. Dia sangat berbakat dan selalu penuh semangat. Dia sangat senang sekali, ketika berhasil mendapatkan beasiswa Master of Musik di Italia. Itu adalah impiannya sejak lama. Sayang, impiannya belum sempat dia raih sepenuhnya. Tuhan lebih sayang pada dia. Sampai saat ini saya masih tidak percaya dia pergi begitu cepat...Dokter yang memeriksanya mengatakan dia terkena Meningitis. Akhirnya jenazahnya di bawa pulang ke Indonesia dan dikuburkan di Jakarta, bersebelahan dengan makam ayahnya," ujar Bu Nova sambil mengusap sudut matanya yang basah.
"Selepas Arthur mengundurkan diri, pelajaran musik diisi oleh Bu Nandya, sayangnya hanya bertahan setahun. Bu Nandya mengundurkan diri karena harus mengikuti suaminya tugas ke Belanda."
"Lalu datanglah Pak Reza, mengajar kurang lebih setahun setengah di sini. Tapi dia pun akhirnya mengundurkan diri karena keterima bekerja di instansi pemerintah. Sejak kepergian Arthur dan pergantian guru baru, kegiatan lomba musik di sekolah ini seperti mati suri. Kehilangan semangat."
"Semoga Pak Bayu betah dan bisa berkarya dengan baik di sekolah ini, meneruskan cita-cita Arthur, keponakan saya. Feeling saya mengatakan, Pak Bayu juga bertalenta seperti Arthur," wanita paruh baya itu memujiku.
Well, sepertinya tantangan yang akan kujalani di sekolah ini lumayan besar. Jujur saja, aku nervous, terlebih melihat pencapaian prestasi yang sudah diraih Pak Arthur sebelumya.
__ADS_1
Bersambung.