
"Mengapa tiba-tiba kau ingin bertanya tentang mereka?" Noura menatapku aneh.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya begini, aku berkenalan dengan seseorang di sekolah musik La Vita. Dia seorang pengajar di kelas biola. Dia pernah tampil di atas panggung waktu acara pembukaan dan penutupan lomba aransemen lagu yang kuikuti bersama murid-muridku. Permainan biolanya sangat bagus. Dia membawakan lagu klasik opera dengan sangat memukau. Dia bernama Jordan Winhern. Aku berusaha menebak-nebak. Mengapa nama belakangnya sama dengan nama tetanggamu itu. Apa jangan-jangan mereka masih ada hubungan?"
"Keluarga Winhern sudah meninggalkan negara ini setahun setelah peristiwa Gedoran terjadi. Saat itu, terjadi peristiwa yang menakutkan di sini. Beberapa keluarga Belanda mendapat ancaman dan teror. Tidak sedikit dari mereka yang tewas."
"Peristiwa Gedoran?" tanyaku.
"Ya. Aku belum sempat bercerita padamu. Setelah kematian Frankie, anak kedua mereka akibat ditembak tentara Nippon, keluarga Winhern kembali ke Holland. Mereka menetap di sana cukup lama sampai situasi benar-benar aman. Barulah setelah Indonesia merdeka, mereka sekeluarga kembali lagi ke sini. Mereka punya beberapa aset di sini, berupa tanah dan perkebunan.
"Tuan Frans Winhern adalah teman baik papaku. Dulu dia juga bekerja di Herverman, hanya saja mengajukan pensiun lebih dulu karena ingin fokus mengurus usaha perkebunannya. Usianya beberapa tahun lebih tua di atas papaku. Dia berasal dari Amsterdam, memiliki lima orang anak."
"Istrinya yang bernama Nyonya Bertha juga dekat dengan mamaku. Dia sangat senang memasak. Dan dia sering memberikan kami kue-kue buatannya sendiri."
"Saat musibah yang menimpa keluargamu terjadi, keluarga Winhern sedang tidak berada di Depok? aku masih ingat ceritamu tentang mereka," aku merespon cerita Noura.
"Ya. Mereka sedang berada di Bandung, mengunjungi anak sulung mereka yang tinggal di sana."
__ADS_1
"Ketika mereka kembali ke Depok, dan mengetahui peristiwa tragis yang menimpa keluargaku, Tuan Frans mengurus penguburanku. Bersama dokter Hans, dia bolak-balik ke rumah ini, mengantar beberapa petugas polisi. Aku terus berusaha memanggil Tuan Frans untuk bertanya padanya di mana keluargaku. Tapi selalu tidak bisa. Aku tetap sendiri di rumah ini. Hingga akhirnya Nippon datang, terjadi huru-hara. Begitu mencekam dan menakutkan. Aku hanya bisa menyaksikan tentara bertubuh pendek dan bermata sipit itu berjalan di depan rumahku menyeret dan menyiksa beberapa warga Belanda, termasuk dokter Hans."
"Apa yang terjadi dengan peristiwa Gedoran?" aku bertanya lagi pada Noura.
"Sangat menakutkan. Masih dalam suasana kemerdekaan, tahun 1945, terjadi aksi brutal yang dilakukan sekelompok laskar pemuda . Mereka menggedor pintu rumah orang-orang yang dianggap sebagai pengikut Belanda dan juga keluarga Belanda untuk melakukan aksi penjarahan. Tidak hanya itu, mereka juga menyiksa dan menyakiti warga Belanda. Mereka menculik beberapa keluarga dan meyekapnya di suatu tempat. Mereka menggedor pintu sembari berteriak, "Hey, anjing-anjing Belanda, keluarlah!!!"
"Mengapa tidak ada perlawanan?" tanyaku.
"Jumlah mereka sangat banyak. Tidak sebanding dengan jumlah anggota keluarga Belanda yang mereka datangi. Mereka juga membawa senjata tajam dan melakukan penggedoran secara tiba-tiba di saat semua orang sedang lengah."
