NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Apa yang terjadi dengan keluarga Van Kemmers?


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan keluarga Van Kemmers? tadi kamu mengatakan mereka sekeluarga tewas terbunuh?" tanyaku sambil melirik ke arah Noura.


"Segala informasi tentang keluarga mereka ada di sini, Bang!" Jordan menunjukkan padaku sebuah buku catatan berukuran besar ditutupi dengan cover warna kelabu tua.


"Sepertinya ini adalah peninggalan arsip tentang peristiwa yang menimpa keluarga Van Kemmers. Saya melihatnya sekilas tapi tidak membacanya sampai habis. Sepertinya ini arsip-arsip yang dikumpulkan dari surat kabar yang terbit pada masa itu."


Bergegas aku mengambil buku catatan itu dan membukanya. Benar saja. Isinya merupakan jurnal tentang peristiwa yang menimpa keluarga Van Kemmers. Mataku terfokus pada salah satu tulisan kecil di pojok sebelah kiri halaman buku tersebut. Di situ tertulis, Rueben Williams Winhern.


"Apa jurnal ini dikumpulkan oleh Opa Rueben?" tanyaku.


"Ya betul. Opa Rueben mengumpulkan berita tentang keluarga Van Kemmers dari surat kabar yang terbit pada zaman itu. Berita tentang peristiwa tragis yang menimpa keluarga Van Kemmers benar-benar menghebohkan pada waktu itu. Menyita perhatian publik. Dan Opa Rueben mengumpulkan arsip tentang peristiwa yang menimpa keluarga Van Kemmers sebagai bentuk penghormatan untuk mereka. Mengingat mereka adalah teman sekaligus tetangga yang baik.


"Mereka dibunuh oleh siapa?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Seorang penjahat yang bermaksud ingin menguasai lahan perkebunan karet milik keluarga Van Kemmers. Berita lengkapnya ada di lembaran selanjutnya, Bang! saya juga belum baca sampai tuntas, karena jujur saya kurang tertarik dengan berita kriminal," Jordan mempersilahkanku untuk membuka lembaran berikutnya.


Wow...Ini lengkap sekali! aku bisa menebak Jordan Winhern pasti memiliki hati yang lembut. Sebagai seorang seniman, Jordan pasti memiliki perasaan yang halus dan mudah tersentuh. Dan pastinya kurang tertarik dengan hal-hal yang bersifat sadis dan mengandung unsur kekerasan.


Aku mulai fokus pada lembaran-lembaran yang tertata rapih di buku itu. Isinya berupa berita-berita dari koran jadul di tahun 1930 an. Dan Headline berita itu memuat tentang tragedi pembunuhan yang menimpa keluarga Van Kemmers. Aku terus membaca isi dari berita utama itu. Pelaku pembunuhan keluarga Van Kemmers adalah Johans Alois, seorang mantan residivis yang bermaksud ingin menguasai surat-surat tanah perkebunan milik keluarga Van Kemmers. Dan cara yang dilakukan adalah dengan menculik keluarga Van Kemmers yang terdiri dari Adrianus Van Kemmers lalu istrinya yang bernama Helena adalah Van Kemmers, kemudian kedua anaknya Sophia dan Benjamin. Lalu ada empat anggota keluarga lainnya yang juga menjadi korban yaitu pasangan suami istri Frederic dan Alida De Vries yang diketahui merupakan saudara ipar dari Adrianus Van Kemmers beserta kedua anak mereka Marie dan George.


Mereka semua diculik saat makan malam, tepatnya sehari sebelum malam natal. Tanggal 24 Agustus 1930. Johans Alois dibantu dengan keempat Centengnya membawa enam orang keluarga Van Kemmers ke suatu tempat untuk dihabisi dengan cara ditembak satu persatu.


Tepian Kali Pesanggarahan menjadi saksi kekejian Johans Alois ketika mayat-mayat keluarga Van Kemmers ditimbun dengan cara ditumpuk satu satu ke dalam sebuah lubang di tepian Kali Pesanggarahan. Mendadak aku merinding membayangkannya. Benar-benar sadis! saking fokusnya aku membaca berita itu, aku sampai tidak menyadari kalau Noura sudah duduk di dekatku. Ekspresinnya nampak lain. Perpaduan antara sedih dan geram menahan amarah.


Aku terkejut. Ekspresi wajah Noura benar-benar lain. Tidak seperti yang biasa kulihat. Aura kemarahannya jelas-jelas terlihat seperti kilatan api yang siap membakar apa saja.


"Tenanglah. tenangkan emosimu!" bisikku sambil berusaha menenangkannya.

__ADS_1


"Sekarang terkuak semuanya. Apa yang selama ini membuatmu penasaran sudah menemukan jawabannya. Kamu harus ikhlas dan sabar!"


"Abang bicara sendiri atau bicara dengan siapa, Bang?" tanya Jordan yang sedang asyik membaca buku tentang komposer klasik.


"Ooh...Tidak ada.Sorry, aku hanya begitu menghayati kisah keluarga Van Kemmers yang kubaca. Aku memang seperti ini kalau sudah terbawa perasaan, sering mengungkapkannya sendiri secara verbal," jawabku. Tidak mungkin aku mengatakan padanya kalau aku sedang menenangkan Noura, hantu Noni Belanda yang merupakan anak dari keluarga Van Kemmers.


"Ooh, kukira kenapa, Bang!"


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Tak kusangka, secepat itu waktu berlalu. Menelusuri jejak masa lalu lewat jurnal dan album foto membuatku tak sadar telah menghabiskan banyak waktu.


Teringat akan beberapa proposal kegiatan di laptop yang belum kurapihkan. Tadinya aku berencana tidak akan semalam ini di rumah Jordan. Tapi tak apalah. Demi Noura, aku rela menghabiskan waktuku. Lagipula besok kan jadwal PTS, dan sepertinya aku tidak ada jadwal mengawas, jadi bisa datang agak siang.


Isakan tangis Noura makin kencang terdengar di telingaku. Dia mulai menggeram lagi. Beberapa kertas dan album foto berterbangan. Sofa dan meja bergerak sendiri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2