NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Masih mengintai


__ADS_3

Noura bangkit menuju luar gubuk. Di luar langit nampak gelap. Hembusan angin pagi yang kuat berganti dengan gemericik gerimis. Sudarman nampak bersiap-siap.


"Hati-hati Darman!" ucap Noura. Ditatapnya Sudarman penuh sukacita. Bagaikan taman bunga yang penuh dengan bunga-bunga bermekaran, Pesona Sudarman pagi itu begitu menggetarkan hatinya.


"Iya, Nona. Nona juga hati-hati. Jangan sampai mereka menemukan Nona. Saya akan cepat kembali..." jawab Sudarman. Seketika pandangan mata mereka saling bertemu. Betapa gagahnya Sudarman pagi itu, dan betapa inginnya Noura menjatuhkan dirinya ke pelukan laki-laki itu. Laki-laki yang telah mengabdikan hidupnya pada keluarganya dan selalu berusaha melindunginya.


"Darman....!" panggil Noura.


"Ya, Nona..."


"Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana lagi untuk berterima kasih padamu. Kau selalu membantu keluargaku."


"Sudah kewajiban saya untuk menjaga dan melindungi keluarga, Nona. Saya berhutang banyak kebaikan pada keluarga Nona," Sudarman mengalihkan pandangannya secepat kilat. Hatinya bergetar hebat saat menatap Noura pagi itu. Hatinya tidak bisa berdusta. Kecantikan Noura Van Kemmers telah mengusik perasaannya.


...****************...

__ADS_1


Sudarman mempercepat langkahnya. Di tengah udara dingin dan gerimis pagi, dia terus berjalan. Dengan mantap, dia memasuki kantor kepolisian. Kepada seorang inspektur polisi berdarah Belanda, dia menceritakan semuanya, mulai dari aksi teror yang dilakukan Johans Alois terhadap majikannya hingga penculikan terhadap keluarga Van Kemmers. Sudarman memohon agar, inspektur polisi segera bertindak cepat.


Inspektor polisi itu terkejut dan akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kasus yang menimpa seorang warga kulit putih (seorang Belanda Totok) tidak boleh dianggap remeh. Pada saat itu, kedudukan hukum memang lebih berpihak pada warga Belanda yang dianggap warga negara kelas satu.


Usai dari kantor polisi, Sudarman berencana untuk singgah sebentar ke rumah keluarga Van Kemmers. Tapi diurungkan niatnya. Dia hanya memandang dan mengamati saja dari luar gerbang.


Dari luar, rumah itu nampak sepi. Tapi suara makian, dan gebrakan terdengar jelas dari arah samping rumah. Dari tirai yang tersibak, Sudarman melihat jelas, Johans Alois melemparkan setumpuk berkas berisikan kertas-kertas ke lantai.


Jantungnya berdegub kencang. Rupanya, Johans Alois masih mengintai. Lalu di manakah Nimah dan Sadeli? apa yang dilakukan Johans Alois di rumah itu? pasti dia sedang mencari surat tanah perkebunan itu.


Ingin rasanya dia masuk ke dalam rumah. Tapi itu tidak mungkin. Johans Alois terlalu berbahaya untuk dihadapi sendirian. Dia pasti membawa senjata, dan sudah pasti didampingi dengan para jawara kampung yang menjadi Centeng-centengnya.


Sodikin tidak bertindak. Dia hanya mengawasi. Kekhawatiran segera menyergap. Situasi tidak aman. Dia tahu kalau Sudarman adalah pekerja sekaligus pengawal pribadi Tuan Adrianus Van Kemmers. Ketika sedang mengawal Tuan Johans Alois ke perkebunan karet di Tjibinung, beberapa kali dia pernah melihat pemuda pribumi itu yang selalu mendampingi majikannya. Bahkan ketika Sang Majikan bersitegang dengan Johans Alois, pemuda pribumi ini bersiap pasang badan.