Sepertinya aku memang harus banyak membaca lagi artikel dan buku-buku sejarah. Penuturan Noura tentang peristiwa Gedoran membuatku penasaran ingin mengetahui lebih banyak lagi.
"Aku hanya bisa menyaksikan itu semua tanpa bisa menolong. Ingin rasanya bisa menyelamatkan mereka, tapi apa dayaku?"
"Aah, aku masih ingat. Kamu pernah mengatakan kalau Tuan Frans berhasil kembali lagi ke sini setelah Indonesia merdeka?"
"Ya. Mereka berhasil melarikan diri ke pelabuhan dan kembali ke Holland. Mereka termasuk beruntung, karena bisa menyelamatkan diri, meski harus kehilangan Frankie. Dan mereka pikir kondisi Hindia Belanda sudah aman setelah Nippon pergi, tapi ternyata tidak...Tepat tiga bulan setelah negeri ini merdeka, terjadilah peristiwa mengerikan itu. Perusakan dan pembantaian terhadap keturunan dari budak Cornelis Chastelein dan juga warga Belanda asli yang menetap di Depok."
__ADS_1
"Setelah peristiwa Gedoran, aku tidak lagi mendengar kabar tentang keluarga Winhern. Aku tidak tahu, apakah mereka selamat atau tidak dalam peristiwa itu."
Bersambung.
Keterangan :
Keberadaan komunitas yang bernama Kaum Depok tidak terlepas dari seorang tuan tanah yang bernama Cornelis Chastelein. Beliau memiliki tanah yang luas di Depok dan Lenteng Agung. Untuk mengelola tanahnya, beliau mendatangkan 150 budak yang berasal dari Bali, Makassar, dan wilayah Indonesia timur lainnya.
Para bekas-bekas budak Cornelis Chastelein menetap di Depok dan beranak pinak sampai memiliki keturunan. Keturunan-keturunan bekas budak Chastelein ini memiliki gaya hidup seperti orang Belanda. Mereka menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa sehari-hari, makan di meja makan, menggunakan sendok dan pisau ketika makan, mengenyam pendidikan barat, dan menganut agama Kristen Protestan. Karena itulah, orang-orang setempat menyebut mereka "Belanda Depok".
Penduduk setempat yang tinggal di kampung-kampung tak jauh dari orang Belanda Depok itu tinggal memiliki inferiority complex terhadap mereka. Ketika berpapasan dengan orang Belanda Depok, mereka akan membungkuk dan mengucapkan "tabek tuan", "tabek nyonya", "tabek nona", dan "tabek sinyo". Ketika penduduk setempat melihat orang Belanda Depok memakai topi, mereka akan melepasnya dan meletakkanya di depan dada sambil bungkuk dan berucap "tabek".
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, terjadi kekacauan di beberapa daerah. Para pemuda-pemuda bersenjata mulai menyerang orang-orang yang dahulunya pernah bekerja sama dengan Belanda. Tidak hanya orang Belanda saja, tetapi juga orang Indo dan Tionghoa. Peristiwa ini dikenal sebagai Masa Bersiap.
Depok tidak luput dari peristiwa ini. Masa Bersiap di Depok dimulai pada tanggal 7 Oktober 1945 ketika penduduk setempat melarang pedagang untuk berjualan kepada orang Eropa dan Kaum Depok. Dua hari berselang, para gerombolan-gerombolan mulai merampok rumah-rumah lima keluarga di Depok yang diduga memiliki hubungan dengan Belanda.
Puncaknya terjadi pada tanggal 11 Oktober 1945. Para gerombolan yang terdiri dari 4000 orang tidak hanya menyerang rumah milik Kaum Depok dan orang Eropa, merusak barang-barang milik mereka, dan merampok, tetapi juga melakukan tindakan pembunuhan. Bahkan ada satu keluarga yang dibantai yaitu keluarga De Bruin. Mayat-mayat mereka kemudian dibuang ke sungai.
__ADS_1
Sumber : Bearita.com