NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Ketakutan Mbak Rara


__ADS_3

"Masih sama. Masih mencurigakan. Beberapa hari yang lalu aku memergokinya sedang membakar dupa dan menyan di halaman samping, mulutnya komat kamit seperti sedang menghafal mantra, seperti seorang dukun atau paranormal. Aku ingin mendekatinya, tapi selalu tak bisa. Tubuhku selalu lemas dan kehilangan tenaga setiap kali aku ingin mendekat ke arahnya," papar Noura.


"Jangan-jangan dia memang dukun atau paranormal. Tapi kata Mama, dia itu masih bersaudara dengan asisten rumah tangganya Bu Indah. Mama juga mendapatkan rekomendasi tentang Mbak Siti dari asisten rumah tangganya Bu Indah. Apa yang dia cari di sini? jangan-jangan apa karena rumah ini berhantu?" tanyaku.


Noura terdiam. Raut wajahnya masih datar. Pandangannya terus mengarah ke balik jendela. Ada apa di balik jendela? aku jadi penasaran.


"Maafin saya ya Bu. Saya merasa risih satu kamar sama Mbak Siti. Saya malah jadi ketakutan Bu. Sebenarnya sudah dari seminggu yang lalu saya mau cerita ke Ibu. Mbak Siti benar-benar aneh Bu," terdengar suara Mbak Rara dari arah halaman samping. Posisi kamarku yang berhadapan dengan halaman samping rumah membuatku mendengar dengan jelas suara MbaK Rara.


Rasa kantukku mendadak lenyap. Bergegas aku bangkit dan berdiri di dekat jendela, memasang telinga dengan jelas agar dapat menangkap apa yang dibicarakan Mbak Rara dengan Mama.


"Aneh gimana, Mbak?" tanya Mama.


"Setiap jam dua belas malam ke atas, saat saya tertidur pulas, Mbak Siti seperti sedang menjalankan ritual, Bu. Dia duduk bersila lalu seperti sedang membaca mantra, mulutnya komat-kamit. Wajahnya kelihatan seram Bu."


"Saya yang waktu itu terjaga, akhirnya pura-pura tidur Bu. Padahal saya melihat dengan jelas apa yang Mbak Siti lakukan. Mbak Siti benar-benar aneh, Bu. Saya gak mau sekamar sama Mbak Siti lagi," ujar Mbak Rara.


"Masak sih, Mbak?" tanya Mama.

__ADS_1


"Demi Allah, saya enggak bohong, Bu. Kadang Mbak Siti juga sering membakar kemenyan di halaman depan dan samping. Pernah juga dia menaburi setiap pojok ruangan mulai dari depan kamar tidur sampai dapur dengan garam dan air kembang."


"Bu, saya numpang tidur di rumah Bu Romlah saja ya Bu! jadi pagi, saya akan bekerja di sini dari pagi sampai sore. Malamnya kalau pekerjaan sudah beres saya mau ke rumah Bu Romlah. Insya Allah, Bu Romlah gak akan keberatan. Saya dulu sempat kerja bantu-bantu di warungnya Bu Romlah sebelum kerja di rumah Bu Warsito," ujar Mbak Rara.


"Eeh, enggak bisa begitu, Mbak. Saya yang nantinya malah jadi enggak enak dengan Bu Romlah. Mau taruh di mana muka saya?" nada suara Mama terdengar mulai tinggi.


"Maaf Bu. Habis saya bingung. Saya benar-benar takut, Bu. Atau saya mengundurkan diri saja deh, Bu!" ucap Mbak Rara.


"Waduuh, janganlah Mbak. Orderan sedang jangan-banyaknya. Saya bisa kerepotan nanti. Gini aja, gimana kalau saya bereskan kamar yang di dekat dapur. Itu kan kosong, dan hanya digunakan untuk menaruh perabotan dapur yang menumpuk. Biar nanti saya bereskan, Mbak Rara bisa pindah ke situ," ujar Mama menegaskan.


"Atau bagaimana kalau pindah ke kamar Ratna. Ratna tidur sendiri. Tapi lebih sering minta ditemani saya. Anak bungsu saya itu juga penakut sekali. Saya minta juga, Mbak Rara tidak cerita yang macam-macam ke Ratna, ya Mbak! bisa makin pusing saya."


"Baik bu. Walaupun jujur ya Bu, saya masih takut sekali rasanya. Saya akan katakan dengan Mbak Siti nanti kalau Mbak Ratna minta saya untuk pindah ke kamarnya. Saya yakin Mbak Siti pasti gak akan keberatan. Justru dia mungkin akan lebih leluasa untuk menjalankan ritualnya," ucap Mbak Rara dengan lirih.


Aku semakin tertarik mendengar percakapan mereka. Semoga secepatnya aku bisa membuka kedok Mbak Siti di rumah ini.


"Ritual apa sih, Mbak?" tanya Mama.

__ADS_1


"Ritual perdukunan bu. Saya mah yakin Mbak Siti itu dukun, Bu. Kalau di kamar, dia selalu menjalankan ritual, seperti pemanggilan roh gitu, Bu. Pokoknya kayak di film-film horor lah," cetus Mbak Rara.


"Masak sih, Mbak?"


"Demi Allah. Beneran Bu. Kalau Ibu gak percaya ya terserah Ibu deh. Coba deh nanti Ibu lihat sendiri. Ibu jangan bilang dari saya ya Bu. Mending Ibu buktikan sendiri, deh!" pinta Mbak Rara.


Lalu percakapan mereka berlanjut tentang sikap dan karakter Mbak Siti yang menurut Mbak Rara kurang ramah dan tertutup. Hampir dibilang jarang sekali mengobrol. Lalu Mama menimpali dengan mengatakan Mbak Siti selama ini sangat rajin dan bisa diandalkan. Hasil kerjanya juga bagus. Pembelaan Mama terhadap Mbak Siti sepertinya membuat Mbak Rara gigit jari. Apalagi mengingat statusnya sebagai ART baru.


"Mbak Siti belum pulang ya Bu?" tanya Mbak Rara.


"Belum. Tadi saya suruh dia ke pasar. Terus sekalian saya minta dia untuk antar pesanan juga."


"Jadi gimana Bu, nanti malam saya bisa numpang tidur di kamar Mbak Ratna?" tanya Mbak Rara lagi.


"Nanti saya tanya yang bersangkutan dulu ya!"


Percakapan mereka pun selesai. Ingin rasanya aku segera keluar dan menemui Mbak Rara. Tapi sepertinya momennya kurang tepat. Mbak Rara sudah harus membantu Mama membuat adonan.

__ADS_1


"Kita harus menyelidiki Mbak Siti secepatnya!" ucapku pada Noura. Aah, kemana dia? dia sudah menghilang lagi.


Bersambung.


__ADS_2