
"Eeh, copot..." Ya ampun Mas, kaget saya. Saya kira siapa. Maaf saking sedang fokusnya, saya sampai tidak sadar kalau ternyata ada yang memanggil saya," Mbak Siti nampak gelagapan.
"Mbak Siti, ngapain tengah malam begini memandang keluar jendela? Sedang lihat apa sih?" tanyaku.
"Anu....Saya tadi kegerahan Mas. Jadi saya buka jendela dapur, cari angin," jawabnya dengan gugup.
Cari angin tapi kok ekspresi wajahnya mengerikan begitu sih? Sorot matanya seperti sedang mengamati sesuatu dengan serius. Sepertinya aku harus menyelidikinya, ini tidak bisa dibiarkan.
"Saya permisi, Mas," dengan terburu-buru Mbak Siti segera berlalu dari hadapanku. Aku jadi makin penasaran. Kudekati jendela dan mulai mengamati sekeliling halaman samping. Tidak ada apa-apa. Apa yang dilihat Mbak Siti tadi ya? Apa jangan-jangan dia melihat sosok tak kasat mata di rumah ini? tiba-tiba aku merinding.
Aku pun kembali ke kamar. Kemana Noura? dia sudah menghilang dari kamarku. Aah, mungkin dia hanya keluar sebentar. Seperti yang pernah dikatakan Noura tempo hari, Mbak Siti memang aneh dan harus dicurigai. Kumatikan lampu dan mulai memejamkan mata.
****
"Aku sudah mengamatinya Bayu. Gelagatnya selalu aneh. Dia seperti sedang mencari sesuatu di rumah ini. Dan dia bisa melihatku. Beberapa kali dia mencoba untuk berinteraksi denganku, tapi aku selalu berusaha menghindar. Aku merasa tidak nyaman saat menatapnya. seperti ada kilatan energi yang melingkari tubuhnya setiap kali dia berusaha mendekatiku," tukas Noura.
__ADS_1
"Jadi, dia bisa melihatmu?" tanyaku pada Noura.
Noura mengangguk. Sore ini dia menemaniku duduk di beranda teras samping. Angin sore berhembus menerpa anak-anak rambutnya. Berkali-kali dia merapikan rambutnya. Raut wajahnya semakin membuatku gemas. Dia sangat-sangat cantik.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya.
"Belum mulai. Semester depan baru aku mulai mengajar. Kamu kangen sekolah ya? apa kamu ingin sekolah lagi?"aku mencoba meledeknya.
"Hmmm, setamat AMS, aku belum ada rencana untuk melanjutkan pendidikan lagi. Aku tidak secerdas Sophia yang tekun belajar. Jujur saja, aku tidak suka belajar. Aku lebih suka membantu Papa di perkebunan atau melukis atau melakukan hal-hal lain yang aku sukai. Aku juga tidak tahu apa tujuan hidupku. Aku tidak punya cita-cita. Aku tidak tahu aku akan jadi apa." Noura menjawab dengan pandangan menerawang.
"Papa dan Mama sangat mendukung keinginan Sophia untuk menjadi dokter. Mereka sudah menyiapkan uang yang cukup untuk biaya pendidikan Sophia. Apalagi dari keluarga kami, tidak ada yang menjadi dokter. Tentu akan sangat membanggakan jika Sophia berhasil menjadi dokter. Dan Adikku Benjamin, sudah dipersiapkan Papa untuk meneruskan usahanya. Papa melihat ada bakat dalam diri Benjamin dalam urusan bisnis. Papa bertekad untuk menyekolahkan Benjamin di Netherland sampai perguruan tinggi."
"Pertanyaanmu persis seperti Mamaku. Dulu Mama kerap memarahiku. Karena di mata Mama, aku ini anak yang paling santai, malas belajar dan sulit diatur. Kadang aku jengkel karena Mama selalu membanding-bandingkan aku dengan Sophia dan juga Benjamin."
"Tapi Papa sebaliknya. Papa nyaris tidak pernah memarahiku. Papa seolah mengerti dengan kelemahanku, kalau aku kurang cerdas dalam bidang pelajaran, aku tidak bisa dipaksa untuk belajar. Papa selalu menyemangatiku. Beliau selalu berkata, kalau suatu saat nanti aku pasti akan menemukan bakatku. Aku pasti akan menjadi anak yang membanggakan," sudut mata Noura mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maafkan aku, kamu pasti sangat sedih kalau menceritakan lagi tentang keluargamu. Meskipun jujur, aku sangat ingin mengetahuinya," tukasku.
"Tidak apa. Aku senang menceritakannya padamu," jawab Noura pelan.
"Kita kembali ke topik tentang Mbak Siti. Aku semakin penasaran. Kita selidiki yuk! aku ingin tahu apa yang ingin dia cari di rumah ini," ujarku.
"Besok malam jumat kliwon. Kita lihat nanti aktivitas dia di malam hari. Aku sempat beberapa kali melihatnya berjalan mengitari halaman belakang saat malam jumat," tukas Noura.
"Bayu, kamu di mana, Bay?" suara Mama mengejutkanku. Teriakannya yang begitu nyaring terdengar jelas sampai ke teras samping. Saat aku menoleh, pandangan mataku menangkap satu sosok yang rupanya sedang mengamatiku dari kejauhan. Postur tubuhnya sangat aku kenali. Kurus dan tinggi menjulang. Siapa lagi kalau bukan Mbak Siti.
Ngapain lagi dia di situ? tanyaku dalam hati. Sedari tadi aku duduk berdua dengan Noura di teras samping. Dan Mbak Siti mengawasi kami dari pojok jemuran. Dia berdiri di situ sambil sesekali sibuk memeras kain pel. Duh, kenapa aku bisa sampai tidak sadar ya kalau Mbak Siti ada di situ dan memperhatikan kami?
Bersambung.
Mohon like dan votenya ya Guys.. Matursuwun.
__ADS_1
Keterangan:
Algemeene Middlebare School atau AMS adalah sekolah menengah umum yang didirikan di Yogyakarta, 5 Juli 1919. Masa studi yang harus ditempuh di AMS adalah tiga tahun. Setelah Yogyakarta, pada tahun 1920, AMS juga didirikan di Bandung dan di Jakarta dan Malang pada tahun 1926.