Ini bahaya, gumamnya. Pemuda pribumi itu tadi melihat dengan jelas dari kejauhan apa yang dilakukan Johans Alois di ruang kerja majikannya. Dan sebagai seorang asisten, pasti dia curiga. Bagaimana bisa rumah majikannya bisa dimasuki dengan leluasa oleh musuhnya. Dan kemana perginya Sang Majikan? pasti ada sesuatu yang janggal bagi pemuda pribumi itu. Sodikin nampaknya memang bukan sekedar Centeng biasa yang hanya mengandalkan otot. Tapi dia juga memiliki kemampuan menganalisa.

__ADS_1


Tidak bisa dibiarkan. Dia harus segera melaporkan pada Johans Alois tentang hal ini. Pemuda pribumi itu bisa saja langsung segera melaporkan kejanggalan yang dilihatnya pada pihak yang berwajib. Terlebih lagi, dia pasti akan sangat curiga, kenapa tiba-tiba Sang Majikan menghilang secara mendadak. Suatu hal yang sangat tidak biasa. Apa lagi hampir setiap hari dia selalu menemani Sang Majikan kemanapun pergi.


Analisa Sodikin sangat masuk akal. Dia pun bergegas masuk ke dalam rumah dan membicarakan hasil temuannya pada Johans Alois.


"Tuan Johans, kita dalam bahaya," ujar Sodikin dengan tenang nafas tergesa.


"Anak buah sekaligus pengawal pribadi Tuan Adrianus Van Kemmers tadi ada di depan rumah dan dia melihat apa yang Tuan lakukan tadi di sini. Ini bahaya, Tuan. Dia pasti akan curiga, terlebih lagi majikannya sekeluarga menghilang secara mendadak. Dia pasti akan melaporkan pada pihak yang berwajib. Terlebih lagi, dia pernah beberapa kali melihat Tuan bersitegang dengan Tuan Adrianus di perkebunan karet," papar Sodikin.


Johans Alois menengok seketika. Wajahnya mendadak pucat. Ketakutan dan kecemasan seketika menghampiri. Tidak......Tidak. Bagaimana bisa semua itu terjadi. Bagaimana bisa anak buah Adrianus mencurigai hal ini. Tetapi itu sangat masuk akal. Walau bagaimanapun, anak buah Adrianus Van Kemmers pasti akan mencari tahu keberadaan Sang Majikan yang mendadak menghilang dan pasti akan melaporkan ke polisi. Terlebih lagi, dia sudah melihat dari kejauhan apa yang dilakukan Johans Alois di rumah ini. Benar, benar sekali apa yang dikatakan Sodikin.


Lagi-lagi Johans Alois merutuki kebodohannya. Dan sekarang apa yang harus dia lakukan? haruskah dia menyingkirkan anak buah Adrianus Van Kemmers juga? bayangan tentang sel penjara kembali memenuhi pikirannya. Tidak.....Aku tidak mau masuk penjara lagi. Rencana-rencana ini belum terwujud. Aku harus mewujudkan target rencanaku dalam waktu dekat ini, ucap Johans Alois dengan lantang di dalam hati.


"Singkirkan, dia. Tapi jangan dengan kekerasan. Kita buat dia seolah-olah kecelakaan atau bagaimana ya?" tanya Johans pada seorang Centeng.


"Serahkan pada saya, Tuan. Saya akan membereskannya dengan cara saya. Tapi saya minta Tuan memberikan saya bayaran lebih. Apalagi ini bukan pekerjaan gampang," ucap Sodikin. Dengan wajah pongah, Sodikin sepertinya ingin menunjukkan kehebatannya di depan ke empat Centeng lainnya.

__ADS_1


"Kau tidak usah khawatir. Aku pasti akan memberikanmu lebih, asal kau mampu melaksanakan tugasmu dengan baik."


Bersambung.


__ADS_2