NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Kehebohan di kelas


__ADS_3

"Pak, izin ke toilet ya?" seorang siswi yang bernama Astrid mendekatiku dan


mohon izin. Dia menggandeng seorang temannya yang bertubuh jangkung yang aku lupa namanya. Aku mengangguk, mengiyakan.


Aku masih asyik memberikan materi. Beberapa siswa nampak menyimak dengan antusias, beberapa lainnya menguap, menahan kantuk. Hmm, sepertinya aku harus mulai memberikan intermezo. Intermezo. Intermezo yang kuberikan adalah memberikan jeda pada para siswa untuk mendengarkan musik selama 4 atau lima menit. Kubiarkan para siswa merilekskan pikiran mereka dengan mendengarkan lagu sambil bernyanyi atau bersenandung. Dan sejauh ini cara tersebut cukup efektif. Intermezo dengan mendengarkan musik kepada siswa sangat disukai dan bisa membuat mereka bersemangat kembali. Tentu saja, volume yang kupasang tidak terlalu keras, khawatir bisa mengganggu kelas lain.


Lantunan lagu "Sunset di Tanah Anarki" milik Superman Is Dead berhasil menghidupkan suasana kelas. Suntuk dan kantuk mulai lenyap. Kedua siswi yang tadi izin ke toilet masuk ke dalam kelas. Semuanya nampak biasa saja. Beberapa menit sebelum lagu berakhir, tiba-tiba terdengar suara teriakan.


"Iiiih, serem...Takut....Takut!" ujar seorang siswi yang ada di pojok dekat jendela. Entah apa yang dilihatnya. Siswi itu nampak menutupi wajahnya. Entah apa yang dilihatnya.


"Kenapa, Din?" tanya Astrid. Posisi tempat duduk Astrid berada di depan tempat duduk siswi yang sedang ketakutan.


"Aaaah, pergi, pergi..." Teriakan siswi itu makin keras.


"Pak, Dina kumat lagi Pak. Dina pasti melihat sesuatu Pak," ujar David, Sang Ketua Kelas.


Aku bergegas mendekati Dina. "Kenapa, Dina? kamu lihat apa? kenapa kamu ketakutan?"


Wajah Dina memucat. Sorot matanya terlihat begitu ketakutan. Teriakannya makin histeris. Dina bergerak mundur dan menggeser kursi tempat duduknya.


" Din, lo kenapa sih? ini gw Astrid sama Nadya, lo lihat apa sih? kenapa melihat kita berdua, lo jadi ketakutan gitu?" Astrid mendekati Dina, mencoba memeluk bahu gadis itu untuk menenangkan.

__ADS_1


"Aaah, pergi! pergi! jangan dekat-dekat. Itu bukan Nadya! itu bukan Nadya!" Dina berteriak makin histeris.


Suasana kelas makin heboh. Dina bukan cuma berteriak histeris, tapi juga menangis ketakutan. Anak-anak di kelas membentuk posisi mengelompok. Mereka terlihat panik.


"Dina pasti lihat sesuatu. Dia kan memang sensitif sama penampakan. Dan yang dia lihat itu biasanya yang serem-serem," celetuk seorang siswa yang duduk di sebelah David.


"Itu bukan Nadya Pak! itu bukan Nadya! serem banget pak! saya takut! tolong usir dari sini Pak! tolong usir!" Dina memohon dengan terisak. Keringat dingin membanjiri pelipis dan dahinya. Ya Allah, kasihan sekali anak ini, pasti ketakutan sekali! tapi apa yang membuat dia begitu ketakutan? aku tengok Nadya. Tidak ada keanehan pada siswi bertubuh jangkung itu. Biasa saja.


"Tenang, Din. Istighfar! kamu hanya salah lihat. Tidak ada yang menyeramkan di sini," aku mencoba menenangkan Dina.


"Iya Din, lo lihat apa sih? lo lihat gue kayak lihat setan!" ucap Nadya.


"Apa Nadya segitu nyeremin di mata lo ya Din? Nad, lo mending besok-besok pake topeng, deh!" gurau Astrid.


...****************...


"Kamu kenapa Din? kamu lihat apa tadi? coba cerita sama Bapak," tanyaku.


Dina sudah siuman. Cukup lama juga dia pingsan. Wajahnya masih pucat. Ekspresinya mulai tenang meskipun masih nampak ketakutan.


"Yang saya lihat tadi memang bukan Nadya, Pak. Saya tidak bohong. Nadya memang tadi ke toilet bersama Astrid. Tapi Begitu mereka kembali ke kelas, yang saya lihat Astrid berjalan beriringan dengan sosok wanita berwajah seram. Matanya melotot ke arah saya, wajahnya penuh darah. Giginya bertaring dan rambutnya panjang sampai ke bawah. Demi Tuhan Pak, yang saya lihat bukan Nadya."

__ADS_1


"Iya, Din. Bapak percaya. Kamu minum dulu ya, biar tenang. Maaf apa kamu memang bisa melihat makhluk halus?"


Dina mengangguk. Bu Mirda, guru BK merangkap wali kelas Dina datang dan mengabarkan kalau orangtua Dina akan segera menjemput.


"Mama kamu sedang dalam perjalanan ke sini, Din. Tadi David yang mengabarkan ke Mama kamu kalau kamu pingsan di kelas. Kamu istirahat ya! banyak zikir dan dengar murottal begitu sampai di rumah," ujar Bu Mirda.


"Pak Bayu. Tadi saya juga melihat ada sosok wanita bule di dalam kelas. Cantik sekali. Penampilannya seperti Noni Belanda tempo dulu. Dia duduk di meja guru, kadang berdiri di depan kelas. Tapi dia terlihat ramah dan tidak menyeramkan, Pak!" ucap Dina.


"Sudah Din. Kamu gak usah ingat-ingat lagi apa yang kamu lihat di ruang kelas tadi. Banyak zikir ya, Din!" pinta Bu Mirda.


Aku hanya tersenyum. Pasti Noura yang dilihat oleh Dina. Untung Dina tidak pingsan melihat Noura. Tapi kemana Noura saat Dina histeris di kelas tadi ya? dan sekarang dia juga belum muncul di hadapanku.


"Dina memang sering begitu, Pak Bayu. Kalau dalam kondisi datang bulan, dia sering melihat kenampakan. Bahkan pernah beberapa kali kesurupan," ujar Bu Mirda.


"Ooh. Kasihan juga ya Bu. Tadi dia kelihatan ketakutan sekali. Yang dia lihat bukan Nadya, katanya.Tapi sosok menyeramkan."


Obrolanku dan Bu Mirda terhenti ketika orangtua Dina datang menjemput. Aku pun bersiap menuju ruang guru. Seketika aroma golden rose datang mendekat.


"Hmmm...Wangi banget ya. Parfum siapa nih?" ucap Bu July.


"Iya nih, seger banget baunya. Hayo ngaku, siapa yang pake parfum ini?" sambung Bu Anggi.

__ADS_1


Lagi-lagi semua heboh dengan aromanya Noura. Aroma segar yang bikin betah. Noura duduk dengan anggun di kursiku. Wajahnya tersenyum sambil memandangi sekeliling. Aah, untung saja Bu Anggi tidak membawa Rizky anaknya. Kalau ada Rizky pasti akan heboh, karena dia bisa melihat Noura. Mendadak aku cemas, khawatir rekan-rekan guru di sini juga ada yang bisa melihat Noura.


Bersambung.


__ADS_2