
"Mari Nona ikut saya..." Sudarman membawaku menuju pintu samping. Benar saja, suara langkah kaki dan teriakan terdengar lagi dari halaman depan. Darman memintaku untuk bersembunyi. Kami berdua jongkok di belakang rimbunan pohon. Orang-orang itu nampak menyisir setiap ruangan. Aku takut sekali.
"Akhirnya kami berhasil keluar. Sudarman membawaku ke dekat sungai kecil yang ada di seberang rumah. Kata dia, untuk sementara aku harus bersembunyi dulu di gubuk kecil di pinggir sungai itu. Jaraknya kira-kira 700 meter dari rumahku. Itu tempat yang biasa aku datangi untuk memancing."
"Menurut informasi dari Sudarman, Johans Alois adalah seorang tuan tanah yang kejam dan serakah. Dari dulu, dia memang punya dendam kesumat dengan kakekku. Dia juga seorang pegawai Herverman sama seperti kakekku. Setelah masa kerjanya di Herverman selesai, Kakek mendapatkan pembagian tanah di wilayah Tjibinung (Cibinong). Perlahan-lahan, Kakek mulai membangun perkebunan kecil-kecilan, beliau juga mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan Kereta Api."
"Aksi korupsi Johans Alois diketahui oleh Kakek. Johans melakukan penggelapan tanah di mana-mana, hingga akhirnya pimpinan beliau pada saat itu mengetahui dan memecat Johans. Tidak hanya itu, seluruh asetnya disita dan dia dijebloskan ke penjara."
"Johans menuduh kakek yang telah melaporkan tindak kejahatannya. Selepasnya dari tahanan, dia bermaksud ingin membalaskan dendamnya. Tapi sayang, kakekku sudah kembali ke Harlingen."
"Dia menyangka bahwa tanah yang dimiliki Kakek di Tjibinung adalah tanah miliknya yang telah disita. Dan dia bermaksud untuk merebutnya kembali."
"Berkali-kali dia menteror dan mendatangi Papa di perkebunan. Memaksa Papa untuk menyerahkan surat tanah itu. Tapi Papa tidak mau, hingga akhirnya dia benar-benar datang dan menculik seluruh keluargaku."
"Sudarman sudah bolak-balik melaporkan ke Veld Politie ( polisi lapangan) Sampai kabar terakhir yang kudengar, aparat polisi telah melakukan pencarian terhadap keluargaku."
"Hampir tiga hari lamanya aku berada di tempat persembunyian. Keadaanku semakin lusuh. Aku tidak mandi dan berganti pakaian berhari-hari. Menurut informasi dari Sudarman, anak buah Johans masih menyebar di sekitar rumahku. Mereka sempat beberapa kali bolak-balik ke rumah. Entah apa tujuannya? mencari surat tanah itu ataukah mencari keberadaanku? aku benar-benar takut."
__ADS_1
"Suatu hari aku benar-benar tidak kuat lagi. Sudah hampir dua hari ini, Sudarman tidak datang ke gubuk. Entah apa yang terjadi dengannya? perutku lapar sekali. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke rumah."
"Berharap situasi sudah aman. Mengendap-mengendap aku berjalan. Saat itu hari menjelang sore. Kepalaku pusing dan tubuhku demam. Aku ingin cepat sampai di rumahku."
"Begitu sampai di rumah. Aku segera menuju ke tempat ini" Noura menunjuk gudang belakang ini. Aku berharap, masih ada Nimah dan Sadeli di paviliunnya. Kupanggil mereka. Mereka keluar dan sangat terkejut melihatku."
"Kukatakan pada Nimah, aku tidak kuat lagi. Aku kelaparan dan aku ingin mandi. Tubuhku juga demam dan pusing."
"Nimah memintaku untuk segera bersembunyi lagi. Dia bilang, anak buah Johans masing bolak-balik ke rumahku. Mereka bermaksud untuk mencari surat tanah itu. Mereka sangat licin dan pandai mengelabui polisi untuk bisa terus memantau rumah ini."
Johans terkenal sangat kejam dan bengis. Nimah dan Sadeli bermaksud ingin pulang ke rumah mereka di Tjinere (Cinere) untuk sementara, tapi mereka mengkhawatirkan keadaanku."
"Sudarman sudah sejak tiga hari yang lalu tidak datang ke sini," begitu kata mereka. Biasanya dia datang untuk mengecek situasi rumah dari kejauhan."
" Dengan ditemani Nimah dan Sadeli, aku putuskan untuk masuk ke dalam rumah. Kondisi dalam rumah sudah sangat kacau balau. Seluruh perabotan dan berkas-berkas di dalam lemari sudah porak-poranda."
"Seketika aku teringat mereka. Wajah-wajah ketakutan dan juga teriakan dari Mama, Tante Alida, Sofia, Marie dan George juga Benjamin. Dan juga wajah Papa dan Omku yang dipukul dan ditodong pistol."
__ADS_1
"Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah berhari-hari tidak tersentuh air dan sabun. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku makan. Nikmat sekali rasanya, setelah berhari-hari di gubuk aku hanya makan seadanya."
"Di dalam gubuk, aku tidak berani keluar karena hampir setiap hari hujan. Darman juga melarangku untuk keluar dari gubuk. Dia pergi pada pagi hari ke perkebunan dan kembali pada saat menjelang sore untuk membawakanku makanan. Tapi entah mengapa sudah dua hari ini dia tidak datang."
Bersambung.
Mohon likenya ya Guys..Terima kasih.
Keterangan :
Pada masa Hindia Belanda terdapat bermacam-macam bentuk kepolisian, seperti veld politie (polisi lapangan) , stands politie (polisi kota), cultur politie (polisi pertanian), bestuurs politie (polisi pamong praja), dan lain-lain.
Pada waktu itu diterapkan pembedaan jabatan bagi bangsa Belanda dan pribumi.
Pribumi tidak diperkenankan menjabat hood agent (bintara), inspekteur van politie, dan commisaris van politie. Untuk pribumi, selama menjadi agen polisi diciptakan jabatan seperti mantri polisi, asisten wedana, dan wedana polisi.
Kepolisian modern Hindia Belanda yang dibentuk antara tahun 1897-1920 adalah merupakan cikal bakal dari terbentuknya Kepolisian Negara Republik Indonesia saat ini.
__ADS_1